Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

MENJADI PEREMPUAN SEBENARNYA HUJJAH

Friday, May 09, 2025 | Friday, May 09, 2025 WIB


Oleh: Liza Khairina (Ibu Rumah Tangga)


Perempuan selalu menarik untuk dibahas. Menarik tidak hanya dalam fisiknya, tapi juga menarik dalam perannya. Baik di domestik maupun publik.

Ada yang berpendapat, perempuan punya peran yang sama dengan laki-laki. Berperan publik seperti laki-laki, bisa kerja cari nafkah, yang mana itu juga bisa dilakukan oleh perempuan. Laki-laki bisa menggeluti olahraga, perempuan juga bisa. Laki-laki bisa jadi pemimpin, perempuanpun bisa. Dan bidang-bidang garapan lainnya.

Hingga sampai ranah fikihpun diperdebatkan, bahwa perempuan terdiskriminasi oleh agama sebab tidak punya hak waris sama dengan laki-laki. Ini benar-benar ngawur. Dan cara pandang ini tentu tidak sesuai fitrah, karena berasal dari Barat yang notabene menentang Allah swt dan syariat-Nya. 

Ada juga yang berpendapat, perempuan itu ranah perannya di domestik. Menjadi ibu, melahirkan dan membesarkan anak, serta pengatur rumah tangga dan melayani suami.

Hal ini dikuatkan dengan banyak dalil yang disampaikan ulama dalam kitab-kitabnya. Dalil kaidah (hukum asal) perempuan dalam kitab Nidhamul Islam misalnya, bab Nidhamul Ijtima'i, hadits tentang seorang perempuan adalah pemimpin bagi rumah suaminya. Al-Quran sendiri menjelaskan bahwa perempuan harus menetap di dalam rumah dan jangan keluar rumah dengan berhias. Dan dalil-dalil lainnya yang terkait peran perempuan di dalam rumah. 

Semua dalil itu benar adanya dan tidak ada yang salah. Bahwa perempuan adalah sumber kemuliaan. Perempuan pencetak generasi gemilang. Perempuan support terbesar suami di wilayah umum dan lain-lain. Dan itu dimulai dari rumah, di ruang domestik, bukan di ruang publik yang meniscayakan interaksinya dengan masyarakat.

Sebutlah peran pengaruhnya para ibu imam mujtahidin dan panglima-panglima besar Islam sebagai contoh. Imam Syafi'i, Imam Bukhari, Shalahuddin Al Ayyubi, Muhammad Alfatih dan lain-lainnya.

Namun demikian, penting dipahami, bahwa Islam tidak mendikotomi peran perempuan di domestik maupun publik. Tapi justru Islam memberikan peran mulia dengan tugas di dalam dan di luar rumah dengan fikih aulawiyat. Perempuan mendapat bagian istimewa dan spesial dengan kodratnya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, sekaligus pengemban dakwah yang menuntut ilmu dan berbagi ilmu untuk menguatkan perannya sebagai penyangga peradaban. Perempuan sebagai tiang negara, sebagaimana yang disabdakan Nabi saw dalam haditsnya.

Karenanya, perempuan selain sebagai ibu yang medidik putra-putrinya di rumah, dia juga berkewajiban keluar rumah mendidik umat pada risalah Islam. Terlibat di tengah-tengah masyarakat beramar makruf nahi mungkar sebagaimana firman Allah swt dalam Al-Quran surat Ali 'Imran ayat 104:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."

Ini seruan tentu tidak hanya untuk laki-laki saja, tapi juga para perempuan dengan ketentuan yang sudah ditetapkan dalam syariat, menutup aurat dan tidak ikhtilat. Aktivitasnya adalah mengkaji Islam untuk terbentuknya kepribadin islami pada diri dan keluarganya, mendakwahkan Islam agar tercapai tujuan mulia, yakni tersebarnya rahmat Islam bagi seluruh alam. Di dalamnya termasuk aktivitas muhasabah lil hukkam (mengkritisi kebijakan pemerintah dalam hal pengurusan umat), amar makruf nahi mungkar dengan menyuarakan pembebasan Palestina dengan Islam kaffah, dan lain-lain yang senafas dengan perkara itu.

Hal demikian telah dicontohkan oleh generasi terbaik di masa peradaban terbaik. Bagaimana peran di luar rumah berjalan tanpa meninggalkan peran utama di rumah sebagai ummun warabbatul bait.

Ada siti Aisyah yang berperan bukan saja sebagai istri yang senantiasa melayani suami, tapi juga melayani umat dengan memberi pengajaran kepada mereka. Ada Asma binti Ziyad sebagai perempuan rumahan tapi juga orator ulung yang menyampaikan aspirasi umat di majelis Syura. Ada Khaulah binti Malik yang tampil di publik mengkritisi kebijakan Khalifah Umar bin Khattab. Ada Sayyidah Nafisah seorang guru perempuan dari Imam Asy-Syafi'i. Dan perempuan-perempuan lainnya yang luarbiasa terukir dalam peradaban emas Kepemimpinan Islam.

Hari ini ketika mendapati kondisi para perempuan adalah berkebalikannya. Tentu karena sistem kehidupan masyarakat yang tidak berkiblat pada masa dimana kehidupan perempuan didaulat mulia. Didaulat sebagai ummun warabbul bait juga hamlud dakwah di tengah-tengah umat. Mencerdaskan umat dan membangun peradaban mulia dengan seruan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Mari, mengambil bagian karya besar ini dengan senantiasa berbenah bersama, memahamkan diri dan umat dengan hanya menjadikan Islam sebagai kaidah berfikir. Mengembalikan tujuan hidup kita untuk Allah semata. Hidup hanya untuk ibadah dan kembali keharibaan-Nya dengan sebenarnya hujjah.[]

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update