Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dominasi Media Sosial Gen Z dalam Sistem Kapitalis-Sekular: Kekuatan yang Rentan Salah Arah

Saturday, December 20, 2025 | Saturday, December 20, 2025 WIB Last Updated 2025-12-19T23:47:25Z

 


Oleh: Nur Linda, A.Md.Kep. (Relawan Opini)


Generasi Z Paling Aktif Online


Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkap bahwa Generasi Z (lahir 1997–2012, usia 12–27 tahun) adalah kelompok paling dominan dalam penggunaan internet dengan kontribusi 25,54 persen dari total pengguna. Disusul Generasi Milenial (lahir 1981–1996) dengan 25,17 persen, dan Generasi Alpha (lahir 2013 ke atas) sebesar 23,19 persen (Cloudcomputing.id, /12/8/2025). Selain itu, data lain menunjukkan bahwa 90% Gen Z (18–26 tahun) menggunakan media sosial secara aktif dan menghabiskan rata-rata 5,1 jam/hari di sosial media (Kompas.id, 28/8/2025).


Bahaya Sistem Kapitalisme Era Digital Pada Gen Z


Generasi Z disebut sebagai generasi yang paling akrab dengan teknologi dan media sosial. Mereka dibesarkan di tengah era digital yang seolah menawarkan kebebasan berekspresi tanpa batas. Melalui berbagai platform seperti Instagram, TikTok, dan Twitter, mereka dapat menampilkan jati diri, ketertarikan, hingga pandangan hidup kepada publik. Pemerintah juga menganggap Gen Z di media sosial sebagai potensi besar untuk partisipasi politik dan pembangunan, mendorong mereka untuk aktif bersuara dan terlibat. 


Sayangnya, faktanya media sosial tidak hanya berfungsi sebagai wadah ekspresi, tetapi juga menjadi arena kompetisi yang berlangsung secara tidak kasat mata. Representasi standar kecantikan yang nyaris sempurna, pameran gaya hidup glamor, serta tuntutan untuk selalu tampil menarik telah menciptakan tekanan psikologis yang signifikan bagi Gen Z. Situasi ini mendorong banyak individu merasa harus mengikuti tren demi memperoleh penerimaan sosial, meskipun hal tersebut sering kali bertentangan dengan keinginan dan kenyamanan pribadi.


Selain itu, banyak juga perilaku yang salah tapi malah dianggap sebagai sesuatu yang gaul, trendy dan modern. Mengubah perilaku negatif menjadi perilaku yang seolah positif. Sebut saja diantaranya perkataan kasar yang menjadi tanda gaulnya seseorang, pakaian trendy dan modern padahal menampakkan aurat dan perilaku lain semisalnya. Hal ini tentunya merupakan gambaran bahwa potensi dominasi sosial media malah menjadi bencana bagi pengguna dan lingkungannya. 


Jika kita telisik, banyaknya penyimpangan yang terjadi tak lain adalah hasil dari pemikiran sistem saat ini yaitu sistem kapitalis-sekular. Sistem ini menjadikan menfaat atau materi sebagai tujuan utama suatu perbuatan. Maka selama bermanfaat menurut pandangannya, semisal mendapatkan untung banyak, dianggap gaul oleh lingkungan, bisa memuaskan nafsu dan rasa penasarannya, maka semua hal bisa saja dilakukan tanpa memandang baik buruknya.


Solusi Islam Pada Era Digital Gen Z


Islam memandang bahwa penyelamatan generasi tidak cukup hanya dengan menuntut setiap orang agar berperilaku baik secara pribadi, tetapi harus melalui perubahan cara berpikir. Pola pikir sekuler yang mendominasi ruang digital harus digantikan dengan pola pikir Islam yang menjadikan aqidah Islam sebagai dasar berpikir, bersikap, dan bertindak.


Era digital dan media sosial adalah realitas yang tidak dapat dihindari oleh Generasi Z. Islam tidak memusuhi teknologi, tetapi mengatur pemanfaatannya agar sesuai dengan tujuan penciptaan manusia, yakni beribadah kepada Allah dan membawa maslahat bagi kehidupan. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Solusi Islam terhadap Generasi Z dalam pemanfaatan media sosial secara positif yaitu :

1. Membangun akidah Islam sesuai syariat

2. Menguatkan standar halal–haram

3. Meluruskan tujuan hidup yang sesungguhnya

4. Mengarahkan media sosial sebagai sarana dakwah dan kebaikan (Amar Ma’ruf Nahi Munkar)


Maka dari sini, langkah-langkah yang mesti dilakukan yaitu: Pertama, Gen Z harus disadarkan bahwa Islam bukan sekadar agama ritual melainkan ideologi (mabda’) yang mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk pemanfaatan teknologi dan ruang digital. Dengan pola pikir Islam, media digital dapat digunakan sebagai sarana dakwah, edukasi, dan amar ma’ruf nahi munkar, bukan sekedar alat eksistensi diri. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh).” (QS. Al-Baqarah: 208)


Kedua, aktivisme Gen Z perlu diarahkan dari gerakan simbolik menuju perjuangan ideologis dan sistemis. Islam mengajarkan bahwa berbagai masalah manusia seperti kerusakan moral berakar pada sistem kehidupan yang rusak. Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan harus bersifat menyeluruh dan berbasis syariat Islam. Rasulullah SAW. bersabda: “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)


Ketiga, diperlukan sinergi antara keluarga, masyarakat, dan negara. Keluarga berperan menanamkan aqidah dan tsaqafah Islam sejak dini, masyarakat melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan negara bertanggung jawab menciptakan sistem pendidikan, media, dan teknologi yang berlandaskan Islam. 


Tanpa peran negara, hegemoni nilai sekuler akan terus mendominasi ruang digital. Allah SWT berfirman: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.” (QS. Ali Imran: 104)


Dengan penerapan Islam secara kaffah, Gen Z tidak hanya akan menjadi generasi yang melek teknologi saja, tetapi juga generasi yang berkepribadian Islam, memiliki arah perjuangan yang jelas, serta mampu menjadi agen perubahan peradaban menuju kehidupan yang diridhai Allah SWT. dan mampu memanfaatkan media sosial dengan hal-hal positif. ,Wallahua'lam bishshawaab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update