Oleh: Mei Widiati, M.Pd.
Pernyataan para pemimpin dunia seperti Vladimir Putin dan tokoh-tokoh Barat menunjukkan satu realitas yang tak bisa diabaikan: ketegangan global saat ini berada pada titik tinggi. Inggris meningkatkan anggaran pertahanan dan menyiapkan berbagai skenario darurat, sementara Rusia menegaskan tidak memiliki niat menyerang NATO secara langsung.
Situasi ini menciptakan kondisi yang dalam teori geopolitik dikenal sebagai deterrence equilibrium—sebuah keseimbangan rapuh antara kekuatan militer dan kehati-hatian politik. Dunia tidak benar-benar damai, tetapi juga belum jatuh ke dalam perang terbuka.
Justru dalam “ruang abu-abu” inilah keputusan besar sering diambil:
- Perlombaan senjata terus meningkat
- Blok-blok kekuatan saling mencurigai
- Potensi konflik bisa meledak kapan saja
Dengan kata lain, dunia saat ini hidup dalam bayang-bayang perang—tenang di permukaan, tetapi penuh tekanan di bawahnya.
Akar Masalah: Sekulerisasi dan Kapitalisasi Geopolitik Dunia
Ketegangan ini bukan fenomena kebetulan, melainkan konsekuensi logis dari sistem global yang didominasi sekulerisme dan kapitalisme.
1. Sekulerisasi: Politik Tanpa Nilai Wahyu
Dalam sistem sekuler, agama dipisahkan dari pengambilan kebijakan. Negara bertindak berdasarkan kepentingan nasional semata, tanpa standar moral yang tetap.
Akibatnya: hubungan internasional didasarkan pada kecurigaan, tidak ada standar benar-salah yang universal, dan kekuatan militer menjadi alat utama menjaga kepentingan.
Allah SWT berfirman:
وَلَوْ اٰتَّبَعَ الْحَقُّ اَهْوَاۤءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ
“Sekiranya kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi dan seluruh yang ada di dalamnya.” (TQS. Al-Mu’minun: 71)
Ketika keputusan global didasarkan pada hawa nafsu dan kepentingan, maka ketegangan menjadi keniscayaan.
2. Kapitalisasi: Dominasi dan Perebutan Kepentingan
Kapitalisme menjadikan dunia sebagai arena kompetisi tanpa batas: negara berlomba memperkuat militer, sumber daya dan pengaruh diperebutkan, dan aliansi dibangun atas dasar keuntungan.
Ketegangan Rusia dan NATO tidak lepas dari: perebutan pengaruh, geopolitik, ekspansi kekuatan, serta kepentingan ekonomi dan energi.
Dalam sistem ini, perdamaian bukan tujuan utama, melainkan hanya jeda dari konflik.
3. Politik Deterensi: Damai yang Penuh Ketakutan
Konsep deterrence equilibrium sejatinya bukan perdamaian, tetapi: ketakutan yang saling menahan, ancaman yang terus dipelihara dan potensi perang yang selalu ada.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Janganlah kalian saling membenci, saling memutuskan hubungan…” (HR. Muslim)
Namun sistem global hari ini justru memelihara permusuhan sebagai strategi.
Solusi Islam: Membangun Perdamaian Berbasis Keadilan
Islam menawarkan pendekatan yang berbeda secara mendasar dari sistem sekuler-kapitalistik.
1. Politik Berbasis Wahyu, Bukan Kepentingan
Dalam Islam, kebijakan negara harus tunduk pada syariat: tidak boleh didasarkan pada ambisi kekuasaan, harus menjunjung keadilan, dan
menghindari konflik yang zalim.
Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَافَّةً ۖ
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan…” (TQS. Al-Baqarah: 208)
2. Hubungan Internasional Berbasis Dakwah dan Keadilan
Islam tidak membangun hubungan global atas dasar kecurigaan, tetapi: keadilan, perlindungan, dan penyebaran rahmat.
Perang dalam Islam bukan alat dominasi, tetapi jalan terakhir untuk:
- Menjaga keamanan
- Menghentikan kezaliman
3. Menghapus Dominasi Kapitalisme Global
Islam melarang eksploitasi dan monopoli:
- Sumber daya tidak boleh diperebutkan secara zalim
- Kekayaan tidak boleh dikuasai segelintir pihak
Allah SWT berfirman:
كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةًۢ بَيْنَ الْاَغْنِيَاۤءِ مِنْكُمْ ۗ
“Supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja…” (TQS. Al-Hasyr: 7)
Dengan prinsip ini, konflik akibat perebutan ekonomi dapat dicegah.
4. Kepemimpinan Global yang Menyatukan (Khilafah)
Islam menawarkan konsep kepemimpinan global yang:
- Menyatukan umat
- Menghilangkan blok-blok permusuhan
- Menciptakan stabilitas politik
Allah SWT berfirman:
اِنَّ هٰذِهٖٓ اُمَّتُكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةًۖ وَّاَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْنِ
"Sesungguhnya (agama) ini adalah agama kamu, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku." (TQS. Al-Anbiya: 92)
Khatimah
Ketegangan antara Rusia dan NATO hari ini adalah gambaran dunia yang hidup dalam ilusi damai. Keseimbangan yang ada bukanlah stabilitas sejati, melainkan jeda rapuh yang sewaktu-waktu bisa runtuh.
Akar masalahnya jelas: sistem sekuler-kapitalistik yang menjadikan kepentingan sebagai panglima dan kekuatan sebagai alat utama.
Selama sistem ini tetap mendominasi, dunia akan terus berada dalam siklus: ketegangan, perlombaan senjata, dan ancaman perang.
Islam menawarkan jalan keluar yang hakiki: sistem yang berlandaskan wahyu, menegakkan keadilan, dan menyatukan manusia dalam tatanan yang harmonis.
Hanya dengan perubahan mendasar menuju sistem Islam (khilafah), dunia dapat keluar dari “ruang abu-abu” penuh ketakutan menuju perdamaian sejati yang berkeadilan.
Wallaahu a'lam bish-showab

No comments:
Post a Comment