Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Al-Quds Dikooptasi, Umat Islam Tidak Boleh Diam

Wednesday, March 19, 2025 | March 19, 2025 WIB Last Updated 2025-03-19T03:47:03Z
Al-Quds Dikooptasi, Umat Islam Tidak Boleh Diam

 Syahidah Syarif mahasiswi dari UIN Alauddin Makassar Jurusan Ilmu Komunikasi 


Zionis menerapkan pembatasan jemaah salat di kompleks Masjid Al-Aqsa selama ramadan dengan dalih keamanan. Akses ke masjid tersebut ditengarai dibatasi oleh otoritas Israel melalui karantina wilayah. Hal ini disampaikan pengkhotbah Masjid Al Aqsa, Sheikh Ekrima Sabri, Jumat (28/2/2025) malam. Fakta itu menunjukkan bahwa wilayah ini masih dalam penjajahan, karena keamanan kaum muslimin di tangan orang kafir. 

Masjid Al Aqsa merupakan kiblat pertama bagi umat Islam yang terletak di Kota Baitul Maqdis (Al-Quds). Baitul Maqdis telah menyimpan begitu banyak sejarah dan peristiwa penting bagi umat Islam. Rasulullah sejak awal telah mengajarkan bahwa Baitul Maqdis adalah amanah yang harus dijaga kemuliaan dan kesuciaannya. Namun saat ini lokasi Masjid Al Aqsa yang awalnya merupakan wilayah Palestina, kemudian direbut oleh Zionis menjadi wilayah Yerussalem.

Sementara itu di tengah kesepakatan gencatan tentara Zionis melancarkan serangan besar-besaran di jalur gaza. Lebih dari 300 orang dilaporkan tewas dalam serangan itu. Ini merupakan sebuah gelombang serangan udara terbesar di Gaza sejak dimulainya gencatan senjata pada 19 Januari.(BBC, 18/03/24) 

  Selain itu mereka juga telah menghalangi masuknya bantuan dalam berbagai bentuk. Nampak jelas, zionis mengontrol kaum muslim Palestina, baik di tepi barat maupun Gaza semuanya. 

Zionis paham bahwa umat Islam masih menyimpan potensi perlawanan sehingga merasa harus menggunakan cara politik dan militer untuk melakukan penekanan, bahkan di Al Quds. Dalam situasi ini umat Islam Palestina tidak boleh gentar menghadapi kejahatan Zionis yang dibeking oleh AS. 

Umat Islam seharusnya tidak boleh lagi berharap pada solusi Barat dan narasi-narasi sesat soal perdamaian. Ramadan semestinya digunakan untuk menguatkan azzam dalam perjuangan melenyapkan penjajahan. Entitas zionis adalah muhariban fi'lan yang wajib dihadapi hanya dengan bahasa perang yang akan efektif dan solutif jika di bawah komando seorang khalifah.

Sama seperti ramadan yang menjadi junnah bagi kaum muslim dari kemaksiatan, seorang pemimpin atau seorang khalifah juga memiliki fungsi sebagai perisai untuk melindungi darah kaum muslim. Kenyataannya hari ini kaum muslim tidak berada dalam situasi persatuan umat yang dipimpin oleh seorang khalifah dalam sistem pemerintahan Islam. 

Banyaknya pemimpin-pemimpin negeri muslim di bawah sistem kapitalisme yang berlaku hari ini tidak mampu menyelesaikan persoalan palestina, maka penegakan kembali sistem pemerintahan Islam di bawah satu komando seorang pemimpin yaitu khalifah adalah qadliyah mashiriyah yang wajib menjadi agenda utama umat Islam. Rasulullah Saw. pun telah memberikan kabar gembira ini kepada umatnya seperti yang diriwayatkan dalam hadis berikut.


تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

“Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada.  Lalu  Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya.  Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada.  Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya.  Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) yang zalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada.  Lalu  Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya.  Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada.  Selanjutnya  akan ada kembali Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian.” Beliau kemudian diam. (HR Ahmad dan Al-Bazar).

Konsep kepemimpinan Islam sebagai suatu sistem bukan sekedar mimpi belaka yang tidak berdasar. Sejarah Islam telah mencatat bagaimana ketika pemerintahan Islam berkuasa, umat sangat dijamin keamanan dan kebutuhannya. Darah dan kehormatan kaum muslim adalah sesuatu yang berharga dan sangat dijaga. 

Seperti yang dikisahkan dalam sejarah pada tahun 837 masa kekhilafahan Bani Abbasiyah, terjadi sebuah peristiwa bersejarah di bawah kepemimpinan khalifah yaitu Al-Mu’tasim Billah di sebuah kota bernama Ammuriah. Saat itu seorang wanita meminta pertolongan  karena diganggu dan dilecehkan oleh orang Romawi. Kainnya dikaitkan ke paku sehingga ketika berdiri, terlihatlah sebagian auratnya. Wanita itu lalu berteriak memanggil nama khalifah Al-Mu’tasim Billah.

Mendengar laporan itu, khalifah kemudian segera bertindak dengan mengirim puluhan ribu pasukan untuk menyerbu kota Ammuriah (Turki). Seseorang meriwayatkan bahwa panjangnya barisan tentara ini tidak putus dari gerbang istana khalifah di kota Baghdad hingga kota Ammuriah (Turki), begitu banyaknya pasukan yang dikerahkan khalifah untuk melindungi satu wanita yang dilecehkan.

Runtuhnya sistem pemerintahan Islam merupakan musibah bagi umat, sebab umat telah kehilangan perisainya. Kaum muslim di palestina dan negeri muslim lainnya yang terjajah telah menerima begitu banyak penyiksaan, pelecehan, dan tak sedikit kaum muslim terbunuh di tanahnya sendiri. Maka di tengah kondisi banyaknya umat Islam yang direnggut nyawa dan kehormatannya secara paksa, sudah sepatutnya umat Islam perlu meyakini dan memperjuangkan kembali tegaknya sistem pemerintahan Islam sebagai konsekuensi keimanan.

×
Berita Terbaru Update