Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Muharram, Moment Mengembalikan Khoiru Ummat

Thursday, June 26, 2025 | Thursday, June 26, 2025 WIB
Muharram, Moment Mengembalikan Khoiru Ummat

Oleh: Yuni Masruroh

Aktivis Muslimah


Tahun baru Islam 1447 Hijriyah tidak lama lagi akan tiba. Berdasarkan kalender Hijriyah kementerian agama, tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriyah jatuh pada Jumat 27 juni 2025. Sebagaimana kita ketahui,  bulan Muharram ini menjadi moment dimana ummat Islam berlomba-lomba untuk meraih kebaikan-kebaikan dan keberkahan. Di bulan Muharram ini umat Islam akan memperbanyak amalan-amalan sunnah dan ibadah-ibadah yang lainnya. Melihat betapa banyak pahala yang bisa di raih di bulan Muharram ini. 

Sayangnya tahun baru Islam kali ini masih diwarnai dengan berbagai persoalan yang masih terus menimpa umat Islam dan nasib umat semakin suram. Genosida Palestina masih terus terjadi di tengah pengkhianatan penguasa negeri-negeri muslim. Mereka tidak bergerak sama sekali untuk mengirim pasukan ke Gaza. Umat Islam di Gaza masih dijajah oleh Zionis Israel, mereka dibuat mati perlahan karena kelaparan. Bahkan ketika bantuan makanan masuk, umat Islam di Gaza harus bertaruh nyawa untuk sekedar mengambil bantuan makanan itu karena tentara Zionis juga menyerang tempat pembagian bantuan makanan. 

Selain polemik penjajahan Palestina, terjadi juga perang antara Iran dan Zionis Israel yang mengundang beragam respon. Seharusnya tahun baru Islam bukan sekedar perayaan tahunan. Pergantian tahun adalah momentum untuk intropeksi bagi umat Islam. Allah telah melabeli umat Islam sebagai umat yang terbaik. Allah SWT berfirman: "Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia" (QS. Ali Imron: 110). 

Abu Hurairah radhiyallahu Anhu mengatakan, makna yang dimaksud adalah sebaik-baik manusia untuk umat manusia, kalian datang membawa mereka dalam keadaan terbelenggu pada lehernya dengan rantai selanjutnya mereka masuk Islam. Umar bin Khattab radhiyallahu Anhu pernah mengatakan bahwa "barangsiapa yang ingin dirinya termasuk golongan umat ini hendaklah ia menunaikan syarat yang ditetapkan oleh Allah di dalamnya", atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir. Dengan demikian, sebenarnya jati diri umat Islam adalah sebagai pembawa cahaya bagi kehidupan. Umat Islam akan memimpin umat yang lain agar meninggalkan kegelapan, kebodohan dan kehinaan untuk kemudian mengambil cahaya Islam. 

Karena itu aktivitas amar ma'ruf nahi mungkar memang sudah seharusnya menjadi aktivitas yang melekat di dalam diri umat Islam. Itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Beliau tanpa lelah melakukan dakwah di Mekah dan sekitarnya serta mengajak manusia kepada kemuliaan Islam hingga akhirnya Rasulullah mendapatkan kekuasaan yang menolong dari tangan Sa'ad bin Muadz, yaitu seorang tokoh dari suku Aus pemimpin dari Bani Asyhal. Melalui kekuasaan itu Rasulullah akhirnya bisa menerapkan syariat Islam secara kaffah dalam sebuah institusi negara bernama negara Islam. Karena itulah Rasulullah dan para sahabat hijrah dari Mekah ke Madinah. Bukan dalam rangka menyelamatkan diri dari siksaan kaum kafir Quraisy karena keteguhan mereka memegang Islam, melainkan hijrah untuk beralih dari darul kufur ke darul Islam atau negara Islam. Inilah moment manusia berpindah dari kegelapan menuju cahaya Islam dalam naungan negara Islam di Madinah. 

Kemudian peristiwa hijrahnya Rasulullah ke darul Islam di Madinah ini diperingati sebagai satu Muharram. Sayangnya hari ini predikat sebagai umat terbaik tak tampak nyata dalam kehidupan kita. Jangankan menjadi pemimpin umat lain untuk menuju cahaya Islam, kaum muslimin justru terpuruk dalam lembah kehinaan dan kenestapaan. Genosida dan penjajahan di Palestina, carut-marutnya kehidupan umat Islam dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, jauhnya generasi Islam dari ajaran Islam yang murni, rusaknya kehidupan bernegara dan bermasyarakat,  tersekatnya umat Islam dengan nasionalisme merupakan realitas rusak yang jauh dari standart Khoiru Ummat. 

Umat Islam sudah seharusnya merenungi bahwa kondisi buruk yang mereka alami adalah akibat jauhnya mereka dari aturan Allah SWT. Allah telah memperingatkan hal tersebut dalam QS. Thaha ayat 124: "Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Ali bin Abi Thalib meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang FirmanNya, "maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit" maknanya adalah kesengsaraan. Keterpurukan umat Islam hari ini mengakibatkan umat Islam tidak lagi menjadi khairu ummah, sebabnya adalah umat Islam tidak lagi berpegang teguh pada aturan Allah dalam setiap sendi kehidupan. 

Umat Islam mengambil pemikiran Barat yaitu sekulerisme sebagai keyakinannya, padahal ia adalah paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Sementara itu sistem kehidupan umat Islam berada di bawah ideologi kapitalisme, sistem kehidupan yang menjadikan materi sebagai tujuan hidup. Akibatnya umat Islam diperdaya dan direndahkan oleh barat, bahkan tunduk padanya. Satu-satunya cara untuk meraih kembali kemuliaan adalah dengan kembali kepada aturan Allah dan menerapkannya dalam kehidupan secara kaffah. Rasulullah mencontohkan kehidupan Islam secara kaffah membutuhkan institusi negara, sampai-sampai beliau harus hijrah dari Mekkah ke Madinah. 

Jadi umat Islam hari ini harus menyadari bahwa solusi tuntas semua keterpurukan ini hanya dapat terwujud dengan hadirnya institusi negara Islam. Berdirinya khilafah niscaya akan menjadi institusi junnah atau perisai bagi umat Islam. Namun berdirinya khilafah membutuhkan perjuangan dari umat Islam sebagaimana Rasulullah dan para sahabat dulu berjuang. Perjuangan seperti ini menuntut adanya bimbingan dari jamaah dakwah Islam ideologis yang tulus dan istiqomah berjuang dijalan Allah. Jamaah dakwah tersebut mengambil metode dakwah Rasulullah sebagai metode dakwahnya. InsyaAllah perjuangan umat bersama jamaah dakwah Islam ideologis akan mengantarkan umat kepada kemuliaan sebagai Khoiru ummat.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update