Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kualitas Generasi Semakin Mundur Berbeda Dengan Sistem Islam

Wednesday, January 22, 2025 | Wednesday, January 22, 2025 WIB

 Kualitas Generasi Semakin Mundur Berbeda Dengan Sistem Islam 

Oleh : Fina Fauziah ( Aktivis Muslimah )

KOMPAS.com - Warga Perumahan Made Great Residence, Desa Made, Lamongan, digegerkan dengan penemuan jasad membusuk di sebuah warung kopi yang sudah lama tutup, pada Rabu (15/1/2025). Jasad yang ditemukan dalam kondisi mengenaskan ini akhirnya terungkap sebagai korban pembunuhan, dengan pelaku yang tak lain adalah teman korban sendiri. Penemuan tersebut berawal saat seorang penyewa warung, Zamroni, datang untuk membersihkan warung yang sudah tidak beroperasi lebih dari sebulan. "Saya awalnya ke warung untuk membersihkan warung karena sudah lama tutup, sudah lebih kurang 1 bulan warung tutup," kata Zamroni kepada wartawan, Rabu (15/1/2025). Begitu memasuki warung, ia mencium bau busuk yang sangat menyengat. Saat ia melangkah masuk ke dalam kamar warung, ia terkejut menemukan bagian tubuh korban yang membusuk di bawah tumpukan meja.  "Saya mencium bau busuk dan di dalam kamar saya melihat ada tangan dan kaki. Saya langsung lari keluar," lanjut Zamroni. Dengan ketakutan, Zamroni keluar dan berteriak meminta pertolongan warga sekitar. Beberapa warga kemudian melapor ke Polsek Kota Lamongan. Tidak lama setelahnya, petugas kepolisian bersama Tim Inavis Polres Lamongan tiba di lokasi dan segera melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Pembunuhan yang terjadi pada Jumat (10/1/2025) itu, menurut keterangan polisi, direncanakan dan dilakukan di lokasi penemuan jasad. "Korban adalah teman pelaku, dan pembunuhan sudah direncanakan dijemput dan dibawa ke lokasi," ungkap AKBP Bobby. Motif pembunuhan itu ternyata berawal dari penolakan cinta. Polisi menyebutkan bahwa pelaku membunuh korban setelah perasaannya ditolak.


 Padahal, sebagai seorang Muslim kita senantiasa diajarkan untuk terikat dalam syariah dalam setiap sendi-sendi kehidupan. Sekulerisme menolak itu semua, dan hanya menempatkan Islam sebagai ritual. Inilah yang menjadi banyak aturan yang lahir bertentangan dengan Syariat Islam. Karena sekulerisme melahirkan aturan dari buah pikiran yang bercampur hawa nafsu mereka yang tak mau tunduk pada syariat.


Sekulerisme selalu menjadi dalil bagi kaum liberal untuk tidak mentaati syariah bahkan sampai alergi dan anti pada syariah. Agama hanya ditempatkan di tempat ibadah saja, dalam kehidupan sehari-hari aturan agama ditinggalkan bahkan dilanggar. Sedihnya hal tersebut telah menjadi nafas setiap aturan yang ada dalam negeri ini.


Sebagaimana kita lihat dalam sistem pendidikan negeri ini yang dikapitalisasi. Kurikulum yang dijalankan lebih menitikberatkan pada hasil nilai yang diraih. Pendidikan karakter yang selama ini digembar-gemborkan hilang arah, karena nafas dari sistem pendidikan negeri ini adalah sekulerisme liberal. Dimana pendidikan ini tidak menjadikan aqidah sebagai dasar dari pijakan ilmu. Lumrah jika seseorang mengecam pendidikan orientasinya adalah materi bukan diniatkan karena Allah dan untuk memberi kemashlahatan umat.



Oleh karena itu, bukan menjadi hal yang mengejutkan jika generasi yang tercipta dari sistem kehidupan sekuler adalah generasi yang rusak dan merusak.


 Padahal dalam Islam, persoalan darah kaum muslimin bukanlah perkara yang remeh. Ada banyak ancaman yang Allah ta’ala sebutkan—baik dalam Al-Qur’an maupun di dalam hadis nabi-Nya—terhadap siapa saja yang melenyapkan nyawa kaum muslimin tanpa ada alasan yang dibenarkan di dalam syariat. Karena di sisi Allah ta’ala, nyawa kaum muslimin memiliki nilai yang cukup tinggi. Bahkan hancurnya dunia sekalipun, itu masih lebih ringan dibandingkan dengan hilangnya nyawa seorang muslim. Rasulullah SAW bersabda:


لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ


“Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.” (HR. An-Nasa’i)


Lebih tegas lagi, Nabi SAW menyebutkan bahwa keagungan Ka’bah di sisi Allah ta’ala tidak melebihi agungnya nyawa seorang muslim. Dalam riwayat dari Ibnu Abbas r.a ia berkata, “Ketika Rasulullah SAW memandang Ka’bah, beliau bersabda, ‘Selamat datang wahai Ka’bah, betapa agungnya engkau dan betapa agung kehormatanmu. Akan tetapi orang mukmin lebih agung di sisi Allah daripadamu’.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul iman, no. 4014: shahih)


Oleh karena itu, para ulama menggolongkan tindakan membunuh orang muslim yang tidak bersalah termasuk bagian dari dosa besar. Akibatnya, selain mendapat ancaman neraka, pelaku pembunuhan juga akan dijauhkan dari cahaya Islam serta didekatkan dengan kekufuran. Sebuah riwayat dari Ibnu Umar r.a disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda:


لَا يَزَالُ العَبْدُ فِيْ فُسْحَةِ مِنْ دِيْنِهِ ماَ لَمْ يُصِبْ دَمًا حَرَامًا


“Seorang mukmin masih dalam kelonggaran agamanya selama dia tidak menumpahkan darah haram.”


