Tragedi kemanusiaan di Palestina, khususnya di Gaza, kembali merenggut nyawa tak berdosa. Kematian jurnalis foto Fatima Hassouna, yang karyanya sempat menyentuh hati banyak orang sebagai simbol dukungan untuk Gaza, bersama tujuh anggota keluarganya akibat serangan brutal Israel sekali lagi menggarisbawahi urgensi sebuah solusi yang bukan hanya bersifat sementara atau sekadar menenangkan simpati dunia. (spiritofaqsa.or.id, 20-04-25)
Di tengah duka yang mendalam dan keprihatinan global yang terus berulang tanpa tindakan nyata yang signifikan, sudah saatnya kita mempertimbangkan secara serius sebuah pandangan yang mungkin terasa radikal bagi sebagian pihak, namun memiliki akar yang kuat dalam aspirasi sebagian besar masyarakat Palestina yang tertindas: pengiriman kekuatan militer yang terukur dan terarah dari negara-negara Muslim sebagai solusi pembebasan yang mendesak dan berkelanjutan.
Usulan-usulan yang selama ini mendominasi wacana penyelesaian konflik, seperti solusi dua negara yang terbukti mandul dan tidak adil, atau rencana evakuasi warga Gaza ke negara lain, termasuk inisiatif yang sempat diwacanakan untuk menampung sementara pengungsi di Indonesia, alih-alih menyelesaikan akar permasalahan, justru terkesan sebagai upaya untuk melegitimasi pendudukan ilegal dan secara tidak langsung menyetujui pembersihan etnis secara bertahap di tanah Palestina. Solusi-solusi semacam ini tidak menyentuh inti dari ketidakadilan yang dialami rakyat Palestina selama puluhan tahun, yaitu perampasan tanah, kekerasan sistematis, dan penindasan hak-hak dasar mereka.
Dalam konteks kebuntuan solusi damai yang nyata dan terus berlanjutnya siklus kekerasan yang memakan korban sipil tak terhitung jumlahnya, seruan tegas dari juru bicara kelompok dakwah ideologis Palestina agar para penguasa dan tentara Muslim bergerak aktif menuju Masjidil Aqsa patut direnungkan secara mendalam.
Seruan ini bukan sekadar permintaan bantuan kemanusiaan yang bersifat karitatif, melainkan sebuah panggilan untuk tindakan nyata yang lebih fundamental dan strategis. Bagi sebagian masyarakat Palestina yang telah kehilangan harapan pada mekanisme internasional yang ada, pengerahan kekuatan militer yang terukur dan terarah dipandang sebagai satu-satunya cara yang mungkin efektif untuk menghentikan pertumpahan darah dan membebaskan tanah mereka dari pendudukan yang melanggar hukum internasional.
Ini adalah ekspresi dari keputusasaan yang mendalam dan keyakinan bahwa jalur diplomasi dan bantuan kemanusiaan saja, tanpa adanya tekanan nyata dan kekuatan penyeimbang, tidak akan pernah mampu menghentikan kekejaman dan mewujudkan keadilan.
Gaza: Tanggung Jawab Kita
Tanggung jawab historis dan moral para penguasa Muslim dalam situasi yang sangat genting ini menjadi semakin krusial. Lebih dari sekadar mengeluarkan retorika kecaman yang kosong dan mengirimkan bantuan simbolis yang seringkali tidak mencukupi, mereka dituntut untuk mengambil langkah-langkah konkret dan terukur dalam melindungi umat Islam dan tanah suci mereka dari penindasan yang sistematis.
Pentingnya Peran Militer
Menyingkirkan agresor dan secara efektif memutus rantai pasokan logistik dan dukungan militer mereka melalui wilayah-wilayah Muslim adalah sebuah imperatif moral dan agama yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Tindakan ini memerlukan keberanian politik, persatuan strategis, dan perhitungan militer yang matang, bukan tindakan gegabah yang justru akan memperburuk situasi.
Seruan untuk berjihad dalam konteks ini bukanlah interpretasi sempit tentang perang suci yang tidak terkendali.
Sebaliknya, ini dapat dipahami sebagai panggilan untuk mengerahkan segala daya dan upaya, termasuk kekuatan militer yang terorganisir, untuk membela keadilan dan mengakhiri penindasan. Ini adalah panggilan bagi para tentara Muslim yang profesional untuk bergerak dengan semangat pembebasan yang tulus dan terukur, tanpa henti berjuang hingga pendudukan ilegal berakhir dan rezim-rezim yang dianggap berkolaborasi dengan Israel dalam kejahatan kemanusiaan dipertanggungjawabkan.
Rezim Muslimin Seolah Penghalang
Pandangan ini melihat rezim-rezim yang mendiamkan atau bahkan mendukung agresi sebagai penghalang utama bagi terwujudnya solidaritas Islam yang sejati dan pembebasan Palestina yang sesungguhnya.
Allah Swt. berfirman:
“Karena itu, hendaklah orang-orang yang menjual kehidupan dunia untuk (kehidupan) akhirat berperang di jalan Allah. Dan barang siapa berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka akan Kami berikan pahala yang besar kepadanya. Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang berdoa, "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekkah) yang penduduknya zalim. Berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu." Orang-orang yang beriman, mereka berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan Tagut, maka perangilah kawan-kawan setan itu, (karena) sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” (TQS. An Nisa: 74-76)
Kutipan surah An-Nisa ayat 74-76 menjadi landasan teologis yang kuat bagi pandangan ini, menekankan dengan jelas pentingnya perjuangan di jalan Allah dan pembelaan terhadap kaum yang lemah dan tertindas.
Waktunya Bergerak Selamatkan Palestina
Dalam konteks tragis Palestina, ini diartikulasikan sebagai kewajiban agama untuk bertindak aktif dan tidak hanya menjadi saksi bisu atas penderitaan saudara-saudara Muslim yang terusir dari tanah air mereka sendiri.
Tentu saja, usulan pengiriman kekuatan militer adalah langkah yang sangat kompleks dan berisiko tinggi, dengan implikasi geopolitik regional dan internasional yang luas dan mendalam. Namun, di tengah kebuntuan solusi damai yang nyata dan terus berlanjutnya siklus kekerasan yang memakan korban sipil tak terhitung jumlahnya, pandangan ini menawarkan perspektif yang berbeda dan mencerminkan frustrasi mendalam atas ketidakmampuan atau keengganan komunitas internasional dalam menghentikan penderitaan rakyat Palestina dan menegakkan hukum internasional.
Mungkin sudah saatnya kita mempertimbangkan secara serius semua opsi yang ada, termasuk yang dianggap paling ekstrem sekalipun, dengan perhitungan yang matang dan strategis, demi mencapai keadilan yang abadi dan kebebasan yang sesungguhnya bagi rakyat Palestina. Ini bukan seruan untuk perang yang tidak terkendali, melainkan pertimbangan serius atas kebutuhan mendesak untuk tindakan nyata yang melampaui retorika dan bantuan kemanusiaan yang terbatas.
Wallahu a’lam bissawab
No comments:
Post a Comment