Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Islam, Solusi Terwujudnya Transportasi Nyaman dan Aman

Tuesday, March 25, 2025 | Tuesday, March 25, 2025 WIB

 


Oleh Sujilah

Pegiat Literasi

 

Menjelang lebaran mudik Idul fitri 1446H, Polresta Bandung dan Dinas perhubungan Kabupaten Bandung melakukan pemeriksaan Bus dan sopir angkutan. Kapolres Bandung Kombes Pol. Aldi Sudartono menjelaskan bahwa pengecekan kendaraan dan sopir dilakukan untuk memastikan seluruhnya dalam kondisi siap digunakan. Tujuannya adalah mengecek kesiapan kendaraan yang akan digunakan untuk mudik, harus kondisi layak pakai dan di beri tanda stiker. (ayo bandung.com, 14/3/2025)


Transportasi Dalam Sistem Kapitalisme


Penyediaan sarana transportasi yang aman dan nyaman seharusnya disiapkan dan diawasi oleh negara setiap saat, bukan hanya saat lebaran saja. Sebab pelayanan transportasi menjadi kebutuhan kolektif masyarakat yang wajib difasilitasi oleh negara. Begitu juga dengan pemeriksaan kelayakan kendaraan dan sopir, semua harus dilakukan berkala, tidak hanya pada momen-momen tertentu, seperti mudik.


Ironisnya, sekarang keberadaan transportasi aman dan nyaman di negeri ini, yang dihuni dengan jumlah penduduk terpadat masih terbilang minim. Semua ini bisa terlihat dari banyaknya kecelakaan lalin (lalu lintas), kemacetan, padatnya penumpang dan berbagai masalah lainnya. Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kematian tinggi yang diakibatkan kecelakaan berkendara di jalan. Apalagi di musim lebaran mudik ini masih banyak permasalahan dari mulai jalan-jalan yang rusak, atau transportasi yang kurang layak, dan  mahal biayanya.


Maka, tidak heran jika tiap tahun ada fenomena mudik naik motor dengan penumpang dan barang bawaan yang berisiko mengalami kecelakaan. Meskipun ada beberapa kebijakan dengan adanya subsidi transportasi, yaitu lebaran dengan program mudik gratis dan diskon tarif tol, semua ini hanya program jangka pendek yang tujuannya ingin meringankan beban  rakyat. Kebijakan ini memang memberikan manfaat langsung bagi yang akan mudik, seperti menekan biaya perjalanan serta mengurangi kepadatan lalu lintas roda dua yang rawan kecelakaan. 


Namun, kebijakan ini tidak menyentuh akar persoalan transportasi. Infrastruktur transportasi ini masih dikelola dengan orientasi bisnis, bukan pelayanan publik. Banyak progam pemerintah yang dilakukan, seperti  proyek bandara dan terminal ydibangun tanpa perencanaan matang sehingga kurang dimanfaatkan, sementara jalan-jalan rusak yang lebih mendesak justru diabaikan. 


Disamping itu, pemerintah hanya berperan sebagai regulator dan pengelolaannya diserahkan kepada pihak swasta, sehingga menyebabkan tarif tinggi diluar musim tertentu dan otomatis menambah beban rakyat. Apalagi di momen lebaran, tarif transportasi bertambah naik, bahkan jika memakai jalur kereta harus memesan sebulan sebelumnya, itu pun mengantri. Maka tidak aneh jika masyarakat  banyak memilih transportasi roda dua, dikarenakan transportasi umum sangat mahal. Semua ini jelas bahwa negara berlepas tangan dengan akses transportasi umum, mereka memaksa rakyatnya untuk mandiri.


Di sisi lain, berbagai proyek yang kontroversi kemanfaatan  dan urgensi, seperti proyek kereta cepat dengan alasan agar rakyat bisa lebih efisien waktu. Tetapi, realitanya proyek tersebut menelan biaya yang sangat fantastis dengan trayek jangkauan yang pendek. Sebenarnya proyek ini untuk kepentingan siapa? Semua ini malah menyebabkan beban hutang semakin tinggi. Apakah sistem kapitalisme yang diterapkan bisa mewujudkan transportasi aman dan nyaman untuk seluruh rakyat?


Cara Islam Mengatur Transportasi


Dalam pandangan Islam, selayaknya negara berperan dengan optimal dan sangat mengutamakan keselamatan rakyatnya. Negara harus memberikan layanan terbaik untuk rakyat, baik dari sisi penyediaan modal transportasi maupun kondisi jalan yang dilalui. Bagaimana dalam pemerintahan Islam menerapkan sistem transportasi yang baik. Sebab, negara berperan sebagai pengurus urusan rakyat. 


Hal tersebut tercatat dalam sejarah emas peradaban Islam, jalan canggih beraspal sudah dikenal dikota Baghdad sejak abad ke-8 M. Ketika suatu wilayah di futuhat, tata kota pun dibuat sedemikian rupa hingga memudahkan rakyat memenuhi berbagai keperluannya, bahkan yang fenomenal pada masanya Khilafah Utsman di bawah Abdul Hamid ll membangun Hijaz Rail way dan Baghdad Railway yang menghubungkan Istanbul, Ibu kota khilafah hingga mekah, melewati Damaskus, Palestina hingga Madinah. Tujuannya adalah memangkas waktu perjalanan ibadah haji dari beberapa bulan menjadi beberapa hari.


Islam bukan hanya mengatur sebatas ibadah ritual saja, tapi juga memiliki aturan yang bisa diterapkan negara  untuk membina rakyatnya. Supaya memiliki kesadaran taat aturan  dalam hal aturan berlalu lintas. Pemguasanya juga amanah dalam mengurus kepentingan rakyat.


Sejarah dalam kepemimpinan Islam, Khalifah Umar bin Khattab pada waktu itu kekuasaannya meliputi Jazirah  Arab, Persia, Irak, Mesir dan Syam (sekarang: suriah, Yordanio, Lebanon, dan Palestina) pernah berkata;

“Demi Allah jika ada seekor keledai di negeri Irak jatuh terperosok di jalan, aku khawatirkan keledai itu akan menuntut pertanggung jawaban saat hari kiamat kelak.”


Maka itu, jika keledai saja diperhatikan, apalagi manusianya. Islam dan kepemimpinan menjadi satu kesatuan yang seharusnya tidak boleh dipisahkan. Sebab, Islam tanpa kepemimpinan bagaikan anak ayam kehilangan induknya. Maka pemimpin dalam Islam berperan sebagai raa’in (pengurus), sekaligus junnah (penjaga) bagi seluruh rakyatnya. Maka jelas para Khalifah dari masa-kemasa berusaha sekuat tenaga memenuhi hak-hak rakyatnya serta menyejahterakan  dengan layanan yang terbaik. Semua ini bisa terwujud jika syariat Islam secara kaffah diterapkan.


Alhasil, penerapan sistem Islam oleh Negara inilah yang akan memberikan jaminan pasti bagi terwujudnya layanan transportasi berkualitas, murah, aman dan nyaman bagi seluruh rakyat tanpa harus menunggu momen Ramadan dan lebaran.


Wallahu’alam bisshowab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update