Oleh: Astina
Aksi demonstrasi, unjuk rasa, hingga berbagai aspirasi yang ramai disuarakan masyarakat di media sosial belakangan ini mencerminkan cara generasi Z (Gen Z) merespons tekanan. Psikolog Anak dan Remaja, Anastasia Satriyo, M.Psi., Psikolog, menilai Gen Z memiliki mekanisme tersendiri dalam menghadapi tekanan, yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Menurut Anastasia, tampak jelas dalam aksi demonstrasi maupun ekspresi politik mereka di media sosial. Alih-alih melakukan tindakan destruktif, Gen Z memilih berbicara dengan cara khas mereka, yakni menggunakan media sosial, meme, poster kreatif, hingga estetika visual.
Selain itu, Gen Z juga kuat dalam membangun koneksi dan solidaritas, baik secara online maupun offline. Dalam aksi demonstrasi, mereka saling berbagi informasi terbaru, menjaga sesama dengan logistik seperti minuman, masker, hingga susu beruang, serta menyemangati dengan humor. Gen Z juga mampu menetapkan batas secara damai. Jika generasi sebelumnya cenderung diam (freeze) atau menyerang (fight), Gen Z justru menegaskan bahwa aksi mereka adalah bentuk protes damai, bukan provokasi.
Aksi demonstrasi yang dilakukan masyarakat khususnya para pemuda berakhir anarkis, hal ini terjadi karena adanya provokasi dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Padahal para pemuda saat ini sudah terbuka pemikirannya, menganggap bahwa mereka tidak harus diam, mereka harus bergerak, menyampaikan aspirasi, keluhan, dan kritik terhadap pemerintahan. Banyak pemuda yang sudah melakukan aksi kritik melalui media sosial, turun lansung ke jalan untuk melakukan orasi dengan cara yang damai, tetapi aksi ini berlanjut dengan anarkis, merusak property rumah orang lain, mengambil barang orang lain dan merusak infrastruktur negara. Hal ini seharusnya tidak berakhir ricuh.
Akibat dari demonstrasi yang ricuh ini juga menyebabkan korban meninggal, yaitu seorang ojol yang masih muda berumur 21 tahun. Terlebih lagi hal itu terjadi karena akibat digilis oleh kendaraan taktikal Brimob saat Aksi 28 Agustus. Hal ini menimbulkan kemarahan masyarakat, khususnya mahasiswa yang menuntut agar kasus ini ditindak lanjuti. Pemuda hari ini sudah menunjukkan kesadaran untuk melawan kedzaliman ditengah kehidupan yang individualis. Para pemuda memang seharusnya memiliki kesadaran dalam melihat kedzaliman yang terjadi, termasuk kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah. Karena sistem saat ini merupakan sistem politik demokrasi.
Islam memberikan arah yang jelas bagi naluri ini. Manusia diciptakan dengan fitrah berupa ghorizah (naluri) yang harus dipenuhi sesuai tuntunan wahyu, bukan sekadar lewat teori psikologi modern. Dorongan untuk melawan kezaliman hanya akan menemukan jalannya jika dipandu syariat. Karena itu, Islam menekankan pentingnya muhasabah lil hukkam (mengoreksi penguasa) sebagai bagian dari amar makruf nahi mungkar. Rasulullah menegaskan keutamaan orang yang berani menegur penguasa zalim:
Buku Islam
“Pemimpin para syuhadā’ adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan (juga) seorang laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa zalim, lalu ia memerintahkannya kepada kebaikan dan melarangnya dari kemungkaran, kemudian penguasa itu membunuhnya.” (HR. al-Hakim)
Sejarah mencatat, pemuda selalu menjadi garda terdepan dalam perubahan. Sejak awal dakwah Islam, sahabat-sahabat muda seperti Ali bin Abi Thalib, Mus’ab bin Umair, dan Usamah bin Zaid tampil sebagai pelopor perjuangan. Mereka tidak sekadar menyuarakan perlawanan simbolis, tetapi melakukan perubahan mendasar (taghyir) dengan menjadikan syariat sebagai pedoman hidup.
Maka, jika kapitalisme hari ini berupaya membatasi energi Gen Z agar tetap berada di jalur aman, Islam justru mengarahkan potensi pemuda untuk menjadi motor perubahan sejati. Pemuda tidak ditempatkan hanya sebagai pelengkap dalam aksi massa atau sekadar pengisi ruang kreatif, melainkan sebagai kekuatan nyata yang menegakkan kebenaran, melawan kezaliman, dan menuntun masyarakat menuju sistem yang adil berdasarkan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.
Buku Islam
Allahu a’lam bishshawab. []

No comments:
Post a Comment