Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Board of Peace: Pengkhianatan Pemimpin Muslim terhadap Palestina

Sunday, February 22, 2026 | Sunday, February 22, 2026 WIB

 


Penulis: Zahra

(Pegiat Dakwah)


Manuver politik global memberi kejutan umat Islam terhadap Palestina. Munculnya BoP (Board of Peace) yang dikenalkan sebagai jalan damai untuk konflik Gaza. Pemimpin BoP ini adalah Amerika Serikat, di bawah arahan khusus Donald Trump yang faktanya merupakan penguasa adidaya yang sangat mendukung agresi penjajah Israel terhadap Palestina.


Menelisik Board of Peace


Arti dari "peace" adalah perdamaian, maka Board of Peace terdengar sangat indah. Namun demikian, kenyataannya dari istilah "perdamaian" itu tidaklah muncul keadilan. Hal ini secara fakta terjadi di Gaza. Para penjajah mengemas istilah "stabilitas", "perdamaian", "rekonstruksi" dalam upaya mengangkangi kedaulatan Palestina. Mirisnya, Indonesia malah terlibat dan menjadi salah satu anggota BoP ini. Hal ini berarti Indonesia mendukung para penjajah melakukan penjajahan gaya baru. 


Presiden Prabowo berjabat tangan dengan Donald Trump setelah menandatangani Board of Peace ini dalam Amerika Serikat Charter di Davos, Swiss pada Kamis, 22 Januari 2026. Berkaitan dengan ini Prabowo mengungkapkan optimismenya bahwa akan tercapai perdamaian di Palestina. (setkab.go.id, 22-01-2026)


Bahaya BoP


Amerika Serikat dikenal memiliki rekam jejak sebagai penjajah, sekarang menjadi pemimpin Board of Peace yang katanya "perdamaian", absurd. Jejak sejarah memperlihatkan betapa Amerika Serikat pernah melakukan kudeta dan penghancuran terhadap negeri-negeri Muslim. Beberapa korbannya yaitu, Libya, Irak, Suriah, Sudan, hingga Afganistan.


Dari awal BoP dikelola atau dipimpin oleh negeri-negeri penjajah. Amerika dan kawan-kawannya menjadi pemeran utamanya, sementara negeri-negeri Muslim hanya dijadikan "toping" atau pelengkap legitimasi. Hal ini bukan merupakan pola baru.


Catatan Kritikal terhadap BoP


Jika diteliti lebih mendalam, BoP sungguh melakukan perampasan hak-hak warga Gaza. Urusan pemerintahan di Palestina menjadi sudah tidak di tangan rakyatnya, apalagi di tangan dunia Islam, jelas tidak. Struktur Gaza pada akhirnya dikelola oleh pihak asing yang notabene mendukung penjajahan Israel terhadap Palestina. 


BoP membatasi senjata yang dimiliki oleh penduduk Palestina, termasuk Hamas dengan alasan stabilisasi. Rakyat yang terjajah diminta melepaskan senjata perlawanannya, sedangkan penjajah Israel tetap bersenjata penuh. Dalam hal ini bahkan keamanan Palestina diserahkan kepada pihak asing. Oleh karena itu, keamanan kaum Muslim ada di tangan musuhnya sendiri.


Padahal Rasulullah saw. telah bersabda:


مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ أَوْ دُونَ دَمِهِ أَوْ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ


"Siapa saja yang terbunuh karena membela hartanya maka ia syahid. Siapa saja yang terbunuh karena membela keluarganya atau membela darah (jiwa)nya atau membela agamanya maka ia syahid." (HR. At-Tirmidzi)


Betapa tidak masuk akal ketika Palestina sebagai objek "perdamaian" justru tidak dilibatkan dalam BoP ini. Padahal selama ini Palestinalah yang menjadi korban penjajahan dan genosida. Lebih miris lagi, Zionis sebagai penjajah malah masuk sebagai Anggota Dewan dalam BoP ini.


Eksistensi Israel tampak nyata dipertahankan oleh BoP ini. Negara penjajah tidak dituntut, sementara tanah Palestina yang telah dirampas oleh zionis Yahudi tidak dikembalikan.


Maka ketika pemimpin Muslim terlibat dalam BoP, hal ini terkategori pengkhianatan terhadap Palestina. Ironisnya, mereka duduk dengan zionis yang merupakan penjajah Palestina. Mereka pun berjalan dengan skema pengamanan ala penjajah. Allah Swt. telah berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ....


"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin (teman setia)...." (TQS Al-Maidah [5]: 51)


Pembebasan Sangat Dibutuhkan Palestina 


Penjajahan di sudut mana pun, termasuk Palestina sebenarnya tidak akan berakhir di lingkaran perundingan yang sangat timpang. Meski telah lama dijajah, dewan-dewan internasional yang dibentuk pihak kafir untuk kemerdekaan Palestina nyatanya tidak pernah benar-benar tulus membebaskan.


Dari semua fakta yang ada terbukti betapa solusi hakiki untuk membebaskan Palestina bukan dengan negosiasi. Satu-satunya solusi untuk mengusir penjajah zionis dari Palestina yaitu dengan jihad. Allah telah memerintahkan untuk berjihad. Allah berfirman: 


وَٱقۡتُلُوهُمۡ حَيۡثُ ثَقِفۡتُمُوهُمۡ وَأَخۡرِجُوهُم مِّنۡ حَيۡثُ أَخۡرَجُوكُمۡ ۚ 


"Perangilah kaum kafir itu di mana saja kalian temui mereka dan usirlah mereka dari tempat mana saja mereka telah mengusir kalian ...." (TQS. Al-Baqarah [2]: 191)


Apabila ratusan ribu tentara Muslim dari negara-negara Arab saja dikerahkan, tentu sudah cukup dan sangat mudah untuk mengusir zionis dari Bumi Palestina apalagi jika semua kekuatan umat bersatu. Namun sangat disayangkan, umat saat ini tidak mempunyai kekuatan global sebagai pemersatu yaitu, Khilafah. Hal inilah (Khilafah) yang bisa menyatukan semua potensi, sumber daya alam, kekuatan umat, hingga militer di seluruh dunia. Hanya Khilafah yang mampu membela dan melindungi umat di seluruh dunia, termasuk Palestina. Dengan institusi yang diwariskan oleh Rasulullah saw. inilah, Palestina dapat terbebas secara hakiki dari penjajahan. Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update