Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

80 Tahun Merdeka, Masih Sekadar Seremonial? Oleh: Ummu Aura (Muslimah Peduli Umat)

Sunday, September 14, 2025 | Sunday, September 14, 2025 WIB


 

Seremonial yang Hampa Makna


Indonesia sudah 80 tahun merdeka. Seperti biasa, perayaan Agustusan diwarnai upacara, karnaval, lomba, dan pesta rakyat. Namun, pernahkah kita bertanya, kemerdekaan macam apa yang kita nikmati?


Pertumbuhan ekonomi diklaim 5,12%, tetapi daya beli turun, inflasi tinggi, PHK marak, industri lesu, dan pengangguran meningkat. Pajak makin mencekik, harga melambung, penghasilan stagnan. Banyak keluarga terpaksa menguras tabungan. Semua ini menunjukkan perayaan kemerdekaan hanya sebatas simbol dan bendera, tanpa kesejahteraan nyata.


Neokolonialisme yang Menjerat


Penjajahan fisik memang berakhir, tetapi penjajahan pemikiran, ekonomi, politik, dan ideologi masih berlangsung. Hukum dan kebijakan lahir dari tekanan asing, mengokohkan sistem sekuler kapitalisme yang menyingkirkan peran Islam dalam kehidupan.


Istilah seperti moderasi beragama atau deradikalisasi disosialisasikan untuk menjauhkan umat dari ajaran Islam, sementara istilah seperti Khilafah dan Islam kaffah dicitrakan negatif. Strategi divide et impera tetap dipakai, memecah umat yang mayoritas muslim dengan ide-ide asing.


Kemerdekaan Hakiki Menurut Islam


Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Mafahim Siyasiyah menegaskan, kapitalisme terus berusaha menjajah dunia lewat politik, ekonomi, pendidikan, dan budaya. Setelah Khilafah Utsmani runtuh, negeri-negeri muslim merdeka secara fisik tetapi tetap terikat aturan kolonial.


Kisah Ruba’i bin Amir ra. saat berdialog dengan Rustum di Perang Qadisiyah menggambarkan makna kemerdekaan hakiki: membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama menuju penghambaan hanya kepada Allah. Inilah visi Islam yang berbeda dari kolonialisme Barat yang mengejar emas, kekuasaan, dan kepentingan duniawi.


Solusi: Islam Kaffah melalui Khilafah


Negara Islam (Khilafah) menerapkan syariat secara menyeluruh. Penguasa berperan sebagai pelindung dan pengurus rakyat, menjamin kebutuhan dasar—pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan—serta mengelola kekayaan umum untuk kesejahteraan rakyat, bukan swasta atau asing.


Khilafah membebaskan umat dari sistem sekuler kapitalisme, menjaga pemikiran tetap sesuai Islam, dan memastikan distribusi kekayaan merata. Sejarah membuktikan Khilafah mampu menyejahterakan rakyat sekaligus menjadi negara berdaulat yang tak tunduk pada kekuatan lain.


Geliat protes terhadap kezaliman hari ini menunjukkan kesadaran umat mulai bangkit, tetapi perubahan hakiki hanya terwujud bila sistem kufur diganti dengan Islam kaffah. Hanya dengan penerapan syariat dalam bingkai Khilafah, kemerdekaan sejati akan tercapai.


Wallahu’alam bishshawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update