Pegiat Literasi
Bagi warga Palestina, tujuh belas bulan terakhir berlalu dengan pilu. Bahkan Ramadan dan Idulfitri harus dilewati dengang penuh kepedihan. Serangan yang dilakukan tanpa henti oleh kaum Yahudi, telah memporak-porandakan negeri mereka, dan merenggut nyawa orang-orang terkasih. Dalam lara, mereka masih berharap secercah harap uluran tangan dari saudara seiman. Tapi apa daya mereka bungkam dalam diam, dan lebih memilih menjaga wilayahnya agar tetap aman.
Entah sekedar menunjukan rasa simpati, sejumlah ulama muslim terkemuka mengeluarkan fatwa menyerukan jihad melawan kaum zionis. Aksi ini adalah respon atas serangan udara yang terus dilakukan di Gaza yang mengakibatkan banyaknya korban jiwa. Ketetapan yang dikeluarkan oleh International Union of Muslim Scholars (IUMS) ini menuntut semua negara muslim untuk melakukan intervensi militer, ekonomi dan politik untuk menghentikan genosida karena dianggap telah melanggar hak asasi manusia dan prinsip kemanusiaan. (www.merdeka.com Sabtu 5 April 2025)
Dalam fatwa tersebut juga diserukan agar negara-negara muslim menerapkan boikot melalui blokade laut, darat dan udara. Mereka juga mendorong agar meninjau kembali perjanjian damai dengan kaum Yahudi itu. Ali al-Qaradaghi, salah satu otoritas agama yang paling dihormati, fatwanya memiliki bobot yang signifikan di antara 1,7 juta miliar muslim Suni di dunia. Sebagai Sekretaris Jenderal IUMS, ia menekankan pentingnya respon kolektif umat terhadap apa yang menimpa Gaza. Dalam fatwa yang didalamnya terkandung 15 poin itu, ia menyebut kegagalan pemerintah Arab dan Islam dalam memberi dukungan sebagai kejahatan besar terhadap mereka yang tengah tertindas.
Ia pun melarang memberi dukungan kepada kaum zionis tersebut dan menganggapnya sebagai pemusnah Muslim Gaza, apapun bentuknya. Mulai dari larangan menjual senjata juga memberi fasilitas pengangkutan melalui jalur perairan internasional seperti Terusan Suez, Bab al Mandab dan Selat Hormuz. Dalam fatwanya, IUMS juga menyerukan blokade udara, darat dan laut terhadap musuh demi mendukung warga Palestina tersebut.
Setelah kesepakatan gencatan senjata mereka ingkari, bangsa zionis itu telah menewaskan lebih dari 1.200 orang Palestina, termasuk di dalamnya anak-anak. Sejak perang dimulai pada Oktober 2023 lalu, tidak kurang dari 50.000 warga tewas. Parahnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan akan mengintensifkan serangan untuk menekan Hamas, ia akan membagi jalur Gaza dan meningkatkan tekanan hingga mereka menyerahkan sandera Israel.
Pada dasarnya, apa yang dilakukan para ulama itu merupakan hal yang seharusnya dilakukan. Mengingat kedudukan mereka sebagai pewaris para nabi yang mesti menjadi garda terdepan perjuangan terhadap warga Gaza-Palestina di tengah ketidakberdayaan kaum muslim dan diamnya penguasa-penguasa mereka. Dengan ilmu dan ketakwaan yang tinggi seharusnya mampu mengingatkan bahkan memimpin umat untuk melakukan jihad.
Sayangnya, sekedar seruan yang dilakukan saat ini tidak cukup efektif jika hanya sebatas fatwa, karena sifatnya tidak mengikat. Kekuatan militer berupa pasukan dan senjata, nyatanya tidak mampu menggerakkan naluri mereka untuk menghentikan genosida yang terjadi di Palestina. Mereka lebih memilih diam untuk mencari keselamatan negerinya agar tetap aman. Bahkan beberapa diantaranya secara tidak langsung turut memberi jalan bagi kaum Yahudi untuk memporak-porandakan Gaza.
Tidak sedikit di antara negara-negara Arab yang merelakan negerinya dijadikan pangkalan militer bagi Amerika karena khawatir tidak mendapatkan dukungan kekuasaan. Mereka juga menutup pintu perbatasan sehingga bantuan logistik pun sulit masuk ke daerah tersebut. Bahkan berbagai protes massa, salah satunya aksi Rafah di Sinai Mesir (9/4/2025), sengaja dimobilisasi atas inisiasi AS. Bukan dilakukan deni warga Gaza, tapi karena ketakutan jika tanah mereka diinjak penduduk Palestina tersebut.
Demikianlah gambaran para pemimpin negeri muslim di tengah penderitaan saudara seiman. Nasionalisme telah membutakan mata hingga memikirkan keselamatan sendiri dan mengabaikan nasib negara tetangganya yang mengalami genosida. Alih-alih melakukan tindakan, mereka justru mencari aman seraya menutup mata dan telinga, menyaksikan gempuran yang meluluhlantakkan Palestina.
Apa yang diserukan oleh para ulama hanya akan menjadi sebatas seruan jika tidak didukung oleh kekuatan yang bisa mengimbangi serangan. Bahkan bisa dijadikan alat bagi barat untuk memonsterisasi Islam agar tampak buruk di mata dunia. Solusi jihad jika tidak disertai dengan edukasi akan memperkuat tudingan bahwa syariat telah mengajarkan kekerasan, yang jelas bertentangan dengan hak asasi manusia dan perdamaian dunia yang selama ini digaungkan.
Untuk menyolusikan Palestina jelas hanya bisa dilakukan dengan terwujudnya kekuatan yang sepadan, yaitu adanya sebuah negara adidaya yang dibangun berdasarkan kesadaran ideologis. Di mana seluruh syariat Islam akan diterapkan dalam satu komando kepemimpinan, yang nantinya akan memobilisasi seluruh potensi umat, termasuk penyebaran tentara dan senjata yang akan mengusir bangsa zionis dari negeri Syam tersebut.
Langkah yang harus dilakukan untuk mewujudkannya adalah dengan menggencarkan dakwah memahamkan umat, membangkitkan kesadaran mereka akan Islam sebagai solusi bagi seluruh permasalahan kehidupan. Seruan yang dilakukan juga harus bersifat ideologis dan dilakukan secara terstruktur agar mengarah pada tujuan. Pelaksanaanya tidak dengan kekerasaan dan paksaan, dan tentunya hal ini akan menjadi tidak mudah dan penuh perjuangan. Sebagaimana gambaran Rasulullah saw. dalam HR Tirmidzi No 2260 dari Annas bin Malik, beliau bersabda: “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.”
Kendati demikian, tidak ada yang tidak mungkin di hadapan Allah. JanjiNya pasti terwujud, bahwa Islam akan tegak dalam naungan sebuah kepemimpinan. Yang akan menjadi perisai dan garda terdepan dalam melindungi umatnya yang tertindas, seperti yang dialami saudara kita di Palestina. Wallahu alam Bissawab
No comments:
Post a Comment