Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sebuah Sistem yang Mengorbankan Masyarakat

Thursday, April 17, 2025 | Thursday, April 17, 2025 WIB

 

Penulis: Ila Holisah


Di zaman yang semakin canggih, otak manusia pun semakin bertambah kepintarannya. Mereka berpikir bahwa dengan membuka proyek-proyek, kehidupan masyarakat bisa teratasi. Namun, tidak terlintas dalam pikiran mereka dampaknya. Yang mereka pikirkan hanya keuntungan semata.


Di sisi lain, kaum penanam modal dan para penguasa tidak memikirkan dampak yang akan terjadi pada masyarakat. Dengan egoisnya, mereka membuka lahan hutan yang jelas fungsinya sebagai daerah resapan air. Kenyataannya, mereka mengubah lahan hutan menjadi lahan proyek. Tak tanggung-tanggung, mereka membuat program pembukaan lahan seluas 20 juta hektare untuk kebutuhan pangan, energi, dan air. Semua itu menjadi pemicu terjadinya banjir di kawasan Jabodetabek.


Menurut anggota DPR RI, Firman Subagyo, pembukaan lahan di daerah Puncak, Bogor, menyebabkan kawasan resapan hujan menjadi gundul sehingga air hujan tidak bisa diserap dengan baik. Pembagian kawasan hutan menyebabkan kerusakan ekosistem karena mayoritas lahan digunakan untuk pertanian dan penambangan golongan C. Akibatnya sangat fatal. Bila kita bicara tentang pengendalian banjir, solusinya adalah resapan air. Namun, ketika hutannya gundul, banyak galian C, pohon ditebang, lalu lahannya digunakan untuk pertanian dan sebagainya, maka resapan tidak akan berfungsi.


Firman mengaku bahwa selama ia di Komisi IV, ia mengkritisi kebijakan pemerintah terkait pembagian lahan 20 juta hektare tersebut. Dalam temuannya, lahan yang dibagikan saat ini tidak lagi menyisakan hutan sebagai daerah resapan dan penampung air di kawasan Puncak.


Meskipun saat ini banjir di Jabodetabek sudah mulai surut, BPBD DKI tetap mengimbau masyarakat agar tetap berhati-hati dan waspada terhadap potensi genangan air dalam keadaan darurat. Di tahun 2025 ini, bencana banjir menjadi yang terparah dibandingkan dengan bencana-bencana sebelumnya. Tidak hanya Jabodetabek yang mengalami banjir secara terus-menerus akibat curah hujan tinggi, tetapi juga karena hilangnya daerah serapan air. Kenyataan ini merupakan akibat dari ulah tangan manusia itu sendiri—kerakusan para pengusaha dan penguasa.


Akhirnya, masyarakatlah yang harus menerima dampaknya dan menjadi korban. Dalam hal ini, siapa yang sebenarnya diuntungkan? Dalam Al-Qur'an surat Ar-Ruum ayat 41 disebutkan:  

_"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia."_


Dalam hadis juga disebutkan:  

_"Tidak akan menimpa suatu musibah pun kecuali karena dosa kita."_  

(HR. Bukhari dan Muslim)


Islam telah menjelaskan semuanya. Namun, dalam kehidupan sekarang yang menganut sistem sekuler dan dinaungi oleh penguasa kapitalisme—sebuah sistem buatan manusia dengan berbagai kebijakan yang jelas merugikan masyarakat—tentu saja masyarakatlah yang menjadi korban. Bukan hanya hak-hak mereka yang direnggut, tapi juga lingkungan rusak demi mengejar keuntungan pribadi.


Apakah semua permasalahan yang terus menerus kita hadapi ini bisa terselesaikan? Nyatanya, tidak.


Semua ini hanya bisa terselesaikan dengan menghadirkan sistem syariat Islam yang harus segera diterapkan. Hanya dengan sistem inilah seluruh permasalahan dapat diselesaikan karena sistem Islam berpedoman pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.


Mari kita segera selamatkan negeri ini dari kerusakan sistem kapitalisme dengan sistem Islam yang dinaungi oleh Khilafah. Wallahu a‘lam bish-shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update