Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kelaparan Akut di Gaza, Khilafah Perlu Segera!

Tuesday, August 12, 2025 | Tuesday, August 12, 2025 WIB Last Updated 2025-08-12T01:23:28Z
Kelaparan Akut di Gaza, Khilafah Perlu Segera!

Oleh Nining Sarimanah 

Pegiat Literasi


Kebiadaban Zionis Yahudi makin menjadi, bukan hanya dengan meluluhlantakkan pemukiman dan fasilitas umum hingga rata dengan tanah, tetapi juga menciptakan krisis pangan dengan mencegah bantuan kemanusiaan masuk ke pintu Rafah. 


Blokade total membuat 2 juta warga Gaza mengalami kelaparan hebat. Kondisi ini terjadi, sejak gagalnya perpanjangan gencatan senjata dan Israhel memberlakukan pengepungan penuh pada 2 Maret 2025.


Blokade pangan menciptakan malnutrisi hingga kematian warga di Gaza. Banyak video dan foto yang beredar di sosial media yang menggambarkan malnutrisi pada bayi, anak-anak, hingga orang dewasa. Keadaan ini menunjukkan begitu beratnya penderitaan warga Gaza yang belum pernah sekalipun dialami manusia.


Mirisnya, hingga detik ini tidak ada yang bergerak untuk mengakhiri genosida di Palestina. Jangankan Negara Arab yang berada di sekeliling Palestina. PBB dan OKI yang merupakan lembaga internasional seakan "tak berdaya" di hadapan entitas Yahudi dan AS sebagai sekutunya.


Dunia menyaksikan kelaparan luar biasa di Gaza, namun Netanyahu membantah itu semua. Itulah karakter penjajah yang masa bodoh dengan nasib warga di sana, karena Israhel berambisi menguasai Palestina seutuhnya, meski ratusan ribu menjadi taruhannya.


Menurut BBC sebanyak 900.000 anak menderita kelaparan dan 70.000 di antara mereka mengalami malnutri. Dilansir dari The Japan Times, dalam tiga hari terakhir sebanyak 21 anak meninggal akibat malnutrisi di Rumah Sakit Al-Shifa dan Al-Aqsa Martyrs. Artinya tujuh anak meregang nyawa setiap hari karena kekurangan Gizi. (bbc.com, 23/7/2025)


Demi bertahan hidup, warga Gaza makan apa saja yang bisa dimakan misalnya rerumputan dan pakan ternak. Tak hanya itu, air limbah pembuangan pun terpaksa diminum karena sulitnya mendapat air bersih. Akibatnya tubuh mereka kurus kering. Kalaupun ada bantuan dari Zionis atas nama Gaza Humanitarian Foundation (GHF), tetapi bantuan itu disinyalir sebagai strategi sistemis Zionis dan AS untuk mempercepat genosida untuk segera mengosongkan Gaza dengan skenario diciptakan lapar seluruh masyarakat Gaza. 


Mereka dipaksa berbondong-bondong memburu bantuan ke tengah dan selatan. Saat mengantre bantuan, justru ditembak tanpa belas kasihan. Dalam beberapa minggu terakhir nyaris 900 warga Gaza tewas saat berusaha mendapat bantuan makanan di sebagian besar di pusat bantuan.


Kian jelas bahwa kekejaman Zionis tidak bisa dilawan dengan hanya retorika. Entitas Yahudi hanya mengenal bahasa perang. Karena itu, seharusnya yang dilakukan penguasa negeri muslim melakukan aksi nyata dengan memobilisasi tentaranya untuk membebaskan Palestina dari cengkraman Israhel.


Namun, harapan agar negara Arab dan penguasa muslim bersikap keras pada Israhel hanya isapan jempol belaka. Meski mereka menyaksikan apa yang terjadi di Gaza, tetapi sebatas kecaman dan kutukan, tidak lebih dari itu. Ini merupakan bentuk penghianatan yang nyata. Mirisnya, nasionalisme menjadikan pemimpin negeri Islam lebih mementingkan kepentingan negaranya daripada menolong saudaranya di Palestina.


Ikatan kebangsaan ini sengaja dihembuskan Barat dan terbukti berhasil untuk membuat negeri-negeri muslim sibuk dengan urusannya masing-masing. Padahal jelas, ikatan itu bukan ikatan hakiki yang menyatukan umat Nabi Muhammad saw.. 


Ikatan akidahlah yang seharusnya mempersatukan kaum muslim di dunia. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. "Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi di antara mereka adalah ibarat satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya)." (HR Muslim No 4685)


Karena itu, umat membutuhkan sosok pemimpin yang mempersatukan kaum muslim dunia atas dasar akidah Islam. Dengan ikatan ini pula, penguasa muslim mampu merealisasikan kekuatan militernya yang ada di seluruh negeri untuk membungkam arogansi Zionis. Sebagaimana yang pernah dilakukan Khalifah Umar bin Khattab dalam membebaskan Baitul Maqdis dari kerajaan  Romawi Timur dan Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi yang merebut kembali Palestina dari pasukan Salib Kristen. 


Sosok pemimpin yang seperti ini yang harus segera diwujudkan. Karena itu, menjadi kewajiban kita semua sebagai umat Islam untuk terus berdakwah menyerukan kepada dunia bahwa satu-satunya solusi hakiki untuk masalah Gaza, Palestina adalah dengan jihad yang akan diperintah oleh seorang khalifah kaum muslimin.


Wallahualam bissawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update