Oleh Yeni Suryani
Aktivis
Muslimah
Belum lama ini, kita telah merayakan Idul
Adha. Hari raya agung ini diperingati oleh setiap muslim di dunia. Sayangnya
Idul Adha kali ini umat masih belum menemukan kebersamaan dalam
pelaksanaannya.
Dikutip dari KONTAN.CO.ID. Jakarta. Organisasi
keagamaan Muhammadiyah telah menetapkan tanggal pasti Idul Adha. Yaitu pada
tanggal 6 Juni 2025 bertepatan dengan hari Jumat. Mereka menetapkannya lewat
metode hisab hakiki wujudul hilal. Beberapa negara seperti Malaysia merayakan
hari raya Idul Adha pada Sabtu, 7 Juni 2025. Termasuk beberapa negeri kaum
muslim yang lain ada yang tidak sama dalam melaksanakan hari raya Idul Adha.
Kita sering mendengar kata Toleransi, mungkin
itu hanya berlaku untuk keragaman suku, ras, budaya, bahasa, dan hal yang
bersifat cabang dalam agama. Dalam hal ini dibolehkan untuk adanya perbedaan
pendapat. Tetapi untuk sesuatu yang pasti salah satunya akidah. Maka seharusnya
tidak ada perbedaan. Seperti halnya dalam perayaan Hari Raya Idul Adha,
seharusnya tidak ada perbedaan ketika umat Islam merayakannya sebagaimana
disepakati bahwa idul adha ditetapkan/ditentukan oleh Amir Mekkah di 0mana
dirayakan setelah wukuf di Padang Arafah sehari sebelumnya.
Jadi seharusnya tidak ada perbedaan di
antara umat Islam dalam menetapkan Idul Adha.
Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah
ayat :197 :
"(Musim) haji itu (pada) bulan bulan
yang telah di maklumi.Barang siapa mengerjakan (Ibadah) Haji dalam (bulan
bulan) itu,maka janganlah dia berkata jorok (rafats) Berbuat maksiat dan
bertengkar dalam (Melakukan ibadah) Haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah
mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik baiknya bekal adalah
takwa. Dan bertakwalah kepada -Ku wahai orang orang yang mempunyai akal sehat."
Persatuan idul adha seringkali hanya
sesaat, selepas itu umat kembali tercerai berai dan bahkan saling bermusuhan.
Hal ini terjadi karena umat Islam tersekat dalam status sekat bangsa yang
dibangun oleh sistem kapitalis sekuler. Sistem ini memisahkan agama dari
kehidupan. Di mana aturan agama hanya dikerjakan dalam masalah ibadah,
sedangkan untuk kehidupan sosial menggunakan aturan manusia yang berasal dari
pemikiran manusia. Sehingga dalam masalah di luar ibadah, aturannya
berbeda-beda. Sedangkan jika ingin menyatukan umat haruslah menggunakan aturan
dan sistem yang sama yaitu aturan Islam.
Persatuan sejatinya hanya dapat terwujud
dalam institusi politik Islam global yang menyatukan umat dalam satu tubuh dan
tujuan dengan sepenuhnya patuh pada aturan syariat Islam.
Wallahu'alam bissawab.

No comments:
Post a Comment