Syamsiar, S.S
(Pena Ideologis Maros)
Konflik di Gaza sejak 7 Oktober 2023 hingga sekarang ini masih terus terjadi. Data terakhir dari pihak otoritas kesehatan Gaza menyebut jumlah korban tewas Palestina di Jalur Gaza meningkat menjadi 56.412 orang. Ini belum termasuk korban luka sebanyak 133.045 orang maupun korban yang hilang (cnnindonesia..com, 29/6/2025).
Begitu banyak kerugian dan penderitaan yang dialami rakyat Palestina terlebih ketika pusat pasokan kebutuhan vital masyarakat seperti bahan bakar dan pangan dengan sengaja dihancurkan oleh pasukan Zionis. Masih teringat jelas dalam ingatan kita bagaimana militer Israel menembaki secara membabi buta kepada para penduduk Palestina yang sedang berjuang mengambil bantuan makanan di barak pengungsian. Sungguh kekejaman Zionis Israel telah jauh melampaui batas-batas kemanusiaan yang beradab.
Namun di balik kekejaman Zionis, pada hakikatnya ada yang jauh lebih kejam lagi dari mereka yaitu para pemimpin negeri Muslim yang bungkam di balik sentimen nasionalisme mereka. Padahal Islam sangat mengecam segala bentuk fanatisme ashabiyah (kesukuan/kebangsaan/nasionalisme).
Fakta hari ini menunjukkan bahwa nasionalisme dan nation-state menuntut loyalitas penuh hanya pada bangsa, tanah air dan negaranya saja. Bahkan loyalitas tersebut di atas ikatan aqidah Islam.
Perang Iran bukti bantu Palestina ?
Sebagaimana kita lihat, Perang Iran dengan Israel justru makin menunjukkan tidak satupun penguasa muslim yang benar-benar serius menolong Gaza. Terlepas dari retorika keras yang sering dilontarkan Iran mengenai dukungan terhadap Palestina, kenyataannya menunjukkan hal yang berbeda. Sejak 7 Oktober hingga insiden keterlibatan terbaru antara Israel dan Iran, Palestina telah menderita kerugian yang tak terhingga. Iran tidak menunjukkan upaya nyata untuk campur tangan, kecuali ketika orang-orangnya sendiri diserang atau dibunuh di wilayah mereka. Meskipun Iran memiliki ratusan rudal balistik yang mampu mencapai jantung Israel, kemampuan ini tidak dimanfaatkan untuk menekan agresi terhadap Palestina. Respons Iran, ketika mereka menyerang pangkalan AS di Qatar, terasa seperti lelucon setelah mereka sendiri dihantam keras di Isfahan dan tempat-tempat lain. Ini menunjukkan bahwa Iran tidak pernah benar-benar tertarik untuk mengintervensi kasus Palestina secara nyata. Semua adalah retorika belaka, dan setelah dua minggu bentrokan dan "permainan" roket ini, topeng di wajah mereka akan berubah, dan mungkin akan ada panggilan untuk negosiasi.
Penguasa negeri muslim yang lain tak jauh berbeda, mereka mampu menutup wilayah udara untuk pesawat sipil, sementara membiarkannya terbuka lebar bagi Zionis Israel dan pesawat tempur AS untuk mengebom dan membunuh, lalu kembali dengan selamat. Dalam Islam, sikap mereka merupakan pengkhianatan besar terhadap umat.
Two Solution Tepat ?
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, tengah membangun konsolidasi bersama mitranya, Benyamin Netanyahu. Keduanya ingin mewujudkan adanya gencatan senjata di Gaza dengan melibatkan pemimpin negeri-negeri Arab yang terikat dalam Perjanjian Abraham atau Abraham Accords. Perjanjian Abraham merupakan rangkaian kesepakatan yang telah ditandatangani oleh beberapa negara Arab bersama Israel. Perjanjian ini lebih ditujukan untuk menormalisasi hubungan diplomatik antara negara di wilayah jazirah Arab dengan Israel. Perjanjian Abraham ditandatangani pada 15 Agustus 2020. Pada saat ini, Perjanjian Abraham diharapkan dapat menjadi perantara masuknya doktrin solusi dua negara yang digadang-gadang sebagai solusi final guna mengakhiri konflik di Gaza.
Manuver politik yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel telah mengelabui para pemimpin Muslim. Mereka ikut terperdaya dan mengekor pada propaganda menyesatkan: solusi dua negara, Israel dan Palestina hidup berdampingan. Tentu solusi ini tidak dapat diterima oleh akal sehat manusia manapun. Sebab, mengakui solusi dua negara sama saja dengan mengakui legalitas Israel yang jelas merupakan penjajah dan penjarah tanah Palestina. Tidak layak, meski sejengkal, tanah Palestina diserahkan kepada Yahudi meski seluruh penguasa Muslim diseru untuk meratifikasi solusi tersebut. Betapa banyak pengorbanan para syuhada yang telah membela dengan segenap jiwa raga mereka untuk mempertahankan Palestina dari cengkeraman kafir penjajah.
Pernyataan Pemimpin Indonesia
Di tengah situasi Gaza yang hancur dan Palestina yang tak berdaya, tiba-tiba Presiden Prabowo Subianto mengeluarkan pernyataan yang mengagetkan publik, khususnya umat Islam. Saat konferensi pers bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5), ia mengatakan, Indonesia membuka peluang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel apabila mereka mengakui kemerdekaan Palestina.
