Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Banjir, Buah Dari Sistem Kapitalis

Saturday, March 22, 2025 | Saturday, March 22, 2025 WIB

 

Banjir, Buah Dari Sistem Kapitalis

Nur Inayah

Sedih, lelah , itulah sedikit gambaran yang tengah di rasakan oleh masyarakat yang tengah diuji oleh bencana banjir diberbagai wilayah saat ini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung mencatat ada ribuan rumah terdampak banjir di Desa Dayeuhkolot dan Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot, Rabu (26/2/2025).  Banjir ini diperkirakan di sebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi yang menyebabkan debit air sungai Citarum yang meluap.


Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi Kecamatan Dayeuhkolot  , merupakan salah satu Kecamatan yang sudah amat sering menjadi wilayah langganan banjir , masyarakat disana pun merasa sudah bosan menghadapi persoalan banjir ini karena banjir ini tidak pernah ada  solusi yang benar-benar mampu mengatasi banjir ini. Acap kali banjir terjadi selalu di klaim akibat curah hujan yang tinggi, padahal ketika intensitas curah hujan sedang pun, sudah bisa mendatangkan banjir di daerah ini.


Tak dapat dipungkiri sudah banyak upaya yang dilakukan guna mencegah banjir ini, mulai dari normalisasi sungai Citarum, diantarannya dengan pelebaran dan pengerukan sungai, pembuatan tanggul, hingga pembuatan Kolam Retensi, dan masih banyak upaya lainnya .Namun nyatannya hal tersebut belum mampu menjadi solusi yang tuntas menghadapi persoalan banjir ini. Lantas solusi apa yang sebenarnya mampu mengatasi banjir ini?.


Masalah banjir ini acap kali di klaim karena curah hujan yang tinggi, padahal seperti kita tahu banyak indikasi yang bisa menjadi penyebab banjir ini. Bukan menjadi rahasia umum lagi banyaknya penyalahgunaan lahan, lalu tata kelola ruang yang semeraut menjadikan masalah banjir ini tak kunjung usai, kurangnya mitigasi bencana yang serius  hingga sistem hidup yang digunakan saat ini. Karena hari ini dipakainya sistem sekuler-kapitalis yang memisahkan agama dari kehidupan hingga melahirkan para penguasa saat ini tidak benar-benar hadir untuk meriayah rakyatnya, ini semua dapat dilihat dari solusi-solusi yang di berikan hanya solusi pragmatis yang tentunya tak akan mampu menyentuh akar permasalahan hari ini.


Para penguasa saat ini hadir hanya sebagai regulator saja, sistem saat ini memberikan kebebasan kepada para pemilik modal untuk menguasai lahan-lahan yang seharusnya tidak dapat dimiliki oleh individu maupun kelompok. Ini dikarenakan adannya salah satu kebebasan di dalam sistem hari ini yakni adannya kebebasan berkepemilikan. Begitupun adanya kesalahan dalam tata kelola ruang hari ini yang semeraut pun ikut andil dalam persoalan banjir ini, begitu banyak pembangunan yang berdiri di tempat yang tidak seharusnya digunakan, misalnya saja bukit-bukit, hutan atau lahan yang itu seharusnya digunakan untuk penyerapan air.


Berbeda halnya dengan Islam, Islam sebagai agama yang sempurna dan paripurna dari Sang Khalik memiliki seperangkat aturan untuk mengatur segala aspek kehidupan manusia, begitupun Islam sebagai solusi setiap permasalah, termasuk dalam menghadapi persoalan banjir ini. Di dalam Islam sendiri banjir merupakan kehendak dari Allah SWT yang bisa berupa teguran maupun cobaan bagi umat manusia, Namun sudah seharusnya  sebagai salah satu negeri yang mayoritas penduduknya Islam, sudah saatnya  melakukan muhasabah diri, baik itu dilakukan oleh individu, masyarakat begitu pun negara, karena boleh jadi persoalan banjir ini semata-mata bukan ujian namun merupakan teguran dari Allah SWT karena, hari ini aturan Islam itu sendiri di campakan oleh manusia  ini terlihat dari berbagai bencana yang   datang menerpa negeri  ini. 



Dalam Islam sendiri ada aturan guna mencegah terjadinya banjir mulai dari  aturan  pengelolaan tata lingkungan  dan ruang sebagai salah satu upaya penting dalam pencegahan banjir, mengembalikan fungsi lahan, lahan yang harusnya jadi penyerapan air seperti di perbukitan tidak akan disalah gunakan  , begitupun lahan tata kelola ruang  untuk rakyatnya itu memang dipastikan aman dan nyaman untuk dijadikan pemukiman rakyatnya, adapun adannya kolam retensi maupun  pembangunan bendungan ini fungsinya selain menjadi sumber tenaga pembangkit listrik, namun bisa juga di gunakan untuk penampungan air di saat curah hujan tinggi maupun tempat persediaan air di musim kemarau, dan penguasa dalam Islam memahi benar tugasnya sebagai penguasa itu ada untuk meriayah rakyatnya. Memastikan rakyaknya mendapatkan kelayakan rumah yang nyaman dan aman , tanpa harus khawatir terjadinya banjir yang tiba-tiba. Memastikan huniannya jauh dari resiko banjir yang kemungkinan terjadi, dan akan memastikan mitigasi bencana yang bertujuan untuk menjaga keberlanjutan kehidupan dan keseimbangan bumi, bukan sebaliknya mencari solusi setelah bencana itu terjadi.


Dalam Islam pun tidak akan dibiarkan dan  diperbolehkan suatu individu maupun kelompok dapat dengan bebas memiliki sumber daya alam, baik itu hutan, gunung,bukit,dan masih banyak lagi yang lainnya. Yang pengelolaannya dilakukan oleh negara dan hasilnya semata-mata untuk kemaslahatan rakyatnya. Kepemimpinan islam yang dijalankan ini, nantinya akan  mendatangkan  keberkahan dari langit dan bumi yang dirasakan oleh seluruh rakyat yang ada dibawah kepemimpinannya , baik itu muslim maupun non muslim.

Ini hanya akan dirasakan ketika syariat islam di terapkan secara menyeluruh di suatu negeri.


Sebagimana firman Allah SWT:

"Dan sekirannya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan". Surat Al -A'raf ayat 96.


Wallahu a'lam bish shawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update