Oleh : Eliska Sari, S.Pd
Baru-baru ini Job Market Fair di Kota Samarinda ramai didatangi para pelamar kerja. Ada lulusan baru, ada ibu rumah tangga, ada yang baru di-PHK. Tapi satu yang sama: mereka sedang mencari peluang untuk bekerja. Banyak dari mereka yang menyampaikan kegelisahan selama melalangbuana mencari pekerjaan, ”pengalaman kerja” itu masalahnya.
Kondisi bukan unik terjadi di negeri kita. Di berbagai kota, para pencari kerja menghadapi tantangan yang sama: Pengalaman kerja selalu dituntut, meski mereka baru lulus kuliah (fresh graduate). Seperti ungkap seorang mahasisswa lulusan Ilmu Hukum saat ditanya : “Selain job fair, saya mengirimkan banyak lamaran, tetapi belum mendapatkan tanggapan positif. Banyak perusahaan meminta pengalaman kerja, sementara sebagai fresh graduate tentu saja memiliki keterbatasan dalam hal itu. Rasanya sulit untuk bersaing di pasar kerja" ungkapnya.
Masyarakat kita seperti terkurung di sebuah “lingkaran setan” . Lapangan kerja menyempit, sementara lulusan pendidikan terus bertambah. Saat mereka lulus dengan penuh euforia sambil memakai toga, ternyata mereka harus dihadapkan pada dunia kerja yang memberi syarat “harus berpengalaman”. Kalau semua pekerjaan butuh pengalaman, dari mana pemula bisa mulai?
Sedangkan di Kaltim sendiri, menurut data BPS (Badan Pusat Statistik) Provinsi Kalimantan Timur tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kalimantan Timur pada Februari 2025 adalah 5,33%. Jika kita mendalami problem pengangguran ini, kita akan mendapati bahwa ini lebih dari sekedar soal ”oknum yang malas” , tapi soal pendidikan kita yang menghasilkan “buruh siap pakai” bukan pencipta lapangan kerja, juga banyak sektor yang terabaikan padahal bisa menyerap banyak tenaga kerja (sektor pertanian misalnya), hingga masalah pemerintah yang hanya jadi jembatan korporasi, bukan penjamin hak kerja.
Dalam perspektif Islam, mencari nafkah adalah kewajiban bagi kepala keluarga. Namun kewajiban ini tak bisa dijalankan tanpa peran negara sebagai penjamin. Negara dalam Islam bukan hanya memberi pelatihan atau menyusun kurikulum, tapi aktif menyediakan lapangan kerja, modal, bahkan tanah bagi rakyatnya. Sebagaimana Khalifah Umar bin Khattab yang menghidupkan tanah mati agar rakyat bisa mandiri secara ekonomi.
Pendidikan dalam Islam pun bukan sekadar mencetak buruh pasar, tapi mencetak manusia yang berkepribadian Islam dan berkualitas, bahkan bisa menciptakan lapangan kerja sendiri sesuai keahliannya. Ia tidak hanya bekerja karena kebutuhan, tapi tahu tujuan hidup dan tanggung jawab sosialnya.
Wallahua’lam

No comments:
Post a Comment