"Begitu negara Palestina di akui oleh Israel, Indonesia siap untuk mengakui Israel dan kita siap membuka hubungan diplomatik dengan Israel" kata Prabowo, di kutip dari siaran kanal YouTube Sekretariat Presiden.
Prabowo menegaskan, Indonesia mendorong solusi dua negara (two-state solution) sebagai penyelesaian konflik di antara kedua negara. "Kemerdekaan bangsa Palestina merupakan satu-satunya jalan untuk mencapai perdamaian yang benar”, tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menyatakan Indonesia perlu mengakui Israel sebagai negara yang berdaulat meskipun Indonesia mendukung penuh kemerdekaan Palestina.
Kontan pernyataan Prabowo itu menimbulkan reaksi. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf menilai Prabowo konsisten dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
Sementara itu cendekiawan Muslim M Ismail Yusanto menyebut, "Bagaimana bisa kita menyerukan two state solution yang berarti melegitimasi penjajahan, sementara kita sendiri mengatakan penjajahan itu harus dihapuskan? Jika two state solution diikuti maka penjajahan bukan hapus tapi semakin kokoh, semakin legitimate. Pernyataan itu bertentangan 180 derajat dengan amanat konstitusi," kata Ismail di kanal Youtube UIY Official, Ahad (31/5).
Beliau mengingatkan, Israel berdiri di atas tanah yang diperoleh secara ilegal. Sejarah Israel adalah sejarah kejahatan. Mereka menyerobot tanah palestina. Sehingga, two state solution itu berarti melegalkan perampasan, perampokan, dan melegitimasi penjajahan. Ini bertentangan dengan konstitusi Indonesia.
Situasi Gaza makin memprihatinkan di tengah pengkhianatan para penguasa muslim. Perang Iran justru makin menunjukkan tidak satupun penguasa muslim yang benar-benar serius menolong Gaza.
Dorongan sebagian penguasa muslim termasuk indonesia untuk menekan Zionis menerima solusi dua negara adalah solusi untuk membodoh-bodohi umat dan sangat absurd. Zionis dan AS sampai kapan pun tidak akan menerima Palestina merdeka dengan kemerdekaan penuh. Begitu pun warga Palestina yang tulus dan lurus. Mereka tidak mungkin menerima ada sejengkal pun tanah kaum muslimin diberikan kepada penjajah. Mereka tidak mungkin mau mengkhianati perjanjian Umariyah dan pengorbanan para syuhada yang sudah mempertahankan tanah Palestina dengan nyawa mereka. Artinya pembantaian akan terus terjadi dan perlawanan juga tidak akan pernah surut.
Solusi Ideologis Islam
Solusi persoalan konflik Timur Tengah khususnya Gaza, Palestina, tak lain adalah jihad dan khilafah. Jihad, dalam konteks ini, bukan sekadar perang fisik, tetapi perjuangan menyeluruh untuk membebaskan tanah umat Islam dari penjajahan. Sepanjang sejarah, jihad telah menjadi metode syar'i yang digunakan umat Islam untuk melawan penjajah, seperti saat Shalahuddin Al-Ayyubi membebaskan Al-Quds dari tangan Tentara Salib pada abad ke-12. Dalam kasus Palestina, jihad dipandang sebagai kewajiban untuk melawan pendudukan Zionis Yahudi yang terus melakukan pelanggaran hak asasi manusia.
Namun, jihad tidak akan efektif tanpa institusi yang menyatukan umat. Di sinilah peran khilafah menjadi krusial. Khilafah adalah sistem politik Islam yang mengkoordinasikan kekuatan militer, diplomatik, dan ekonomi umat Islam secara global. Khilafah adalah institusi yang mampu mengerahkan potensi umat untuk membebaskan Palestina.
Dengan khilafah, umat Islam dapat bersatu melawan Israel, mengatasi kelemahan negara-negara Muslim yang saat ini terpecah dan tunduk pada tekanan Barat. Dengan khilafah, umat Islam dapat membentuk front diplomasi yang kuat untuk menekan Israel dan sekutunya, serta mengerahkan pasukan untuk melindungi tanah suci. Tanpa institusi pemersatu ini, perjuangan Palestina akan terus terhambat oleh kepentingan nasional masing-masing negara Muslim.
Pembantaian di Gaza harusnya menjadi momen bangkitnya kesadaran umat bahwa berharap pada solusi Barat justru menjauhkan pada solusi hakiki. Solusi hakiki adalah menghadirkan Khilafah sebagai warisan nabi yang terbukti telah menjadi penjaga umat dan telah membawa umat kepada kebangkitan hakiki. Kisah pelecehan terhadap perempuan yang dilakukan oleh kaum Yahudi bani Qainuqa' di pasar pada masa Rasulullah Saw adalah bukti yang cukup untuk membuktikan bagaimana penjagaan Khilafah terhadap umat.
Umat harus mendukung dan segera terjun bergerak dalam perjuangan menegakkan Khilafah bersama kelompok dakwah ideologis. Ini adalah bukti keseriusan kita menolong Gaza-Palestina, dan juga mengangkat umat yang lainnya dari kehinaan akibat hidup dalam naungan sistem sekuler kapitalisme.
Wallahu A'lam Bisshowwab

No comments:
Post a Comment