(Pendidik Generasi Tangguh)
Warga Gaza masih hidup dalam penderitaan. Pasca terjadinya Badai Al Aqsa 7 Oktober 2023, ratusan ribu jiwa menjadi korban, diantaranya perempuan dan anak-anak yang harusnya berada dalam perlindungan, mereka syahid dalam mempertahankan tanah waqaf kaum muslimin tersebut, tak sedikit pula dari mereka kehilangan keluarga, harta benda bahkan bagian tubuh mereka sendiri. Meski mata dunia sudah terbuka lebar terkait siapa dalang kejahatan kemanusiaan di bumi Syam tersebut, namun sampai saat ini Palestina belum ada kejelasan tentang kehidupan mereka, terombang ambing dalam pengungsian, ketakutan yang senantiasa menemani di setiap detik, suara jatuhnya bom atau rudal yang menghancurkan seketika, dan juga suara dron yang senantiasa mengintai, sungguh suatu kondisi yang sangat jauh dari kata aman apalagi merdeka. Kini, setelah tiga tahun berlalu, genosida yang dilakukan Zionis semakin menjadi. Kabar terakhir dari www.CNNIndonesia.com pada Sabtu, 14 Februari 2026 menuliskan “Bukti Israel Pakai Senjata Pemusnah Masal Buat Warga Gaza Lenyap Menguap”, dalam tulisan tersebut menjelaskan setidaknya ada sekitar 2842 warga Palestina yang hilang sejak agresi pada Oktober 2023, jasadnya tidak pernah ditemukan baik hidup maupun meninggal dunia, baru-baru ini diketahui hal tersebut akibat dari serangan bom termal dan termobarik yang digunakan oleh Zionis, efek dari ledakan bom tersebut adalah panas yang mencapai 3500 derajat celcius, ledakannya mampu membuat bangunan bisa tetap utuh tetapi menghancurkan jaringan lunak seperti tubuh manusia, tidak meninggalkan bekas kecuali darah dan pecahan kecil dari daging atau kulit manusia. Sehingga sulit untuk di identifikasi.
Penggunaan senjata ini merupakan bentuk kebiadaban modern yang ditunjukkan oleh Zionis dan sungguh tidak mengenal perikemanusiaan, Selama ini Zionis berdalih bahwa serangan dan gempuran yang dilakukan adalah bentuk serangan balasan terhadap para pejuang Gaza, dalih tetaplah dalih, faktanya semua lini disasar, dari penduduk sipil, rumah-rumah hunian, gedung-gedung pemerintahan, sekolah, rumah sakit, para dokter, perawat bahkan jurnalis, tenda pengungsian. Semua menjadi sasaran genosida yang dilakukan tanpa henti meski gencatan senjata sedang berlangsung. Telah jelas hal ini adalah pelanggaran HAM, namun tak siapapun yang mampu menghentikan kebiadaban tersebut, tidak juga PBB yang mengatakan dirinya adalah dewan perdamaian dunia. Negri-negri muslim seperi UEA, Mesir, Turky, Iran semua masih membeku dengan kepentingannya masing-masing. Omong kosong bicara perdamaian atas Palestina jika solusi yang tawarkan adalah two nation state atau pula Board Of Peace buatan Trump yang jelas-jelas berdiri di pihak penjajah Zionis. Mereka hanya membicarakan keuntungan jika rekonstruksi Gaza benar-benar dijalankan, sedangkan warga Gaza dilenyapkan tanpa bekas.
Kapitalisme Sumber Petaka
AS sebagai pendukung utama kebiadaban Zionis terhadap Palestina merupakan negara pengemban ideologi kapitalis, dalam ideologi ini segala sesuatu dinilai dari manfaat, dan mereka menyebarkan ideologinya dengan jalan penjajahan, entah itu dengan penjajahan fisik seperti yang dilakukan pada Palestina ataupun secara kebijakan terhadap negara-negar pengekor yang tidak punya daya untuk melawan perlawanan alias dalam cengkeramannya. Namun yang perlu diketahui sesungguhnya penjajahan itu tidak akan dilakukan pada negri-negri yang miskin sumber daya alam. Lantas apakah yang dimiliki oleh Gaza sampai negri adidaya AS getol menginginkan rekonstruksi Gaza yang hanya tinggal puing-puing bangunan semata. Sampai saat ini data menyebutkan bahwa Ladang Gaza Marine diperkirakan memiliki cadangan gas alam yang dapat di ekstraksi sebesar 1,6 Triliyun kaki kubik. Sedangkan perkebunan yang dimiliki Gaza memiliki hasil melimpah dari Zaitun, Anggur, Gandum, Palem, Kapas dan Rami (International _US energy Information). Jika sebagian dari permukaan Gaza telah hancur namun cadangan gas alam disana belum banyak di eksplorasi karena konflik yang tak kunjung usai. Penduduk Gaza yang tak pernah takut akan kematian dan tak mau meninggalkan Gaza menjadi penghalang bagi Zionis dan AS dalam meluaskan kekuasaannya. Mereka mencari jalan menggenosida dengan senjata terlarang agar tak ada bekas dan bukti atas kejahatan mereka, sehingga pengadilan internasional tak mempunyai bukti atas hilangnya nyawa ribuan orang tanpa dosa.
Islam Mengatur Penjagaan Jiwa Wanita dan Anak dalam Wilayah Konflik.
Islam selain agama juga merupakan sebuah ideologi yang darinya muncul aturan-aturan , termasuk diantaranya mengatur bagaimana posisi wanita dan anak-anak dalam wilayah konflik. Keduanya merupakan bagian dari penduduk sipil yang harusnya dilindungi bukan dijadikan sasaran senjata musuh. jika perempuan ingin membersamai perjuangan kaum muslimin maka baginya boleh mengambil bagiannya sebagai perawat, bagian logistik, penyemangat dan tidak menutup kemungkinan juga sebagai prajurit, tetapi jika tidak mengambil bagian-bagian tersebut maka perempuan dan anak-anak adalah manusia paling rentan yang harus diutamakan keselamatannya. Lalu siapakah yang akan melindungi muslimah di Palestina? .
Memerdekakan Palestina adalah kewajiban kaum muslimin seluruhnya, bukan hanya yang menempatinya, atau negri-negri muslim terdekatnya, tapi juga yang jauh seperti Indonesia, sangat disayangkan negri dengan penduduk muslim terbanyak ini kini berjabat tangan dengan kafir yang membumi hanguskan saudara seakidahnya. Kaum muslim seluruh dunia kini bagai anak ayam yang kehilangan induknya, mereka hidup dalam kebingungan tanpa tahu arah dan tujuan, tidak ada pemimpin global, yang menjadi junnah atau perisai dari ancaman musuh. Kini , jangankan mampu membebaskan Palestina dari penjajahan Zionis, untuk membebaskan diri dari cengkraman kapitalisme saja tak mampu. Muslim harus menyadari bahwa musuh-musuh Islam hanya takut dengan bersatunya kaum muslimin dibawah panji Laa ilaaha illallah Muhammadar Rasulullah, muslim harus memahami jati dirinya sebagai khoiru Ummah, ummatan wahidah dalam naungan daulah Khilafah yang tegak diatas manhaj kenabian. Persatuan inilah yang akan menghancurkan ideologi kapitalis dan mengembalikan marwah kaum muslimin, menjaga kehormatan perempuan dan mempertahankan generasi.
Wallahu a’lam bi showab

No comments:
Post a Comment