Oleh: Ummi Syafiyyah
Semakin hari keburukan dari sistem oligarki kian tampak. Berbagai kebijakan yang ditetapkan sering menimbulkan kesengsaraan bagi rakyat. Sebagai contoh penebangan hutan kalimantan, yang dilakukan untuk kepentingan segelintir golongan. Belum lagi maraknya kasus korupsi yang dilakukan mulai dari tingkat terendah hingga pejabat-pejabat negara. Sebut saja kasus korupsi pengadaan barang di Dinas perdagangan dan perindustrian yang nilainya mencapai hampir 1 miliar. Maka tidak heran jika sering dikatakan di mana ada jabatan dan uang, disitu pasti ada kesempatan untuk korupsi.
Sungguh keadaan yang sangat memprihatinkan jabatan yang dipegang tidak dijalankan dengan amanah dan penuh tanggung jawab. Padahal Nabi Muhammad sudah mencontohkan karakteristik seorang pemimpin.
Rasulullah saw. memperingatkan penguasa dan pemimpin yang tidak amanah dan zalim.
"Mereka adalah pemimpin yang jahat." (HR at-Tirmidzi). "Mereka adalah pemimpin yang dibenci oleh Allah, di benci oleh rakyat dan membenci rakyatnya." (HR Muslim).
Sayangnya, sistem pemerintahan demokrasi ini melahirkan pemimpin yang tidak bertanggung jawab. Yang hanya memperkaya diri dan mengeruk keuntungan pribadi tanpa memikirkan derita yang dialami rakyatnya.
Sayangnya, meski keadaan ini sudah menjadi rahasia umum, namun masyarakat tetap merasa sistem demokrasi ini baik jika dijalankan dengan benar. Masyarakat memilih tetap berharap pada hal yang semu yang jelas menambah parah keadaan, walaupun membuahkan kekecewaan tanpa solusi.
Padahal keadaan ini dapat terselesaikan dengan kebangkitan berpikir manusia itu sendiri. Yang dimana berpikir kritis pada setiap kejadian merupakan solusi jika dikaitkan dengan sistem Islam yang dijalankan dengan sempurna. Tidak ada sebuah masalah yang diciptakan oleh Allah kecuali dengan penyelesaiannya. Dan semua itu hanya akan tersolusikan penegakan hukum Allah di setiap aspek kehidupan.
Wallahu alam Bissawab
No comments:
Post a Comment