Oleh: Aisyah Abdullah (Pegiat Literasi)
Menginjak tujuh belas bulan genosida yang terjadi di Palestina (Gaza) oleh zionis Israel dari hari ke hari kebiadaban zionis Israel makin menjadi-jadi. Kini makin meninggalkan luka, sedih, pilu, marah, berpadu menjadi satu, saat melihat kondisi saudara-saudara kita yang di Gaza yang memenuhi beranda-beranda media sosial kita. Situasi di Gaza kian memprihatinkan jutaan anak-anak hadapi bencana kelaparan.
Dilansir dari METROTV.COM (WFP) Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa telah memperingatkan terkait krisis kemanusian yang semakin memburuk di jalur Gaza. Dikatakan ada sekitar dua juta orang, sebagian besar mengungsi saat ini hidup tanpa sumber pendapatan apapun dan hidup sepenuhnya dengan bergantung pada bantuan kemanusian untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka. (20/04/25). Bahkan sebagian anak-anak di Gaza dibujuk agar makan daging kura-kura untuk memenuhi protein mereka imbas krisis makanan akibat pengepungan dan genosida yang dilakukan Israel (CNN.Indonesia).
Sungguh menyayat hati. Disamping itu apabila kita melihat dengan jeli penderitaan dialami kaum muslim di Palestina (Gaza) sejak 1948 berdirinya entitas zionis Israel sampai sekarang tak kunjung berakhir. Ini menunjukan bahwa persoalan yang terjadi bukan hanya sekedar konflik semata. Melainkan bentuk penjajahan dan pendudukan tanah.
Dengan memahami akar sejarah tersebut seharusnya yang harus dipahami oleh umat adalah menyadari bahwa ini termasuk genosida dan perampasan tanah. Sehingga dengan begitu umat clear memahami akar persoalannya. Dengan begitu tidak ada lagi kaum ‘Yahudi Pesek’ yang membela kaum zionis yahudi. Karena sejatinya zionis Israel itulah yang menyebabkan penderitaan di Palestina terjadi.
Di sisi lain dibalik penderitaan masyarakat Palestina ironisnya para penguasa muslim satupun tak bergerak untuk mengirimkan militernya untuk membantu rakyat palestina. Kecuali hanya sekedar mengeluarkan retorika kutukan dan kecaman kosong yang tak membawa efek apapun. Bahkan seruan jihad dari para ulama internasional tidak diindahkan oleh para penguasa muslim. Mereka hanya sibuk menyelamatkan diri dari kebijakan Amerika terkait tarif impor dagang dan menyelesaikan kepentingan dalam negeri.
Butuh Kepemimpinan Islam
Semua realitas yang kita saksikan saat ini seharusnya membuat kita sadar bahwa untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi pada saudara-saudara kita di Palestina kita tidak bisa berharap penuh kepada para penguasa Arab, Turki, Indonesia, dan lainnya. Terlebih lagi pada negara-negara adidaya dan lembaga-lembaga internasional yang justru telah dirancang dan disetir sedemikian rupa untuk menjadi alat melanggengkan penjajahan mereka atas dunia dan terkhusus pada Palestina (Gaza).
Oleh sebab itu sangat penting untuk terus membangun kesadaran umat mengenai solusi hakiki terhadap persoalan Palestina. Yakni tegaknya kepemimpinan Islam yang akan menjamin perlindungan nyawa manusia termasuk kaum muslim.
Umat ini harus menyadari bahwa kekalahan umat Islam dengan umat lain bukan karena kekalahan di bidang teknologi, tidak kalah di bidang ekonomi, bukan kekalahan karena buruknya akhlak kaum muslim dan lainnya. Namun umat ini kalah karena telah kehilangan darah yang mengalir dalam setiap tubuh mereka. Dan "darah" itu adalah pemikiran Ideologis mereka. Dengan mengembalikkan pemikiran ideologis dalam diri mereka, maka umat Islam bisa menguasai dan mengendalikan dunia. Bahkan seluruh umat Islam di dunia akan bersatu mendukung perjuangan Palestina dan mewujudkan solusi yang berkelanjutan bagi masa depan kaum muslimin. Tanpa berharap pada penguasa-penguasa muslim yang menjadi antek barat.
Umat harus berupaya mewujudkan kepemimpinan Islam yang berasaskan aqidah Islam yakni seorang khalifah (pemimpin) yang berfungsi sebagai rain (pengatur) dan junnah (pelindung) bagi umat dalam menerapkan hukum-hukum Islam. Dan inilah menjadi kunci utama dalam membebaskan Palestina dari belenggu penjajahan yang telah berlangsung lama. Serta memberikan jalan menuju kemerdekaan hakiki bagi Palestina.
Wallahu a'lam

No comments:
Post a Comment