Oleh Ummu Aidzul
Tenaga Pendidik
Genosida rakyat Palestina terus berlanjut hingga kini. Selama kurang lebih 600 hari lamanya pembantaian, korban yang tewas di Gaza mencapai lebih dari 54 ribu orang. Tempat ibadah, rumah sakit, fasilitas air bersih, dan bangunan lainnya hancur tak bersisa. Anak-anak, perempuan, orang tua, wartawan bahkan dokter yang merawat korban yang terluka turut menjadi incaran tentara Israel. Mereka yang masih bertahan hidup seolah dibiarkan mati perlahan karena kelaparan. Mereka sungguh tak memiliki hati nurani. Perjanjian gencatan senjata yang sempat terjadi atas inisiasi Mesir, Qatar dan Amerika Serikat justru dilanggar oleh pihak militer Israel. Selain itu, mereka juga menutup akses sehingga bantuan sulit masuk ke wilayah Gaza.
Masyarakat dunia tentu tidak tinggal diam. Aksi kecaman atas kejahatan Israel diserukan di berbagai negara. PBB sendiri sudah menyerukan untuk menghentikan peperangan, namun tidak digubris. Akibat dari perilaku buruk tersebut banyak negara yang tidak mau berhubungan dengan Israel. Termasuk Indonesia yang tidak pernah mau mengakui dan membuka hubungan diplomatik.
Namun tiba-tiba muncul pidato dari presiden Prabowo yang menyatakan akan mengakui keberadaan negara Israel jika mereka mau mengakui keberadaan negara Palestina. Bahkan bersedia membuka hubungan diplomatik. Hal ini diungkapkan saat melakukan jumpa pers di Istana Negara bersama presiden Perancis Emmanuel Macron. (CNNINDONESIA, 30 Mei 2025)
Sejak Dulu Indonesia Tegas Menolak Hubungan Diplomatik dengan Israel
Pernyataan presiden tersebut tentu menimbulkan pro kontra. Apalagi Indonesia berhubungan dekat dengan Palestina. Pada saat Indonesia merdeka, Palestina termasuk salah satu negara yang mendukung dan mengakui kemerdekaan Indonesia. Karena itulah Presiden Soekarno dengan tegas menolak untuk berhubungan dengan Israel dan menolak timnas untuk bertanding melawan tim dari Israel pada saat kualifikasi menuju perhelatan Piala Dunia pada tahun 1958.
Penolakan hubungan diplomatik dengan Israel juga dilakukan oleh Presiden Megawati yang berpendapat penjajahan Israel atas Palestina bertentangan dengan pembukaan UUD 1945. Begitu pun sikap presiden SBY tegas menolak Israel. Maka pernyataan Pak Prabowo sangat jauh berbeda dibandingkan presiden yang terdahulu.
Pernyataannya yang akan mengakui keberadaan negara Israel jika mau mengakui kemerdekaan Palestina adalah jebakan dari solusi "two nation state" yang diusung oleh Inggris dan Amerika. Padahal sejatinya wilayah itu milik rakyat Palestina dan Israel adalah penjajah yang merampas tanahnya.
Mengakui Israel berarti mengkhianati perjuangan rakyat Palestina, tentara muslim di masa Khalifah Umar bin Khattab, Shalahuddin Al-Ayyubi, korban Nakba, intifada dan martir taufan Al-Aqsa.
Kita semua tentu menginginkan kemerdekaan bagi rakyat Palestina. Tapi hal itu tidak mungkin terwujud dengan perjanjian damai dengan pihak penjajah. Karena kita semua sudah melihat watak asli negara Israel yang tidak pernah menepati janji. Mereka bahkan mengingkari perjanjian gencatan senjata yang dilakukan bulan Januari lalu.
Kemenangan Palestina Hanya dengan Jihad dan Persatuan Umat
Sebenarnya, penjajahan ini berlangsung begitu lama dan tanpa ada yang bisa menghentikan dikarenakan tidak adanya satu pun pemimpin muslim yang tegas mengirimkan pasukannya untuk melawan tentara zionis. Sehingga mereka semakin semena-mena dan brutal karena tahu tidak akan ada yang benar-benar berani melakukan aksi nyata untuk mencegah kejahatan mereka. Para pemimpin itu hanya berani mengecam aksi keji zionis, sambil diam-diam bergandengan tangan dengannya. Seperti yang dilakukan oleh negara Arab Saudi.
Hal ini dikarenakan umat Islam yang terpecah menjadi banyak negara semenjak runtuhnya Kekhilafahan Utsmani tahun 1924 silam. Setiap negara dipimpin oleh pemimpin yang takluk kepada Barat yang kini dipimpin oleh Amerika. Mereka tidak berani melakukan aksi nyata melawan Israel, karena mengetahui bahwa Amerika adalah penyokong dan sahabat dekatnya.
Maka kemenangan Palestina hanya bisa terwujud dengan persatuan umat di bawah satu kepemimpinan. Umat Islam yang berjumlah 2 milyar orang ketika bersatu mendirikan negara Islam maka akan membentuk satu negara adidaya baru. Sebuah negara yang berdiri atas ideologi yang shahih yakni Islam. Pemimpin negara Islam inilah yang akan memberikan komando jihad untuk mengusir Israel dari tanah Palestina.
Maka kita wajib untuk mengupayakan tegaknya sistem kepemimpinan Islam melalui thariqah dakwah Rasulullah saw. Karena seorang Khalifah inilah yang akan menjadi perisai dan pelindung rakyatnya sebagaimana sabda Rasulullah saw.
"Sesungguhnya imam itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya"
(HR Mutafaq 'Alaih)
Wallahualam bissawab
No comments:
Post a Comment