Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Hilangnya Kasih Sayang dalam Deraan Kapitalisme

Thursday, July 31, 2025 | Thursday, July 31, 2025 WIB
Hilangnya Kasih Sayang dalam Deraan Kapitalisme

Oleh : Hj. Reni Renia Devi., S.Kp., M.Kep


Warga Desa Sukadana, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya, digemparkan oleh peristiwa pembacokan yang dilakukan seorang pria terhadap anggota keluarganya sendiri. Pelaku yang diduga merupakan menantu korban, secara brutal membacok kedua mertuanya, istri, anak, dan iparnya pada Sabtu (19/7/2025).


Seperti berita yang dirilis oleh newstasikmalaya. com, 19 Juli 2025, terduga pelaku berinisial A diketahui memiliki riwayat gangguan jiwa dan sebelumnya sering merantau ke luar kota. Menurut tetangga korban, ia memang punya riwayat gangguan kejiwaan. Kadang - kadang suka pulang ke kampung, lalu hilang lagi. Sebelum kejadian berlangsung diketahui bahwa pelaku A sempat menginap di rumah korban beberapa hari.


Usai melakukan aksi pembacokan, dan meninggalkan korban dengan luka-luka parah bersimbah darah, pelaku langsung melarikan diri dan hingga kini masih dalam pencarian pihak kepolisian. Sementara para korban dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan sesuai prosedur. Sampai saat ini motif terjadinya pembacokan belum diketahui secara pasti dan masih dalam penyelidikan.


Kejadian seperti ini, bukan masalah yang aneh terjadi pada sistem kehidupan sekarang. Bahkan sebetulnya kalau kita cermati hampir setiap harinya banyak lagi kasus-kasus penganiayaan yang dilakukan oleh orang terdekat kepada keluarganya. Rasa kasih sayang, perlindungan, kenyamanan di dalam keluarga seolah hilang lenyap tergerus oleh kerasnya fakta kehidupan.


Berbagai penyebab disinyalir memungkinkan timbulnya perilaku kriminal ini, diantaranya adalah persoalan ekonomi keluarga, ketidakharmonisan, perceraian, kekayaan, tekanan emosional ataupun pihak ketiga. Dan sejatinya penyebab yang hakiki dari munculnya tindakan kriminal itu dikarenakan penerapan sistem hidup sekuler kapitalisme ditengah-tengah masyarakat. Ideologi buah pikiran manusia inilah ini yang memisahkan aturan agama dari kehidupan. Sehingga masyarakat menjalankan kehidupannya dengan penuh kebebasan diantaranya adalah kebebasan berperilaku tanpa memandang lagi norma dan agama.


Jika ada permasalahan yang menimpa, berat ringannya masalah bisa memicu seseorang hidup dalam tekanan, stress bahkan depresi berkepanjangan. Sehingga apabila seseorang mengalami kondisi tersebut, ditambah dengan lemahnya akidah akan membuat seseorang berperilaku di luar kendali agama. Mengamuk, menganiaya, merusak, bahkan menghilangkan nyawa menjadi pelampiasan jiwa-jiwa frustasi penuh tekanan hidup.


Demikian juga dengan penerapan UU yang bernapaskan sekularisme dan materialisme membuat tekanan hidup makin berat. Dengan pendapatan yang pas-pasan atau mungkin berkurang mereka harus membeli kebutuhan pokok yang mahal. Hasilnya, mereka akan meminimalkan pengeluaran agar mampu bertahan dalam krisis yang berkepanjangan. 


Sayangnya, tidak semua keluarga mampu bertahan dan banyak dari mereka justru mengambil jalan keluar dengan bekerja ke kota-kota besar dengan harapan akan mendapatkan uang yang lebih banyak. Akhirnya, kondisi keluarga menjadi tidak harmonis lagi, banyak terjadi perselisihan dan di tengah terpaan kesulitan, mereka meluapkannya pada pasangan atau keluarga terdekat yang menjadi tanggungan nafkahnya.


