Sari Setiawati
Berjuta- juta umat Islam dari berbagai penjuru dunia berbondong-bondong menuju Kota Suci Makkah untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima, yakni ibadah haji. Hakikat ibadah haji bukanlah sekedar ibadah ritual yang hukumnya wajib bagi yang mampu, tetapi merupakan momentum untuk menyatukan umat dalam satu tujuan, yaitu kataatan kepada Allah SWT.
Ibadah haji selain merupakan puncak ketaatan seorang hamba kepada penciptanya, juga sebagai simbol persatuan umat Islam secara global, karena kaum Muslim dari seluruh dunia berkumpul tanpa memandang perbedaan ras, bahasa, atau status sosial. Semuanya mengenakan pakaian ihram yang sama, dan berdoa kepada Tuhan yang sama.
Akan tetapi sangat disayangkan, momentum persatuan antar kaum muslim dari berbagai penjuru dunia tersebut, hanya untuk ibadah haji saja bukan dalam urusan yang lainnya. Setelah selesai melaksanakan ibadah haji mereka kembali ke negerinya masing-masing dan umat Islam kembali terpecah-belah oleh batas nasionalisme dan negara-bangsa (nation-state).
Akibatnya persatuan umat Islam yang hakiki tidak akan pernah terwujud. Semestinya ibadah haji menjadi titik tolak untuk membangun persatuan ideologis umat Islam secara global, yang salah satunya terwujud dalam bentuk kepedulian dan solidaritas kepada sesama muslim, khususnya yang ada di Palestina. Umat Islam seperti satu tubuh, jika satu anggota tubuh sakit maka semua akan merasakan sakit. Seperti halnya saat ini derita kaum Muslim Palestina, harus dirasakan oleh seluruh umat Islam, termasuk jamaah haji, yang dikelola oleh Pemerintah Saudi, seharusnya menjadi platform untuk menggalang dukungan dan solidaritas umat Islam sedunia bagi Palestina. Sayangnya, hal ini tidak dilakukan oleh para penguasa Arab dan negeri Muslim lainnya, ketika kaum Muslim Palestina masih terus digenosida oleh entitas Yahudi, hingga hampir enam puluh ribu nyawa yang tewas, termasuk diantaranya perempuan, anak-anak, bahkan bayi.
Para penguasa muslim saat ini, termasuk penguasa Arab, tidak menyerukan jihad untuk memerangi entitas Yahudi dalam mengusir mereka dari tanah Palestina. Tetapi justru malah bekerjasama dengan penyokong utama entitas Yahudi yaitu Amerika Serikat (AS), yang kedatangan presidennya disambut dengan gegap gempita, bahkan menghadiahinya dengan berbagai investasi ekonomi, termasuk pemerintahan Saudi.
Padahal pemerintah Saudi mengklaim sebagai Pelayan Dua Kota Suci (Makkah dan Madinah) dan juga pelayan setiap tahunnya bagi jutaan jamaah haji dari seluruh penjuru dunia. Tetapi untuk membela kaum Muslim Palestina yang sedang kelaparan dan ancaman jutaan ton bom-bom, mereka enggan membantu. Seharusnya mereka menyerukan jihad untuk membela kaum Muslim Palestina. Karena jihad lebih utama daripada melayani jamaah haji dan membangun mesjid al-Haram. Oleh sebab itu, seharusnya pemerintah Saudi dan para penguasa Arab dan negeri-negeri Muslim lainnya, mengerahkan tentaranya untuk berjihad di Palestina, karena di dalam Islam, satu nyawa seorang muslim sangat berharga di sisi Allah SWT dan Rasul-Nya. Allah SWT telah menetapkan bahwa pembunuhan satu jiwa tak berdosa sama dengan menghilangkan nyawa seluruh umat manusia.
Dalam penerapan syariah Islam dari masa kepemimpinan Rasulullah saw sebagai pemimpin dan kepala negara kaum muslimin, hingga masa Khulafaur Rasyidun, dan khalifah setelah mereka, tak ada darah seorang muslim pun ditumpahkan, melainkan akan diberikan pembelaan dan perlindungan dari setiap ancaman dan gangguan oleh kekuatan institusi negara yang menerapkan Islam secara kaffah. Inilah hakikat persatuan umat Islam dan ketaatan kepada Allah SWT secara hakiki, yang harusnya terefleksi dalam kehidupan kaum muslimin sebagai wujud dari hakikat pelaksanaan ibadah haji, melalui penegakkan syariat Islam kaffah dalam institusi negara sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.

No comments:
Post a Comment