Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sudahkah Indonesia Merdeka Secara Hakiki?

Monday, August 25, 2025 | August 25, 2025 WIB Last Updated 2025-08-25T01:47:10Z

 



Oleh : Sari Setiawati


Hari kemerdekaan Indonesia yang diperingati setiap 17 Agustus, tahun ini sudah mencapai yang ke-80 tahun. Seharusnya kemerdekaan yang hampir satu abad ini, Indonesia telah mencapai kemajuan, kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan. 


Benar bahwa rakyat Indonesia telah merdeka dan tidak dijajah secara fisik. Namun, realitas kehidupan rakyatnya mengalami penjajahan modern, yaitu penjajahan secara ideologi, yang berefek dalam semua bidang kehidupan, mulai dari politik, ekonomi, hukum, dan lain sebagainya. Akibatnya, negeri ini masih didera oleh berbagai persoalan, seperti kemiskinan yang semakin meningkat, angka pengganguran yang semakin bertambah, korupsi yang semakin menjadi, dan masih banyak problematika lainnya yang masih melanda negeri ini. 


Kemiskinan di bidang ekonomi terjadi akibat sumber daya alam negeri ini seperti tambang emas, minyak, gas telah lama dieksploitasi oleh banyak perusahaan asing seperti Freeport, Exxon Mobile dan Newmont, dan lain-lain, yang dilegalkan dilegalkan melalui undang-undang yang pro kapitalis (pemilik modal). 


Penjajahan ideologi kapitalisme -sekularisme dengan memaksakan penerapannya di negeri inilah yang nyata menimbulkan problematika negeri ini dalam seluruh bidang. Walaupun tidak dirasakan secara langsung karena tidak menimbulkan korban jiwa seperti halnya penjajahan fisik,  sehingga banyak yang tidak menyadarinya.


Padahal penjajahan ideologi dalam wujud dominasi Kapitalisme global ini juga telah menimbulkan penderitaan yang luar biasa, khususnya bagi bangsa ini dan umumnya bagi umat manusia di dunia ini. Anehnya, pemikiran dan cara pandang penjajah itu tetap dipertahankan, terutama oleh para penguasa dan elit-elit politiknya. Dengan adanya penjajahan ideologi Kapitalisme-sekuler, maka cita-cita para pejuang agar Indonesia benar-benar terlepas dari pengaruh penjajah tak dapat diwujudkan sepenuhnya. 

Pertama, bidang hukum dan perundang- undangan yang berlaku di Indonesia masih sekuler. Penjajah Belanda diusir, namun sebagian hukumnya tetap dipakai dan dilestarikan. 

Kedua, bidang ekonomi, berupa jeratan beban utang, khususnya utang luar negeri, dan bunganya yang saat ini telah mencapai ribuan triliun rupiah, sementara sumber daya alamnya dikuasai asing dan aseng. 

Ketiga, bidang sosial dan budaya, berupa kerusakan budaya dan perilaku sosial, yang telah menjadi fenomena akibat masuknya budaya asing yang sekuler-liberal. Banyak kasus yang menandai kerusakan ini seperti: seks bebas (zina), penyimpangan seksual semisal LGBT, maraknya pornografi, merajalelanya korupsi, judi online, dan aneka kekerasan, dan lain-lain Keempat, bidang politik, dengan penerapan sistem demokrasi- sekuler yang sangat rentan disusupi oleh kepentingan asing melalui para komperadornya. Akibatnya, banyak undang-undang yang dibuat oleh DPR dan peraturan yang dibuat oleh Pemerintah lebih pro-asing daripada berpihak pada kepentingan rakyat negeri ini. 


Selama ketundukan sekelompok manusia terhadap manusia lain masih terjadi, maka hakikat kemerdekaan itu belum diraih. Bagi kita sebagai muslim, kemerdekaan dapat dipahami sebagai bentuk penghambatan terhadap Sag Pencipta , Allah SWT, secara totalitas dalam seluruh bidang kehidupan. Karena itu, bagi umat Islam, kemerdekaan bukan sekadar hak yang harus diperjuangkan, tetapi menjadi misi utama risalah Islam itu sendiri. Jika masih ada manusia menjadi hamba manusia lain, maka mereka belumlah dikatakan merdeka. Jika kaum Muslim masih menjadi hamba dari ideologi dan hukum buatan manusia maka mereka masih dalam keterjajahan. Misi Islam untuk mewujudkan kemerdekaan hakiki bagi seluruh umat manusia itulah yang menjadi pengobar semangat juang dan pemantik keberanian para pejuang Islam, termasuk di negeri ini, sekalipun berhadapan dengan musuh. 



Alhasil, negeri ini harus melepaskan diri dari ideologi Kapitalisme-sekuler ini, dengan memperkuat landasan ideologi Islam dan membuang ideologi Kapitalisme sekuler. Islam sebagai agama sekaligus ideologi yang membawa misi tauhid, yakni misi terbesar agar manusia menghamba hanya kepada Allah SWT semata. Negara yang berlandaskan ideologi Islam juga akan menjadi negara merdeka dan berdaulat karena hanya tunduk dan patuh pada perintah Allah SWT semata, serta menjauhi seluruh larangan-Nya. Itulah takwa. Sebaliknya, selama ideologi yang bersumber dari akal dan hawa nafsu manusia diterapkan dan dipertahankan, seperti ideologi Kapitalisme-sekuler, maka selama itu pula akan terus terjadi penjajahan, kesempitan kehidupan di dunia dan maraknya tindak kezaliman. Karena itu negeri ini harus segera menerapkan kembali hukum-hukum Allah SWT secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan, hingga Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam.



WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.

×
Berita Terbaru Update