Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

REVIEW MENDALAM TENTANG KURIKULUM BERBASIS CINTA: SOLUSI ATAU PENYESATAN?

Friday, August 15, 2025 | Friday, August 15, 2025 WIB

 



Oleh: Purnama Sari


Kementerian Aghama (Kemenag) resmi meluncurkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai wajah baru pendidikan Islam yang lebih humanis, inklusif, dan spiritual. Kurikulum Berbasis Cinta dibangun atas lima nilai utama yang disebut Panca Cinta. Menteri Agama, Nasaruddin Umar, dalam pidato peluncurannya, menegaskan bahwa kurikulum ini lahir dari kegelisahan atas dominasi pendidikan yang hanya berorientasi pada aspek kognitif semata. Menurutnya, cinta adalah bahasa universal yang bisa menjembatani perbedaan dan menyatukan umat manusia dalam harmoni. Guru Dominasi Daftar Formasi Jabatan Fungsional PNS Kemenag 2025 "Jangan sampai kita mengajarkan agama, tapi tanpa sadar menanamkan benih kebencian kepada yang berbeda. Kurikulum ini adalah upaya menghadirkan titik-titik kesadaran universal dan membangun peradaban dengan cinta sebagai fondasi," ujar Menag, melalui siaran pers, Jumat (25/7/2025). Ia menambahkan bahwa spiritualitas harus kembali menjadi roh pendidikan, termasuk dalam konteks ekoteologi, yaitu kesadaran bahwa manusia bukan penguasa atas alam, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang harus dijaga bersama.


Kurikulum Berbasis Cinta dibangun atas lima nilai utama yang disebut Panca Cinta, yakni: - Cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa - ⁠Cinta kepada Diri dan Sesama - ⁠Cinta kepada Ilmu Pengetahuan - ⁠Cinta kepada Lingkungan - ⁠Cinta kepada Bangsa dan Negeri. Kelima nilai ini menjadi kerangka dasar dalam membentuk perilaku dan visi hidup peserta didik, yang diintegrasikan tidak hanya dalam pelajaran agama, tetapi lintas mata pelajaran dan jenjang pendidikan. Dirjen Pendidikan Islam, Prof. Amien Suyitno ingin supaya madrasah dan sekolah menjadi ruang suci yang tidak hanya dalam pelajaran agama, tetapi lintas mata pelajaran dan jenjang pendidikan. Dalam laporannya, Suyitno menyampaikan bahwa KBC dikembangkan secara kolaboratif oleh Direktorat KSKK Madrasah sejak akhir 2024, melalui uji coba di 12 madrasah di berbagai provinsi dan lima kali uji publik yang melibatkan pakar nasional seperti Prof. Yudi Latif, Nyai Alissa Wahid, Haidar Bagir, dan Prof. Fasli Jalal. "Kita butuh kurikulum yang menyentuh akar—bukan hanya akal. Kurikulum yang membentuk empati, bukan sekadar mengisi memori," tegas Dirjen. 


Ia juga menyoroti tantangan nyata seperti meningkatnya perundungan di sekolah, intoleransi sosial, dan kerusakan lingkungan, termasuk hilangnya jutaan hektare lahan produktif di Indonesia setiap tahun. Dalam konteks itu, KBC hadir untuk membentuk kesadaran ekologis dan solidaritas sosial sejak dini. KBC akan diimplementasikan secara bertahap melalui pelatihan daring lewat MOOC PINTAR, pelatihan calon pelatih, dan penguatan pemantauan melalui program MAGIS, yang dikembangkan bersama mitra strategis seperti INOVASI. Sinergi antar unit di lingkungan Ditjen Pendis seperti GTK, PAI, dan Pusbangkom juga akan memperkuat eksekusi kurikulum ini. 


Yang menarik, Kemenag secara simbolis juga menyerahkan panduan KBC kepada para guru sebagai rujukan mengintegrasikan nilai cinta ke dalam praktik pembelajaran sehari-hari. "Kurikulum ini bukan hanya milik madrasah, tapi milik seluruh bangsa. Ia akan memperkuat tri pusat pendidikan: sekolah, rumah, dan masyarakat. Karena pendidikan yang utuh harus melibatkan semua pihak," tambah Dirjen. KBC digadang-gadang sebagai kontribusi nyata Kementerian Agama dalam menyongsong Indonesia Emas 2045, dengan mencetak generasi yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga matang dalam spiritualitas, toleran, dan cinta lingkungan. 


Namun, menurut pengamat pendidikan Linda Ariyanti, sejatinya ini menunjukkan adanya upaya menanamkan ide pluralisme yang menganggap semua agama adalah benar. “Hal ini sejalan dengan konsep moderasi beragama yang diaruskan di perguruan tinggi terutama di kampus keagamaan (UIN). Wajar jika peluncuran kurikulum cinta mendapat dukungan penuh dari kampus keagamaan. Padahal, konsep moderasi beragama ini justru lahir dari Barat dan jauh dari pemahaman Islam yang sahih,” ujarnya kepada MNews, Kamis (31-7-2025).


