Oleh : Nining Julianti (Relawan Opini)
Beberapa waktu yang lalu santer dipemberitaan terkait diundangnya delapan Taipan atau para Konglomerat yang memiliki gurita bisnis di Indonesia. Melalui instagram resmi Sekretariat Kabinet RI, delapan konglomerat yang hadir di antaranya, Anthony Salim, Sugianto Kusuma, Prajogo Pangestu, Boy Thohir, Franky Widjaja, Dato Sri Tahir, James Riady, dan Tomy Winata. Pertemuan tersebut membahas terkait perkembangan kondisi terkini serta program-program prioritas pemerintah. "Program-program utama yang tengah dijalankan oleh pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis, infrastruktur, industri tekstil, swasembada pangan dan energi, industrialisasi, hingga Badan Pengelola Investasi Danantara," tulisnya, dikutip Jumat (CNBC,7/3/2025).
Keberadaan para Taipan tersebut sangat berpengaruh pada perekonomian Indonesia. Mereka hanya segelintir namun mendominasi kekayaan dinegeri ini. Orbes Real Time Billionaire merilis 10 daftar orang terkaya di Indonesia. Posisi Hartono Bersaudara yang berada di urutan pertama orang terkaya, digeser bos Taipan bernama Low Tuck Kwong, pemilik batu bara dan pendiri Bayan Resources. Ia memiliki kekayaan senilai US$29,6 miliar atau setara Rp439,91 triliun. Potret ini semakin menguatkan kondisi hari ini bahwa kesenjangan antara si Miskin dan si Kaya semakin hari semakin jauh.
Patut akhirnya kita umat menyimpan tanda tanya terkait alasan Bapak Presiden Prabowo Subiakto mengumpulkan para konglomerat tersebut. Mengingat sudah banyak kebijakan-kebijakan pemerintah hari ini yang menimbulkan masalah dan keresahan umat. Ada rencana apa membahas isu strategis tersebut? Apakah menguntungkan umat atau malah semakin menimbulkan kesengsaraan?.
Wakil MUI, Bapak Anwar Abbas memberikan pandangannya, yang justru menyimpan khawatir terkait pertemuan ini, dimana sebagian dari konglomerat tersebut justru tersangkut skandal yang telah memberikan kerugian bagi masyarakat. Diantaranya kasus PIK (Pantai Indah Kapuk) dan PSN (Proyek Strategi Nasional).
Termasuk dibalik pembangunan IKN yang mangkrak dan menghabiskan sebagian besar APBN ditengah kondisi masyarakat yang masih banyak berada dibawa garis kemiskinan. Beliau juga mengungkapkan bahwa masyarakat kerap menjadi korban dari kebijakan atau proyek pemerintah yang melibatkan para konglomerat itu. Dia meminta agar Prabowo juga memanggil dan menerima masyarakat, terutama yang dirugikan dan sedang mencari keadilan. "Hal ini perlu dilakukan agar jangan sampai terkesan presiden hanya mendengar keluhan dari para taipan," ucapnya. (Tempo, 8 Maret 2025).
Patut juga di pertanyakan bahwa Rakyat Indonesia juga memiliki andil dalam memajukan perekonomian Indonesia namun mengapa dalam pertemuan tersebut hanya Delapan Taipan tersebut yang dihadirkan? Dimana kesempatan yang diberikan untuk perwakilan rakyat ?
Dari sini kita dapat melihat bahwa Pemerintah nampaknya menutup mata atas realita bahwa para konglomerat itu justru yang selama ini menimbulkan banyak masalah yang menimbulkan penderitaan Umat, contoh kasus Rempang, PIK2, IKN,dan dll. Nampak Negara justru menjadikan urusan rakyat sebagai lahan bancakan bagi para pemilik modal). Negara tergadai di tangan para Taipan. Pelak rakyat jadi korban kebijakan dan ketidakadilan.
Penerapan sistem sekuler demokrasi kapitalisme dalam kehidupan bernegara bisa disinyalir penyebab penguasa bebas mengatur rakyatnya, alih-alih mengurus dengan baik, yang terjadi justru lebih banyak menyengsarakan, terutama rakyat wong cilik. Negara yang seharusnya memiliki wibawa dan independensi justru lemah dihadapan para konglomerat yang sudah begitu banyak menguasai hajat hidup orang banyak dinegeri ini.
Merindukan kepemimpinan islam menjadi konsekuensi logis saat ini. Dimana paradigma kepemimpinan Islam adalah pemimpin/penguasa sebagai ain & junnah, yang akan mengurus umat dengan benar dan menjaga mereka dari segala hal yang membahayakan. Semua Ini tentunya ditopang oleh penerapan sistem aturan yang memberikan solusi tuntas bagi seluruh problem masyarakat, termasuk sistem ekonomi dan keuangan yang membuat negara mampu menyejahterakan rakyatnya dengan ketersediaan anggaran yang kuat dan berkelanjutan.
Maka penting umat mewaspadai agenda-agenda terselubung antara penguasa dan para kapitalis (konglomerat/pemilik modal), termasuk umat mesti menyadari betul tentang kebusukan sistem kepemimpinan sekuler demokrasi kapitalisme dan kemestian kembali pada sistem Islam. Adalah kewajiban seluruh umat terlibat dalam upaya mewujudkan sistem kepemimpinan Islam tersebut. Wallahu’alam

No comments:
Post a Comment