Oleh Ratna Ummu Nida
Program andalan Presiden baru kita yaitu makan siang gratis yang kini berganti menjadi makan bergizi gratis, menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Pasalnya dana yang semula dianggarkan Rp15.000 per porsi kini menciut menjadi Rp10.000 per porsi.
Presiden Prabowo menyatakan bahwa dengan dana Rp10.000 dirasa cukup untuk kebutuhan di daerah. Beliau juga mengatakan, "Kita ingin Rp15.000, tapi kondisi anggaran mungkin Rp10.000. Kita hitung untuk daerah-daerah itu cukup, cukup bermutu dan bergizi,” (kompas.com, 1/12/2024).
Sejumlah orang tua di Magelang mengkhawatirkan adanya keputusan tersebut. Salah satunya Fathiyah (45), ibu dari dua anak yang masih duduk di bangku SD dan SMP. Ia merasa bahwa dana sebesar itu sulit mencukupi kebutuhan gizi anak secara optimal, terutama untuk memenuhi komposisi ideal seperti karbohidrat, protein, sayur, dan buah (tribunnews.com, 3/12/2024).
Penurunan dana dari Rp15.000 menjadi Rp10.000 oleh orang tua siswa dirasa tidak bisa memenuhi standar bergizi. Ditambah lagi harga-harga yang kian melonjak setelah adanya kenaikan PPN 12%. Meskipun PPN tersebut hanya diberlakukan untuk barang-barang mewah namun faktanya kenaikan harga-harga kebutuhan lainnya pun ikut melonjak.
Adanya keluhan dari para orang tua dengan program Makan Bergizi Gratis ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara kebijakan pemerintah dengan kondisi kebutuhan riil di masyarakat. Dengan harga-harga pokok yang terus naik, dana Rp10.000 per porsi dirasa sulit untuk memenuhi kebutuhan gizi lengkap bagi anak-anak.
Program Makan Bergizi Gratis ini terkesan terlalu dipaksakan. Masih banyak kekurangan di sana-sini. Selain itu lemahnya pengawasan terhadap implementasi program membuat program ini tidak berjalan efektif. Program MBG ini dinilai hanya sebatas program jangka pendek yang kurang memperhatikan terhadap keberlangsungan kesehatan anak-anak. Terkesan hanya menggugurkan janji-janji saat kampanye.
Dalam Islam, pemenuhan makan bergizi bagi generasi adalah tanggung jawab bersama.
Allah Swt. berfirman,
“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar”(QS An-Nisa: 9).
Ayat ini menjelaskan tentang kewajiban dalam pemenuhan kesejahteraan terhadap generasi. Kewajiban ini dibebankan pada tiap kepala keluarga (ayah), yang harus memenuhi kebutuhan pokok keluarga termasuk makanan bergizi bagi anak-anak. Hanya saja, agar peran ini terealisasi dengan baik perlu adanya campur tangan negara.
Dalam negara Islam, Khilafah akan membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi para kepala keluarga (ayah) serta memastikan mereka bisa bekerja dengan penghasilan layak sehingga mampu memenuhi kebutuhan gizi bagi anak-anaknya. Ketika ada ayah yang tidak sanggup bekerja karena sakit keras, misalnya, atau karena hal lainnya, dan tidak ada juga kaum kerabatnya yang bisa menafkahi, maka orang-orang terdekat yang ada di lingkungan sekitar anak yang bertanggung jawab membantu nafkah keluarga tersebut (seperti tetangga, teman, dll).
Ketika tidak ada lagi yang mampu membantu, maka negara yang akan secara langsung memberi bantuan sehingga tidak ada satu anak pun yang kelaparan dan kekurangan gizi.
Khilafah juga akan berupaya mewujudkan ketahanan dan keamanan pangan, tidak bergantung kepada impor, dan memastikan bahan-bahan pangan terdistribusi ke seluruh wilayah negara Khilafah. Inilah yang akan membuat harga pangan menjadi murah dan terjangkau oleh semua keluarga.
Khilafah juga akan menerapkan sistem ekonomi Islam yang akan membuat negara mampu mengupayakan kesejahteraan rakyatnya. Ini karena penerapan sistem ekonomi Islam menjadikan harta milik umum, seperti sumber daya alam yang melimpah ruah, termasuk barang-barang tambang yang sangat banyak dan beragam jenisnya, semuanya dikelola oleh Khilafah dan hasilnya akan dipergunakan untuk memakmurkan atau mensejahterakan rakyat. Dengan kondisi seperti itu, penjaminan kebutuhan makanan yang bergizi bagi generasi, bahkan bagi rakyat di seluruh pelosok negeri adalah hal yang sangat mudah bagi Khilafah. Bahkan, tidak hanya jaminan kebutuhan makanan yang bergizi, tetapi biaya pendidikan dan kesehatan pun akan bisa diupayakan gratis bagi seluruh rakyat.
Wallahu'alam bishshowab.

No comments:
Post a Comment