Para pelajar kelas 12 di berbagai penjuru Indonesia telah menyelesaikan Ujian Akhir Sekolah (UAS) dan bersiap menghadapi Ujian Akhir Nasional (UAN). Ini menandakan bahwa mereka akan segera lulus dari bangku SMA dan melanjutkan studi ke perguruan tinggi sesuai pilihan masing-masing.
Proses seleksi masuk perguruan tinggi juga sudah berjalan sejak April 2025. Terdapat berbagai jalur masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS), seperti Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), serta jalur Mandiri.
Namun baru-baru ini, publik digemparkan oleh isu kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) SNBT 2025. (Sumber: Beritasatu.com)
Isu ini mencuat karena tersebarnya soal-soal ujian melalui berbagai platform media sosial. Meski begitu, pihak panitia membantah bahwa itu merupakan kebocoran soal. Menurut mereka, kecurangan dilakukan oleh sejumlah peserta yang berhasil menyelundupkan kamera tersembunyi dalam alat-alat tak terdeteksi seperti behel gigi, kancing baju, dan ikat pinggang.
“Paket soal UTBK telah disiapkan berbeda untuk setiap sesi, jadi tidak ada pengulangan soal,” tegas seorang panitia dalam pernyataan resminya. (Beritasatu.com, Jumat 25/4/2025)
Pada hari pertama ujian, terungkap sembilan kasus kecurangan, dan lima kasus lagi terjadi pada hari kedua. Ketua panitia SNPMB, Prof. Eduart Wolok, mengonfirmasi hal ini. Ia menyebut bahwa dari 196.328 peserta, kasus yang ditemukan hanya 0,0071 persen. (Kompas.com, Kamis 24/4/2025)
Kebebasan Tanpa Batas & Budaya Curang
Kecurangan dalam UTBK sering dianggap sebagai kesalahan pribadi individu. Namun, masalah ini sesungguhnya mencerminkan kerusakan sistemik yang lebih dalam, yakni akibat dari penerapan sistem Kapitalisme-Sekuler. Sistem ini mengedepankan keuntungan dan kepentingan materi semata, tanpa mempertimbangkan aspek moral dan nilai agama.
Agama dianggap sebatas urusan ibadah individu seperti salat dan puasa. Ketika ajaran agama tidak lagi menjadi pedoman hidup, maka terbentuklah masyarakat liberal yang bertindak sesuai kepentingan pribadinya.
Dalam sistem kapitalis, ukuran kesuksesan adalah harta dan status sosial. Tekanan untuk diterima di kampus ternama demi masa depan yang cerah secara ekonomi, membuat sebagian orang rela menempuh jalan pintas, termasuk dengan cara tidak jujur.
Masalah ini tidak hanya mencerminkan krisis moral individu, tetapi juga menunjukkan bahwa sistem saat ini menormalisasi persaingan tidak sehat demi status dan keuntungan. Akibatnya, lahirlah generasi yang lemah secara mental dan terbiasa dengan cara instan. Generasi semacam ini jelas tidak mencerminkan pribadi yang bertakwa.
Membangun Generasi Tangguh dengan Sistem Islam
Berbeda dengan sistem Islam, pendidikan bukan hanya sarana untuk mendapat pekerjaan, melainkan sarana membentuk pribadi bertakwa dan taat pada aturan Allah SWT.
Dalam sistem Islam, negara menjamin kebutuhan dasar warganya: sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Pendidikan diberikan secara gratis dan berkualitas untuk semua kalangan, tanpa diskriminasi, guna membentuk generasi unggul.
Generasi yang dibentuk oleh sistem Islam akan memiliki kepribadian yang berlandaskan Islam (Syakhshiyah Islamiyah), cara berpikir Islami (Aqliyah Islamiyah), serta sikap yang selaras dengan nilai Islam (Nafsiyah Islamiyah). Tujuan hidup mereka adalah menggapai ridho Allah, dan segala bentuk kemajuan—termasuk teknologi—akan digunakan sesuai dengan prinsip halal-haram yang ditetapkan syariat.
Karena itu, hanya dengan menerapkan sistem Islam secara menyeluruh (kaffah), amal perbuatan setiap individu dan masyarakat dapat dikontrol. Sebab Islam adalah rahmat bagi seluruh umat manusia.
Wallahu a’lam bish-shawab
No comments:
Post a Comment