Adanya paham kebebasan juga membuat suami istri merasa bebas bergaul dengan yang bukan pasangannya, hingga akhirnya selingkuh pun terlintas di pikirannya. Jarak yang jauh, ongkos mahal yang harus dikeluarkan, membatasi keluarga untuk sering bertemu. Sehingga tidak jarang terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan dalam kehidupan yang serba bebas ini. Kemuliaan ikatan pernikahan seolah-olah hanya mainan dan hanya tercantum dalam buku nikah saja. Tidak terdorong untuk betul-betul membina keluarga sakinah mawaddah warahmah sebagai ibadah kepada Allah SWT. Oleh karenanya, sering pula kita jumpai adanya pihak ketiga yang masuk dalam kehidupan rumah tangga yang memicu pertengkaran, bahkan bisa menyebabkan hilangnya nyawa.


Walhasil, peristiwa ini semestinya membuka mata kita bahwa sekuler kapitalisme membuat hidup semakin sempit dan penuh masalah. Pasangan tidak ubahnya seperti mainan yang kalau tidak nyaman langsung dibuang. Kalau merasa marah dengan mudah dianiaya bahkan bisa sampai dibunuh. Permasalahan yang datang silih berganti membuat orang nekad dan tidak berpikir panjang lagi melakukan tindakan yang tidak berperikemanusiaan.


Sesuatu yang mampu mengontrol emosi atau naluri manusia adalah agama. Sebagai muslim, kita wajib meyakini bahwa Islam mampu menyelesaikan berbagai permasalahan, termasuk mengatasi kemarahan. Islam mengajarkan mukmin untuk senantiasa mengontrol nalurinya dan memenuhinya dengan cara mengikuti aturan Islam.


Akidah Islam adalah landasan bagi mukmin untuk mengikuti aturan Allah Subhanahu wa Taala. Apabila keyakinannya kepada Allah sangat kuat, suami istri akan senantiasa bersabar dan berikhtiar dalam segala kesulitan. Mereka yakin, tidak ada sesuatu yang menimpa mereka, kecuali karena kehendak Allah Subhanahu wa Taala. Mereka akan memahami bahwa kesabaran atas segala kesulitan dan masalah akan membuahkan pahala yang akan menjadi tabungan di akhirat kelak. Suami dan istri akan menjadi tim yang kompak dan seirama dalam mewujudkan rumah tangga yang di ridhoi Allah SWT. 


Kemudian Islam juga memiliki penyelesaian yang paripurna. Permasalahan ekonomi akan diatasi dengan penerapan ekonomi Islam. Jaminan diberikan oleh negara bagi setiap kepala keluarga untuk mampu menafkahi keluarganya. Luasnya lapangan pekerjaan dan kemudahan bekerja akan membuat hidup tercukupi sehingga tidak akan muncul masalah ekonomi yang sesulit sekarang. 


Penerapan Islam dalam aturan sosial termasuk pergaulan juga akan menjaga kemuliaan ikatan pernikahan. Di sisi Allah, menikah bukan sekedar tempat menyalurkan naluri melestarikan keturunan. Menikah adalah perjanjian yang sangat berat di hadapan Allah SWT. Sebagai awal kehidupan membangun peradaban manusia yang bertujuan hanya sebagai ibadah kepada Allah dan melahirkan generasi yang beriman dan bertakwa. Kehidupan harmonis dalam rumah tangga, ketaatan anggota keluarga kepada aturan Allah, tercukupinya kebutuhan setiap anggota keluarga, terjaganya keamanan keluarga akan mampu meminimalkan perceraian, perselingkuhan, maupun masalah lainnya. 


Semua pemenuhan itu merupakan tanggung jawab negara sebagai pengurus rakyatnya. Agar negara mempunyai kemampuan mengurus rakyatnya tersebut maka negara harus menjadikan Islam sebagai rujukan dan menerapkan aturan Islam secara keseluruhan dalam setiap aspek kehidupan. Sehingga setiap bagian dari sistem kehidupan akan saling bersinergi dalam mewujudkan ketaatan umat kepada Allah Ta’ala. Dengan begitu, keberkahan dari langit dan bumi akan Allah limpahkan kepada seluruh penduduk negeri.


Wallahu ‘alam bi shawab. 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update