Proyek moderasi beragama di kampus keagamaan, jelasnya, yang bertujuan untuk menciptakan suasana inklusif dan harmonis, serta mencegah ekstremisme dan radikalisme telah menyatu dengan penerapan kurikulum di tingkat madrasah. “Padahal, definisi ekstremisme dan radikalisme dalam proyek moderasi justru menyudutkan Islam itu sendiri. Sebagai kampus berbasis Islam, UIN seharusnya menjadikan akidah Islam sebagai dasar dalam memandang sagala hal. Bukan justru menjadikan timbangan ala Barat dalam membentuk karakter generasi kaum muslim,” bebernya.


Pluralisme agama adalah sebuah pemahaman yang diyakini oleh orang-orang liberal, yakni menempatkan kebenaran agama sebagai aspek yang relatif. Pluralisme didasarkan pada asumsi yang meletakkan agama pada sebuah klaim kebenaran yang sifatnya relatif, menempatkan agama-agama pada posisi setara, apa pun jenis agamanya. Pluralisme menjadikan bahwa persepsi manusia yang relatif terhadap Tuhan yang mutlak. Alhasil, tersebab kerelatifannya, seluruh agama tidak boleh mengeklaim atau meyakini bahwa agamanya yang lebih benar dari agama lain, atau meyakini hanya agamanya yang benar.


Pluralisme agama telah menempatkan posisi semua agama sama dan pada akhirnya telah mengaburkan makna toleransi dalam Islam. Pluralisme melahirkan toleransi menurut paham liberal (liberalisme) yang sangat berbahaya. Ini karena pluralisme menjadikan standar kebenaran bukan lagi Al-Qur’an dan Hadis, melainkan pada akal manusia yang mengukur dengan kemaslahatan manusia.


Pada hakikatnya, ini adalah penjajahan (imperialisme) dalam bidang pemikiran bagi umat Islam. Umat Islam akan dipaksa untuk berpikir dengan standar liberal yang menyesatkan. Cinta kepada manusia lebih dikedepankan dan mengabaikan kecintaan kepada Allah Taala.

Dengan demikian, alih-alih mampu mengatasi krisis kemanusiaan, intoleransi, dan degradasi lingkungan, penerapan KBC justru membuat kaum muslim membenarkan dan menerima keyakinan agama selain Islam—yang notabene bertentangan dengan hukum syarak. Dengan dalih menghargai dengan penuh cinta, pluralisme pun wajib diterima dengan menggadaikan akidah mengakui Tuhan lain selain Allah Taala, dan hal ini akan masif diopinikan melalui KBC.


Kemenag resmi meluncurkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai wajah baru pendidikan Islam yang lebih humanis, inklusif, dan spiritual. Menag Nasaruddin Umar menyebut KBC sebagai langkah transformasi besar dalam ekosistem pendidikan nasional. Kurikulum ini hadir sebagai respons terhadap krisis kemanusiaan, intoleransi, dan degradasi lingkungan yang semakin mengkhawatirkan. 


Sekilas kurikulum cinta ini, dari namanya saja, nampak menawarkan gagasan yang sangat baik, tapi benarkah demikian? Sama sekali tidak. Ada bahaya mengancam di balik kurikulum ini, di antaranya adalah deradikalisasi sejak dini, dengan segala macam bentuknya. Kurikulum ini juga mengajarkan generasi muslim untuk bersikap keras kepada saudaranya sesama muslim dan lemah lembut kepada nonmuslim. Muslim yang hendak menerapkn syariat Islam kaffah, akan diberi label radikal dan ekstrim, dimusuhi, dipersekusi, pengajiannya dibubarkan dan lain-lain. Sementara untuk nonmuslim, mereka diperlakukan begitu hormat, sangat lembut dan santun, rumah ibadahnya dijaga, ikut merayakan hari raya bersama sama dan sebagainya.


Nampaklah bahwa kurikulum cinta berasas sekuler, karena menjauhkan generasi dari aturan agama, dan menjadikan akal sebagai sumber hukum dan penentu segala sesuatu. Padahal dalam islam sekularisme adalah ide yang salah dan batil.


Islam menetapkan kurikulum harus berbasis akidah Islam, bukan yang lain. Karena Akidah adalah asas kehidupan setiap muslim, termasuk asas negara Islam. Negara punya kewajiban menjaga akidah rakyatnya di antaranya dengan menjadikan akidah Islam sebagai asas. Apalagi dalam Pendidikan yang merupakan bidang strategis bagi masa depan bangsa


Bila akidah umat kuat, maka mereka akan taat secara totalitas kepada syariat Allah, sehingga mampu menyelesaikan semua permasalahan dalam kehidupannya. Wallahu allam bisshaab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update