Dampak karakter jahat pada anak amatlah buruk bagi tatanan masyarakat dan kehidupan bernegara.  Secara anak adalah tonggak penerus peradaban bangsa. Gambaran masyarakat dan negara yang rusak jelas tercipta jika generasinya salah asuhan. Generasi salah asuh karena sistem yang digunakan untuk mengatur kehidupan juga salah dan merusak. Jadi ini menjadi paket komplit rusaknya sebuah bangunan negara. Sistenya rusak akibatnya generasinya rusak. Itulah yang ditimbulkan oleh sistem sekuelrisme liberal.



Dalam Islam jika anak tersebut belum baligh harus mendapatkan perlakuan khusus untuk menghilangkan pemahaman buruk yang terekam dalam benaknya. Berbeda jika sudah memasuki usia baligh, hukum Islam diterapkan atas perilaku yang telah dia lakukan. Nyawa dibayar dengan nyawa. Inilah keadilan di dalam Islam, sekaligus agar umat manusia tidak semudah itu menghilangkan nyawa saudaranya tanpa alasan yang diizinkan oleh syariat.


Bukan seperti yang terjadi dalam sistem Sekulerisme liberal. Nyawa tidak ada harganya, bahkan jika pelaku gangguan jiwa seolah bebas dari jerat hukum, karena pelaku dianggap sakit dan haru ditoleransi atas tindakan brutalnya. Jelas ini adalah cara yang salah. Wajar saja jika orang jahat semakin lama semakin banyak. Selain itu orang jahat ersebut semakin brutal dan biadab dalam membunuh saudaranya. Itu pun dijadikan film yang disebarkan dalam industri kapitalistik demi meraup keuntungan dan menyebarkan paham sesat yang terkandung dalam film tersebut.


 Sistem kehidupan sekuler serba bebas telah terbukti menjadi perusak utama lahirnya generasi unggul. Tidak lain tidak bukan sebagai seorang Muslim, kita harus terus mengupayakan agar sistem kehidupan Islam mampu terwujud dalam kehidupan. Karena ini adalah jawaban atas semua permasalahan yang ada di negeri ini. Akan susah sekali melahirkan generasi emas jika tata kehidupan masih rusak. Mereka yang sudah terbentuk pemahaman yang benar tentang Islam harus terus mendakwahkan Islam agar Islam mampu mewujud dalam segala lini kehidupan.


Generasi bangsa adalah tonggak penerus peradaban bangsa. Di tangan generasi lah akan dibawa kemana arah negara berjalan. Jika generasi rusak maka rusaklah negara, jika generasi unggul maka unggul pula suatu negara. Untuk mencetak generasi bangsa yang unggul dibutuhkan sistem yang shohih pula. Sistem apalagi kalau bukan sistem syariah Islam secara total.


Sistem Islam dalam bingkai Khilafah terbukti mampu mencetak generasi unggul pengisi peradaban emas. Seperti Ali bin Abi Thalib dia adalah pemuda yang pertama kali masuk Islam, melalui didikan Rasulullah Saw Ali bin Abi Thalib tumbuh menjadi mujahid Islam yang senantiasa ikut berperang membela Islam. Mus’ab bin Umair pemuda tampan dan kaya raya, rela meninggalkan hartanya demi melaksanakan amanah suci membawa dakwah Islam sampai ke Madinah. Zaid bin Harits yang ingin ikut berangkat berjihad di usia yang masih muda belia.



Perempuan tangguh yang populer juga datang dari Nusaibah binti Ka’ab dengan bahagia beliau turun ke medan perang melawan musuh-musuh Islam demi melindungi baginda Muhammad Saw. Sekalipun dia seorang perempuan dia tak gentar menjadi pelindung Nabi Muhammad Saw. Begitu juga Muhammad Al Fatih yang kisahnya fenomenal dan populer sampai hari ini. Pada usia 21 tahun Muhammad Al Fatih mampu menaklukka kota Konstantinopel, beliau ahli ketentaraan, strategi perang, sains, matematika, dan mampu menguasai 6 bahasa.


Belum pula lahir empat Imam mahzab yang ahli hukum Islam yaitu Imam Maliki, Imam Ahmad ibn Hanbal, Imam Abu Hanifah, dan Imam Syafi’i. Kemudian ditambah lagi para ilmuwan muslim yang berperan penting dalam sains dan teknologi masa kini. Seperti Ibnu Sina ahli kedokteran, Al Khawarizmi ahli matematika, Jabbir Hayyan ahli Kimia, Ibnu Rusydi ahli astronomi, dan masih banyak lagi yang lain.


Sebenarnya kegemilangan generasi yang tercipta pada zaman peradaban Islam itu bukanlah sesuatu yang ‘mak bedunduk’ tapi itulah buah dari penerapan syariah Islam dalam segala aspek kehidupan. Syariat Islam menjadikan aqidah Islam sebagai dasar dari segala dasar


Wallahu A'lam Bisshowab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update