Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Islam Mengatasi Problematika Kepemimpinan

Wednesday, January 07, 2026 | Wednesday, January 07, 2026 WIB



Oleh : Sri Nawangsih

(Ibu Rumah Tangga) 


Bencana alam yang terus terjadi, khususnya di Sumatra, semakin menyingkap krisis kepemimpinan di negeri ini. Banyak pemimpin pusat hingga daerah dinilai tidak kompeten, minim empati, arogan, dan lebih sibuk membangun citra daripada mengayomi rakyat. Dalam penanganan bencana, kritik justru dibungkam, dampak musibah dikecilkan, dan laporan kinerja diklaim sepihak, sementara fakta di lapangan menunjukkan banyak warga dan relawan justru mengalami kondisi sebaliknya. Dalih keterbatasan kemampuan negara kontras dengan kenyataan bahwa kekuasaan besar tidak digunakan optimal, bahkan penetapan status bencana nasional pun enggan dilakukan.


Krisis kepemimpinan ini diakui banyak kalangan akademisi. Langkanya negarawan sejati, maraknya politisi haus kekuasaan, serta normalisasi pelanggaran etika memperparah degradasi moral bangsa. Para pemimpin gagal menjadi teladan, hidup dalam kemewahan di tengah penderitaan rakyat, sementara praktik korupsi terus meningkat hingga ke level desa. Tipisnya empati dan memburuknya integritas menunjukkan bahwa persoalan kepemimpinan bukan sekadar individu, tetapi masalah mendasar dalam sistem yang dijalankan.


Akar persoalan ini terletak pada asas sekularisme yang memisahkan agama dari kekuasaan. Ketika iman dicabut dari kepemimpinan, aturan mudah dilanggar dan diubah demi ambisi kekuasaan. Berbeda halnya jika kepemimpinan dilandasi iman dan takwa, di mana rasa takut kepada Allah menjadi kendali utama. Para pemimpin akan sadar bahwa setiap kezaliman sekecil apa pun akan dimintai pertanggungjawaban, sebagaimana ditegaskan Al-Qur’an dan peringatan Rasulullah saw. tentang beratnya amanah kekuasaan.


Keimanan dan ketakwaan inilah yang melahirkan pemimpin adil seperti Khulafaur Rasyidin. Abu Bakar ra. sangat berhati-hati terhadap harta negara, sementara Umar bin al-Khaththab ra. hidup sederhana, menangis memikirkan nasib rakyat, menindak keluarganya sendiri jika melanggar, dan menolak memanfaatkan fasilitas negara. Teladan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang adil lahir dari ketakwaan pribadi sekaligus keberanian menegakkan keadilan tanpa pandang bulu.


Namun keadilan sejati tidak cukup dengan moral individu, melainkan harus ditopang oleh penerapan hukum Allah secara menyeluruh. Syariah Islam menjamin keadilan, melindungi hak rakyat, dan mengatur kepemilikan umum demi kesejahteraan bersama, berbeda dengan sistem kapitalisme yang melahirkan kesenjangan dan bencana. Di tengah krisis kepemimpinan dan tragedi kemanusiaan yang terus terjadi, termasuk di Gaza dan Palestina, umat membutuhkan kepemimpinan bertakwa yang menerapkan syariah

 Islam secara kaffah dalam institusi Khilafah agar tercipta kehidupan yang adil dan bermartabat.


Wallahu'alam Bishawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update