Oleh : Reni Renia Devi., S.Kp., M.Kep
Penderitaan kaum muslim di Gaza akibat serangan Zionis tak juga berakhir. Setitik angin segar bernamakan gencatan senjata di bulan Ramadhan, tidak menjadikan kebebasan dan kedamaian betul-betul bisa di hirup oleh masyarakat Gaza. Tidak perlu menunggu lama, saat ini situasi buruk kemanusiaan kembali terjadi, penjajah laknatullah justru semakin brutal dan semakin berbuat di luar batas kemanusiaan.
Seperti data yang dirilis oleh Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Senin (21 April 2025), jumlah korban anak yang tewas sejak berakhirnya gencatan senjata pada 18 Maret 2025 mencapai 600 orang dari 1.522 orang korban. Sementara jumlah anak-anak yang terluka mencapai lebih dari 1.600 orang, dari total 3.834 korban. Belum termasuk korban penduduk dewasa, hancurnya rumah-rumah, tenda-tenda darurat kesehatan, tenda-tenda pengungsian, tempat penampungan bahan makanan dan rusaknya segala sisa-sisa fasilitas kehidupan yang ada di Gaza.
Ternyata kondisi setelah gencatan senjata, situasi di Gaza menjadi jauh lebih mencekam. Bumi Gaza pun kerap disirami hujan darah diikuti serpihan daging manusia akibat gelombang serangan bom penjajah laknatullah yang makin masif dan brutal. Bahkan beberapa momen serangan bom membabi buta yang sempat tertangkap kamera menunjukan betapa mengerikannya menyaksikan tubuh-tubuh saudara muslim kita yang tidak berdaya terlempar ke udara menjemput syahidnya.
Mereka pun tidak segan-segan menyerang langsung pengungsian dan membakar hidup-hidup para korban, hingga langit Gaza pun riuh dengan tangis dan jeritan yang sangat memilukan.
Kondisi semakin memburuk ketika semua ini terjadi di tengah pemberlakuan kembali blokade darat yang telah menyebabkan berbagai wilayah dilanda krisis pangan. Jutaan penduduk Gaza yang tersisa kehilangan pendapatan. Mereka pun mengalami kelaparan parah. Tidak ada makanan, air bersih, listrik apalagi sarana kehidupan yang lain. Sampai-sampai dikabarkan sebagian dari mereka terpaksa memakan daging kura-kura untuk sekadar bertahan hidup, atau mereka meraih syahid dikarenakan kondisi kelaparan ekstrim.
Seruan kemanusiaan menggema untuk Palestina terjadi hampir di seluruh belahan dunia. Tetapi ternyata tidak mampu menggerakan penguasa Muslim untuk bergerak bersatu dalam membela Palestina. Para penguasa muslim tetap hanya mencukupkan diri dengan kecaman tanpa aksi nyata. Walau sudah terbukti kecaman-kecaman ini tidak pernah dihiraukan sama sekali dan pembantaian terus terjadi di depan mata. Bahkan seruan-seruan jihad bagi kaum muslimin sekalipun, saat ini hanya berakhir di meja perundingan dan berlalu begitu saja menjadi maklumat kesepakatan tanpa eksekusi yang tegas dan jelas.
Apa sebetulnya yang merintangi kaum muslimin dan penguasa muslim untuk berjihad melakukan pembelaan kepada saudaranya di Palestina? Padahal Allah telah memerintahkan kaum muslimin untuk memberi pertolongan pada saudaranya sesama muslim. Allah juga menyatakan kaum muslimin adalah bersaudara. Rasulullah saw. juga bersabda bahwa kaum muslimin adalah satu tubuh. Oleh karena itu wajib menolong saudaranya.
