Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Guru Mengajar dengan Hati, Hidup dengan Gaji Minim!

Tuesday, July 15, 2025 | Tuesday, July 15, 2025 WIB

 


Oleh: Vella Arba Juli Ayu (Aktivis Remaja Andoolo) 


Profesi guru memang memiliki tantangan tersendiri, terutam dalam hal gaji yang tidak sebanding dengan beban kerja dan tanggung jawab yang besar. Banyak guru yang harus bekerja keras untuk meningkatkan kualitas pendidikan, namun dihadapkan pada keterbatasan sumber daya dan gaji yang rendah.


Sebagaimana yang dilansir oleh BANTENRAYA.COM, para guru yang mendapatkan tugas tambahan atau tuta namun tidak mendapatkan honor tuta menyatakan siap menggelar aksi demonstrasi menuntut hak mereka. Pasalnya, sudah enam bulan sejak Januari 2025 honor tuta mereka tidak dibayarkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan atau Dindikbud Provinsi Banten (29/6/2025). 

   

Seperti yang dikatakan oleh anggota komisi X DPR RI Juliantmono dalam kunjungan kerja komisi X ke jambi, kamis (8/5/2025) ”gaji guru standarnya harus Rp 25 juta per bulan. Ini baru akan ideal di Indonesia, dan minat menjadi guru akan meningkat”.

     

Di Indonesia sendiri, berdasarkan data kementrian pendidikan, kebudayaan, riset, dan teknologi tahun 2024, rata-rata gaji guru ASN golonga III baru berkisar Rp 4 juta perbulan, sementara guru honorer bisa jauh di bawah itu, bahkan di bawah UMR daerah. Hal ini menujukkan adaya kesenjangan besar antara beban kerja dan penghargaan terhadap profesi guru. Bahkan laporan data terbaru dari badan pusat statistik (BPS), keadaan ketenagakerjaan Indonesia Februari 2025 yang rilis 5 mei 2025, sektor pendidikan termasuk dalam bidang usaha dengan gaji terendah Indonesia dengan Rp 2,9 juta per bulan.

 

Inilah dampak dari buah sistem kapitalisme sekularisme, di mana untuk kepentingan gaji guru sangat rendah, sementara korupsi triliunan bagi para pejabat sudah tidak terhitung lagi. Sangat jelas ini merupakan ketimpangan disistem ini. Akhirnya akan berdampak dan dapat mempengaruhi motivasi dan kinerja guru, juga yang pada akhirnya berdampak pada kualitas pendidikan. Selain itu juga guru dengan gaji rendah dapat mempengaruhi kesejahteraan guru dan keluarga mereka, sehingga mempengaruhi kualitas hidup mereka, dan menyebabkan stres dan kelelahan pada guru, yang dapat mempengaruhi kesimbangan kerja dan kehidupan pribadi.


Sudah seharusnya pemerintah menjadikan kesejahteran bagi guru. Kesejahteraan guru dalam sejarah peradaban Islam sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam yang menekankan pentingnya pendidikan dan pengetahuan. Masyarakat Islam pada umumnya memberikan penghargaan tinggi terhadap pekerjaan guru dan memberikan dukungan finansial untuk memastikan permulaan pengajaran.


Didirikannya universitas dan pusat-pusat pembelajaran tinggi di dunia Islam merupakan bentuk penghargaan terhadap peran guru dan ilmuwan. Contohnya, Universitas Al-Qarawiyyin di Fes, Maroko, diakui sebagai universitas tertua yang masih beroperasi, Didirikan pada tahun 859 M.Tentu saja semua ini sangat berbeda dengan kondisi guru pada masa sekarang, yakni masa di mana Islam tidak diterapkan lagi. Nasib guru sekarang ini tak seindah namanya. 


Menjadi guru yang senantiasa menerima dan ikhlas itu penting, namun membangun sistem agar guru-guru benar-benar sejahtera juga sangat penting, karena guru juga manusia biasa. Sementara tuganya sungguh sangat berat, yakni menentukan hitam putih suatu peradaban bangsa. Semoga Islam kembali jaya, sehingga guru tambah sejahtera. Wallahu a'alam bish-showab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update