Oleh Erna
Aktivis Dakwah
Pernyataan anggota Kongres AS Randy Fine dalam wawancaranya dengan Fox News soal penggunaan nuklir untuk menghancurkan Gaza cukup menuai kontroversi. Ia mengatakan, “Satu-satunya akhir dari konflik ini adalah penyerahan diri sepenuhnya oleh mereka yang mendukung teror muslim. Dalam Perang Dunia II, kami tidak menegosiasikan penyerahan diri dengan Nazi. Kami tidak menegosiasikan penyerahan diri dengan Jepang. Kita mengebom Jepang dua kali untuk mendapatkan penyerahan tanpa syarat. Itu juga yang harus terjadi di sini (Gaza). (www.antaranews.com, 21/05/2025)
Bukan hal yang baru, narasi ancaman agar Gaza dibom dengan bom nuklir sejatinya bukan yang pertama. Akhir-akhir ini, beberapa pejabat entitas Zion1s dan sekutunya (Amerika) kian berani secara terang-terangan menyerukan penggunaan senjata—yang sudah lama dianggap tabu dan terkutuk—hanya demi segera mengakhiri perlawanan rakyat Palestina di Gaza.
Politisi Amerika yang pernah menyampaikan seruan serupa sebelum Randy Fine adalah Tim Walberg anggota Partai Republik dari wilayah Michigan. Ia menyampaikan pernyataan untuk penyelesaian Gaza dalam sebuah rapat umum pada 25 Maret 2024. Saat itu ia mengatakan, “Selesaikan dengan cepat!” Dan “Itu harus seperti Nagasaki dan Hiroshima.” Dan masih banyak lagi pernyataan-pernyataan yang serupa yang di sampaikan oleh beberapa tokoh penting lainnya.
Pernyataan-pernyataan tersebut memang telah mengakibatkan kemarahan yang meluas di Amerika bahkan dunia. Selain karena narasi penggunaan nuklir dipandang sebagai sebuah kemunduran dan pelanggaran terhadap kesepakatan internasional, sebagian pihak melihat ini sebagai bagian dari dehumanisasi meluas terhadap warga Palestina. Bahkan sampai saat ini belum ada satu pun yang mencabut pernyataannya secara resmi.
Pada kenyataannya, meski bom nuklir belum digunakan di Gaza, tetapi dampak serangan Zion1s di sana sudah jauh melebihi penggunaan bom nuklir di Nagasaki dan Hiroshima. Bahkan sebagian pengamat menyebut efeknya lebih besar tujuh kali lipat!
Jumlah korban belum menyamai korban nuklir Jepang yang mencapai 140.000 kasus kematian, tetapi kehancuran di Gaza jauh lebih mengerikan. Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan, hingga Sabtu (24/5), korban syahid di Gaza sudah mencapai 53.901 orang dan 122.593 orang lainnya luka-luka. (tempo.co, 24/5/2025). Mereka hidup di tengah blokade penuh yang menyebabkan Gaza mengalami krisis pangan, air bersih, energi, obat-obatan, fasilitas kesehatan, sekolah, dan lain-lain.
Jangan lupa bahwa “negara hoax ” Zion*s juga merupakan negara pemilik nuklir, meski kondisinya dirahasiakan dan mereka pun selalu mendapat dukungan penuh dari Amerika.
Ironisnya, situasi ini terus berjalan di tengah sikap para penguasa muslim dunia yang seakan tuli dan buta. Mereka benar-benar menutup mata dan telinga atas penderitaan warga Gaza. Mereka hanya mencukupkan diri dengan bantuan ala kadarnya itu pun demi sekadar menutup aib tentang lemahnya posisi politik mereka di hadapan Zion*s dan sekutunya, Amerika.
Mereka dibutakan oleh sekat kebangsaan dan ketaatan kepada sekutu-sekutu Barat, khususnya Amerika. Kekuasaan mereka begitu bergantung kepada Barat yang selama ini telah menyokong kekuasaannya.
Mereka tunduk pada arahan Amerika yang menginginkan agar mereka berdiri di sisi Zion*s dan menormalisasi hubungan dengannya. Alih-alih menolong Gaza dengan kekuatan politik dan senjata yang dipunya, justru berbondong-bondong pergi meninggalkannya.
