Oleh Maryatiningsih
Aktivis Dakwah
Dunia pendidikan di negara tercinta Indonesia
masih jauh dari harapan dan kelayakan,
baik sarana maupun kurikulum yang berlaku. Faktanya masih banyak anak-anak yang
tidak sekolah karena terkendala ekonomi dan minimnya pemahaman terkait pentingnya
pendidikan. Faktor lain adalah sulitnya akses belajar di pedalaman, terkadang mereka
harus melewati sungai atau jembatan yang telah rusak. Padahal sebenarnya jembatan
tersebut sudah tidak layak digunakan menuju sekolah.
Belum lagi banyak tenaga pengajar (guru) yang tidak amanah dengan tugasnya atau memilah-milah tempat bekerja. Mereka banyak yang memilih untuk mengajar di daerah perkotaan. Akibatnya, jumlah tenaga pengajar di daerah terpencil sangat sedikit. Inilah yang menjadi penyebab terjadinya ketimpangan pendidikan antara wilayah perkotaan dan wilayah pedesaan, khususnya daerah terpencil. (setneg.go.id, 19/8/2024)
Salah satu penyebab munculnya permasalahan di dunia pendidikan kita adalah karena lemahnya ekonomi masyarakat. Jangankan untuk biaya sekolah, sekedar buat makan saja banyak yang merasa kesulitan. Akibat lemahnya ekonomi banyak orang yang memilih berhenti sekolah atau tidak sekolah. Mereka berpikir lebih baik memilih bekerja atau diam di rumah, agar bisa mengurangi beban pengeluaran keluarga.
Sebenarnya sudah ada kebijakan dari pemerintah untuk mengatasi masalah pendanaan, seperti: KIP, sekolah gratis, atau bantuan lainnya. Akan tetapi realitanya masih banyak masyarakat yang belum bisa mengakses layanan pendidikan dari negara. Pandangan masyarakat terkait program negara tersebut terbatas hanya untuk kalangan tertentu. Juga pelayanan pendidikan yang belum tersedia secara merata di semua wilayah, khususnya untuk sekolah swasta yang berbiaya mahal.
Masyarakat Indonesia sudah terlalu banyak memikul beban kehidupan, di antaranya: masalah ekonomi yang rendah, bahan pokok yang serba mahal, sehingga mereka tidak terlalu fokus pada pendidikan. Bagi sebagian orang berpendapat bahwa yang penting bisa mendapatkan ijazah, walaupun kemampuan dengan tingkat pendidikannya terkadang tidak sesuai. Maka, seharusnya ini menjadi kekhawatiran yang besar buat negara, karena minimnya generasi yang cerdas dan mempunyai banyak potensi yang berguna bagi bangsa dan negara.
Negara masih abai dan belum bisa memprioritaskan pendidikan. Peran penguasa belum maksimal bekerja untuk rakyat, tetapi masih mementingkan kepentingan pribadi. Karena terbukti masyarakat masih banyak yang jauh dari kata sejahtera, tetapi mereka para pejabat negara semakin kaya, sedangkan kemiskinan terus meningkat. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.
Inilah potret buram sistem pemerintahan saat ini yang mempengaruhi berbagai lini kehidupan seperti dunia pendidikan kita. Pendidikan yang berkualitas tidak akan terwujud selama sistem yang di emban bertentangan dengan sistem yang sahih yakni sistem Islam.
Dalam sistem Islam atau kekhilafahan, pendidikan adalah hak setiap warga baik kaya ataupun miskin. Negara wajib menyediakan secara gratis dan merata untuk membentuk manusia yang berilmu, bertakwa dan memiliki keterampilan tinggi. Khilafah memiliki sumber dana yang mumpuni untuk mewujudkannya. Dana pendidikan diambil dari Baitul mal yakni pos fa'i, kharaj dan kepemilikan umum. Negara mengelola dengan angsuran pendidikan tanpa campur tangan swasta . Maka umat bisa sejahtera, dan dapat menuntaskan pendidikan hingga tingkat tinggi.
Wallahualam bisawaab

No comments:
Post a Comment