Selama umat masih terikat pada sekat-sekat negara bernama nasionalisme warisan penjajah, mereka tidak akan pernah benar-benar bersatu, dan jihad pun tidak akan digerakkan tanpa ada kepemimpinan. Bahkan penguasa muslim di dunia diam, tidak mengambil solusi tersebut. Mereka tampak benar-benar berhitung atas konsekuensi yang akan diterima jika mereka membantu Gaza. Tampak betapa besar ketakutan mereka kepada Amerika, dan betapa besar pula kecintaan mereka kepada kursi kekuasaannya.
Rata-rata kekuasaan yang mereka dapatkan tegak di atas dukungan dan legitimasi negara adidaya, khususnya Amerika. Itulah mengapa, kebijakan mereka selalu berjalan beriringan dengan kebijakan Amerika. Bahkan sebagian dari mereka bertanggung jawab atas berdirinya negara hoaks yang menjadi pangkal masalah Palestina. Sementara penguasa Arab lainnya satu demi satu menuruti titah Amerika untuk menormalisasi hubungan dengannya.
Sebagian mereka juga ada yang memilih bersikap “netral” atau malah berpura-pura galak pada penjajah laknatullah dan Amerika. Namun di belakang layar, tangan-tangan mereka justru bersalaman layaknya sahabat dan mendukung skenario mereka seperti menyuarakan solusi dua negara. Mereka rela bermuka dua, hanya demi merebut simpati rakyat dan kaum muslimin dunia. Namun, pada saat yang sama mereka tidak mau kehilangan simpati dari para tuannya.
Sehingga sangat wajar jika tidak ada satu pun dari mereka yang berani muncul sebagai pemimpin yang bergerak menjadi pembela bagi Gaza, Palestina. Lidah mereka kelu dan tangan mereka kaku untuk memobilisir tentara dan senjata yang sejatinya ada pada genggaman mereka. Sampai-sampai warga Gaza pun putus asa meminta tolong pada mereka. Dan hanya menggantungkan harapan pertolongan kepada Allah semata.
Maka, sudah seharusnya dalam mensikapi bencana perang kemanusiaan di Palestina kaum muslimin dan penguasa muslim di seluruh dunia harus mencampakkan nasionalisme. Kemudian menyadari bahwa penjajahan hanya bisa dihentikan dengan persatuan umat dalam satu kepemimpinan global yaitu kepemimpinan yang bersumber dari sistem Islam yang pemimpinnya betul-betul bisa menjadi junnah (perisai) dalam melindungi kaum muslimin.
Rasulullah SAW telah bersabda :
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”(HR. Bukhari).
Juga sabda beliau,”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaqun ’alayh dll.)
Kaum muslimin wajib saling menyeru semua muslim di seluruh dunia dengan seruan yang sama. Umat harus terus mengingatkan akan persatuan dan kewajiban menolong saudara muslim mereka. Umat harus bergerak menuntut penguasa muslim melaksanakan kewajiban menolong palestina dengan melaksanakan jihad dengan satu kepemimpinan global.
Para pengemban dakwah harus terus bergerak mengarahkan dan membimbing kaum muslimin untuk berbaris menyatukan langkah dengan mengerahkan seluruh kemampuannya agar persatuan umat terwujud dan berjuang bersama menegakkan Islam sebagai sistem yang menyeluruh agar persoalan umat termasuk Palestina segera terselesaikan dan kehidupan islam dapat dilangsungkan kembali.
Ingat, akan sampai kapan kita membiarkan saudara muslim Palestina menanti pertolongan kita. Anak-anak Palestina dengan darah dan air matanya akan menuntut tanggung jawab kita kaum muslimin dan penguasa muslim kelak di akhirat. Apakah kita telah berjuang untuk membebaskan mereka atau kita hanya diam saja tanpa aksi nyata? Kalau sudah demikian, apakah kita nanti akan sanggup berhujah di hadapan Allah Yang Maha Adil ketika dipertanyakan pertanggungjawaban kita atas bumi Palestina.
Wallahualam bissawab
.jpg)
Menyelamatkan saudara2 di Gaza dan negeri-negeri muslim adalah tanggung jawab kita bersama ....Allohu akbar
ReplyDelete