Seperti halnya Arab Saudi, alih-alih berbangga telah mewarisi risalah Islam yang mulia dan menjadi contoh terdepan mengenai upaya membela kehormatan Islam dan umatnya, para penguasanya justru tengah membangun visi mengembalikan citranya sebagai pusat jahiliah modern di dunia. Mereka pun lupa pada identitas Arab dan kemuslimannya, hingga tanpa ragu membuka lapak-lapak kemaksiatan secara legal.
Peran mereka makin jauh dari apa yang diinginkan oleh Islam. Sehingga sulit mengharapkan mereka akan memimpin perlawanan atas semua kezaliman, termasuk yang menimpa umat Islam di Gaza.
Padahal saat Arab Spring terjadi 2011 silam, banyak yang berharap para penguasa Arab akan bangkit dari posisinya sebagai negara terjajah, lalu memimpin perubahan melawan hegemoni Barat dengan bendera Islam. Tetapi faktanya, mereka hanya berganti tuan dan telah terjangkit penyakit wahn, yakni penyakit cinta dunia dan takut akan kematian.
Sementara penguasa muslim dunia lainnya, lebih tidak bisa diharapkan. Mereka tampak garang di permukaan, tetapi tangan dan kaki mereka terbelenggu oleh "kepentingan nasional” dan berbagai kesepakatan atau UU internasional. Negara-negara penjajah telah benar-benar berhasil menebarkan racun yang paling mematikan, yakni paham sekuler dan nasionalisme yang membutakan.
Umat Islam dahulu kuat karena disatukan oleh satu kepemimpinan Islam, kini tercerai berai menjadi puluhan negara bangsa yang lemah dan didikte kekuatan besar. Mereka dahulu mulia karena Islam, justru terhina dan terjajah lantaran berani mencampakkan Islam sebagai undang-undang kehidupan.
Pertanyaannya “Sampai kapan ini berlangsung?”
Imam An-Nawawi dalam syarahnya di kitab Sahih Muslim, menjelaskan dengan jelas bahwa imam/khalifah adalah junnah (perisai). Ia bagaikan tirai/penutup karena menghalangi musuh menyerang kaum muslim, menghalangi sebagian masyarakat menyerang sebagian yang lain, melindungi kemurnian Islam, dan tempat orang-orang berlindung kepadanya.
Begitulah yang tampak saat umat Islam ada di bawah naungan khilafah sebagai sistem kepemimpinan Islam. Tiga belas abad lamanya, kehormatan kaum muslim, harta, darah, bahkan nyawa mereka, benar-benar terjaga dari gangguan musuh-musuhnya. Mereka dipersatukan oleh kekuatan yang tidak ada bandinnya. Khilafah tampil menjadi negara adidaya dengan peradabannya yang paling terdepan.
Kesuksesan khilafah menjaga serta memuliakan rakyatnya benar-benar tercatat dengan tinta emas sejarah. Bahkan kewibawaannya masih terngiang-ngiang hingga sekarang di telinga musuhnya. Sehingga janji Allah tentang kebangkitannya pada masa yang akan datang, benar-benar menjadi mimpi buruk bagi mereka, dan berbagai upaya pun mereka lakukan untuk menghambat penegakkannya.
Semua yang terjadi di Gaza Palestina, bahkan di negeri-negeri yang umat Islamnya tertindas karena agama, seharusnya cukup untuk menyadarkan kita tentang urgensi perjuangan mengembalikan khilafah ke tengah umat. Solusi bagi Gaza dan negeri Muslim lainnya, hanyalah pengiriman tentara dan senjata, sedangkan mereka tidak mungkin berharap pada para penguasa yang ada.
Harapan mereka hanya pada hadirnya seorang khalifah, yakni seorang pemimpin yang dibaiat oleh umat untuk menegakkan hukum-hukum Allah saja. Khilafahlah yang akan menggerakkan seluruh kekuatan yang dimiliki umat Islam di dunia. Khilafahlah yang akan menabuh genderang perang pada siapa pun yang menzalimi rakyatnya.
Niscaya khilafah akan mengalahkan semua musuh-musuhnya dan mengembalikan kemuliaan umat, termasuk mereka yang hari ini sedang tertindas di Gaza.
Wallahualam bishawab

No comments:
Post a Comment