Jumlah korban tewas di Gaza akibat serangan Israel sejak Oktober 2023 telah mencapai angka yang sangat memprihatinkan, yaitu 60.430 jiwa, dengan tambahan 148.722 orang lainnya mengalami luka-luka. Berdasarkan laporan, sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak. Dalam kurun waktu 24 jam terakhir, setidaknya 98 warga Palestina dilaporkan meninggal dan 1.079 lainnya terluka akibat serangan yang masih terus berlangsung di Jalur Gaza. Data ini menunjukkan situasi yang sangat genting dan memprihatinkan di Gaza, dengan kebutuhan akan bantuan kemanusiaan yang sangat mendesak. (data.techfiroalestine.org)
Krisis Gaza yang saat ini terjadi, termasuk pelaparan sistemis yang dialami oleh penduduk Gaza, menjadi momentum penting bagi negara-negara Arab dan Muslim untuk mengambil sikap tegas. Baru-baru ini, beberapa negara seperti Arab Saudi, Qatar, dan Mesir secara resmi mendesak Hamas untuk menyerahkan kekuasaan atas Jalur Gaza kepada Otoritas Palestina. Namun, ada kontras ketika Mesir menekan Imam Besar Al Azhar untuk mencabut pernyataannya tentang Zionis, sementara dunia menyaksikan kekejaman yang dilakukan terhadap warga Gaza.
Di sisi lain, semakin banyak negara yang mengakui Palestina sebagai negara berdaulat setelah melihat kekejaman yang dilakukan oleh Israel. Hal ini menunjukkan perubahan signifikan dalam dinamika politik internasional terkait isu Palestina. Namun, perlu diingat bahwa pengakuan internasional saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah ini; yang dibutuhkan adalah tindakan nyata dan solusi yang adil dan berkesinambungan.
Dalam konteks ini, umat Islam diingatkan akan pentingnya ukhuwah Islamiyah, yaitu persaudaraan dan solidaritas antar sesama Muslim. Namun, realitas saat ini menunjukkan bahwa banyak penguasa Muslim yang lebih mengutamakan kepentingan duniawi seperti jabatan dan kekuasaan daripada kemuliaan dan kehormatan umat Islam. Hal ini menyebabkan umat Islam menjadi lemah dan tidak berdaya di hadapan musuh-musuh Islam.
Sebagai umat terbaik (QS 3:110), umat Islam memiliki potensi besar untuk mencapai kemuliaan dan kejayaan. Janji Allah untuk menjadikan umat Islam sebagai khalifah di bumi (QS 24:55) masih relevan dan dapat diwujudkan jika umat Islam kembali kepada ajaran Islam yang murni dan menerapkan Islam secara kaffah.
Sejarah Islam mencatat banyak contoh kepemimpinan yang kuat dan berani dalam membela umat Islam, seperti Khalifah Al-Mu'tasim Billah dan Sultan Abdul Hamid II. Mereka menunjukkan bahwa dengan kepemimpinan yang kuat dan berani, umat Islam dapat mencapai kemuliaan dan kejayaan.
Oleh karena itu, momentum krisis Gaza saat ini harus diefektifkan untuk membangkitkan kesadaran umat Islam dan mewujudkan kemuliaan Islam. Perlu ada kepemimpinan yang kuat dan berani dalam menerapkan Islam secara kaffah dan menegakkan Khilafah sebagai solusi tuntas bagi permasalahan umat, termasuk pembebasan Palestina. Dengan rahmat Allah, jalan dakwah akan mendapatkan hasil sepanjang menapaki thariqah Rasulullah, sebagaimana yang diemban oleh jamaah dakwah ideologis yang tulus menerapkan Islam kaffah.
Dalam jangka panjang, perjuangan pembebasan Palestina akan terwujud ketika Khilafah tegak dan menyerukan jihad sebagai solusi tuntas. Umat Islam harus memanfaatkan momentum ini untuk membangkitkan kesadaran dan semangat perjuangan di kalangan umat, serta membangun kepemimpinan yang kuat dan berani dalam menerapkan Islam secara kaffah. Dengan demikian, kemuliaan Islam dapat diwujudkan kembali dan umat Islam dapat mencapai kejayaan yang hakiki.
Wallahu alam

No comments:
Post a Comment