Ummu Azimah
(Aktivis Pendidikan dan Pegiat Literasi)
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, tahun kembali berganti, dari tahun 1446 hijriah ke tahun 1447 hijriah. Bagi setiap muslim sangat penting untuk melakukan muhasabah atau evaluasi, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap umat. Kita harus menyadari, berusaha memantaskan diri, sehingga menemukan jati diri, serta layak mendapatkan kedudukan umat terbaik sesuai dengan janji Allah Swt dalam Al-Qur'an surah Ali Imran ayat 110.
Hal ini tentu tidak dapat kita raih dengan berleha-leha atau lalai, butuh kesabaran, kesungguhan, pengorbanan, keistikamahan dalam keimanan dan ketakwaan. Kita harus memperbaiki semua kekurangan yang ada pada diri sendiri, senantiasa bertaubat dengan taubatan nasuha. Kita evaluasi diri, sebelum kita dihisab oleh Allah nanti di Yaumil Akhir. Kelak, semua yang kita perbuat akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Maka dari itu, kita kerahkan seluruh potensi yang Allah beri, agar bisa berprestasi di hadapan Allah. Jangan lupa memohon pertolongan kepada Allah Swt, libatkan Allah dalam segala aktivitas, serta menjaga kesadaran adanya hubungan dengan Allah yang tidak pernah terputus.
(liputan6.com, 19 Juni 2025)
Kewajiban Muhasabah dan Merefleksikan Sejarah
Evaluasi atau muhasabah hukumnya wajib atas setiap muslim, sebagaimana firman Allah Swt., "Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah. Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Tahu atas apa yang kalian kerjakan."
(QS. Al-Hasyr ayat 18)
Sebagaimana kita saksikan bersama, kondisi umat saat ini sangat memperihatinkan, mereka semakin terpuruk, lemah, tercerai berai, jauh dari pedoman umat Islam yaitu Al-Qur'an dan Sunnah. Mereka hidup di bawah aturan manusia yang senantiasa mengikuti hawa nafsunya, tidak mengenal halal haram, tidak punya standar yang jelas, tidak paham dengan ajaran agamanya sendiri yaitu Islam. Maka jangan heran kalau mereka semakin hina, kedudukannya jauh dari predikat umat mulia, umat terbaik, atau istilah di dalam Al-Qur'an Allah Swt menyebutnya "khairu ummah".
Secara ekonomi, menurut laporan Bank Dunia tahun 2000, dari 57 negara muslim, 29 negara termasuk kategori miskin, padahal tak sedikit negara-negara tersebut kaya akan sumber daya alam, contohnya Indonesia.
Di luar negeri, lebih memilukan lagi. Darah umat tak henti-hentinya ditumpahkan oleh kaum kuffar dan zionis. Kaum muslimin yang bisa dikatakan hampir menjadi umat terbesar di dunia hanya bisa terdiam, tak berdaya menolong saudara seiman yang tengah terzalimi. Bahkan, penguasa muslim tidak sedikit yang berkhianat dan menyakiti sesama muslimnya sendiri.
Hal demikian itu terjadi disebabkan umat kini tersekat dalam batas imajiner yang bernama prinsip nasionalisme. Sebuah prinsip yang bukan berasal dari Islam, tetapi diwariskan dari negara-negara Barat.
Maka dari itu, sudah seharusnya bagi umat merefleksikan kondisi sekarang dengan sejarah, agar umat menemukan jalan keluar dari keterpurukan ini.
Hijrah Hakiki Meneladani Rasulullah saw
Sejarah tidak bisa kita tinggalkan begitu saja. Sangat penting bagi umat ini merefleksikan kondisi sekarang dengan sejarah mereka. Hal ini ditujukan agar umat menemukan jalan keluar dari keterpurukan ini.
Dulu, Khalifah Umar bin Khattab ra, menetapkan awal kalender hijriah dimulai dari peristiwa hijrah Nabi saw. Beliau menyatakan "Akan tetapi, kita akan menghitung penanggalan berdasarkan hijrah Rasulullah. Ini karena sesungguhnya hijrah beliau telah memisahkan antara kebenaran dan kebatilan." (Ibn Al Astir, Al Kamil fi at Tarikh, 1/3)
Hijrah Rasulullah saw.dari Mekah ke Madinah mampu mengubah kehidupan umat Islam saat itu.
Setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah menegakkan tatanan masyarakat yang islami dalam sebuah negara. Sejak saat itu, mereka berubah menjadi umat yang mulia, kuat, dan disegani. Inilah makna hijrah hakiki yang dicontohkan Nabi. Hijrah Nabi saw bersama para sahabat bukanlah melarikan diri dari berbagai persoalan. Akan tetapi, dengan hijrah dari wilayah yang menerapkan hukum-hukum kufur menuju darul iman (wilayah yang menerapkan hukum-hukum Islam), mereka justru menemukan solusi dengan membangun kekuatan dan kekuasaan yang melindungi agama dan umat Islam.
Kekuatan atau kekuasaan sistem pemerintahan Islam ini terus berlangsung di bawah kepemimpinan Khulafaur Rasyidin dan para khalifah selanjutnya yang menerapkan hukum-hukum Islam dan menyebarluaskannya. Umat Islam bersatu padu dengan kekuatan dan kehormatan yang mulia.
Islam Solusi Hakiki
Allah Swt. berjanji di dalam Al-Qur'an surah Al-A'raf ayat 96, "Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Allah akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, jika mereka mendustakan ayat-ayat-Nya, Allah Swt akan menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang telah mereka perbuat."
Dengan demikian, wahai kaum muslimin!
Sudah saatnya kita kembali kepada Islam secara menyeluruh (kaffah). Sudah seharusnya kita taat dan patuh kepada seluruh aturan-aturan Allah Swt. Sang Maha Pengatur, dengan mengikuti Rasulullah Muhammad saw. sebagai teladan dalam melanjutkan kehidupan Islam yang sesungguhnya.
Marilah kita bersama-sama berjuang menegakkan syariat-Nya, agar selamat di dunia dan akhirat, meraih derajat takwa serta predikat khairu ummah.
Wallahuallam bissawab.
No comments:
Post a Comment