Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kesenjangan Fasilitas Pendidikan, Mengapa ?

Wednesday, January 15, 2025 | Wednesday, January 15, 2025 WIB

Kesenjangan Fasilitas Pendidikan, Mengapa ?

Oleh : Fani Ratu Rahmani
(Aktivis dakwah dan Pemerhati Generasi)

Pemkot Samarinda sedang membangun sekolah terpadu bertaraf internasional sebagai model percontohan. Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Samarinda, Muhammad Novan Syahronny Pasien mengingatkan pentingnya menyelaraskan pembangunan tersebut dengan rehabilitasi sekolah-sekolah lain yang membutuhkan perbaikan. Karna sekolah-sekolah yang saat ini kondisinya sudah tidak layak. Keduanya harus berjalan bersamaan.

Namun, memang ada fakta keterbatasan anggaran menjadi tantangan utama. Dengan total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sekitar Rp5 triliun, alokasi untuk sektor pendidikan baru mencapai sekitar Rp900 miliar. Ini merupakan masalah pendidikan yang harusnya di solusikan, hanya saja jika diperhatikan ini menjadi persoalan yang terus berulang.

Mengapa Hal Ini Terjadi?

Adanya kesenjangan sarana prasarana pendidikan antar sekolah ini membuat akses pendidikan tidak merata diserap, akhirnya taraf dan kualitas pun berbeda. Kita akan temukan fakta bahwa daerah pedalaman kerap kali mendapat sarana prasarana yang minim dengan pendidik dan juga tenaga pendidik yang sedikit. Namun, disisi lain di wilayah besar seperti kota diberikan sarana prasarana yang memadai termasuk sumber daya manusianya. Sehingga, kualitas tidak bisa dipungkiri bahwa akan berbeda.

Inilah tata kelola negara dengan sudut pandang sekularisme. Dengan sudut pandang sekuler-materialistik, negara tidak lagi berperan penuh sebagai pengurus umat, melainkan hanya sekadar regulator dan fasilitator saja. Sehingga negara bertindak ala kadarnya, bukan sepenuh hati dan tanggung jawab, menjadikan setiap individu bisa mendapatkan pendidikan. Inilah model negara dalam sistem kapitalisme.

Anggaran dana untuk pendidikan pun juga minim. Sebagaimana kita lihat bahwa anggaran untuk pendidikan di negeri ini saja tidak begitu besar, sedangkan kebutuhan pendidikan begitu besar. Mulai dari infrastruktur yang memadai, sarana dan prasarana, gaji tenaga pendidikan, buku dan media pembelajaran, dan lainnya. Ini tidak bisa diserahkan pada individu, tapi kapitalisme membuat individu terbebani di tengah kondisi ekonomi yang kritis. Na’udzubillah.

Pemerintah seharusnya tidak sekedar membangun sekolah bertaraf internasional atau perbaikan sarana tetapi sistem kurikulum pendidikan harus juga diperhatikan agar menghasilkan pendidik dan generasi yang tidak bermasalah. Sehingga memang banyak catatan buruk dari kapitalisme yang berdampak pada output generasi. Kurikulum yang dihasilkan sekuler hanya membuat generasi sekaligus pendidiknya menjadi rusak dan merusak.

Inilah sederet realitas dari sistem kapitalisme di dunia pendidikan. Kapitalisme yang juga merasuk dalam berbagai aspek tentu mempengaruhi kebijakan politik, ekonomi dan sosial. Sehingga, pendidikan terkena imbasnya. Apabila hanya memperbaiki dari sisi pendidikan saja tentu tidak mungkin, karena pendidikan adalah aspek yang saling berkaitan dengan aspek lain seperti mata rantai. Di sinilah butuh untuk menghilangkan penerapan sistem kapitalisme ala barat ini, jika ingin masalah pendidikan dan masalah lainnya bisa selesai secara tuntas.

Pandangan Islam

Jika kita tidak bergantung pada sistem kapitalisme, maka beralihlah pada satu-satunya pilihan shahih yaitu syariat islam. Islam bukan hanya sekedar agama ritualitas tanpa nizham (aturan). Islam memiliki seperangkat konsep (fikrah) dan metode pelaksanaan (thariqah), sebagai tanda sebuah mabda’ (ideologi).

“Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syariat (peraturan) dari agama itu, maka ikutilah (syariat itu) dan janganlah engkau ikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui.” (TQS Al Jatsiyah ayat 18)

Islam juga memiliki sudut pandang khas mengenai pendidikan. Dalam islam, pendidikan merupakan kebutuhan primer bagi masyarakat. Ditambah ada sebuah kewajiban menuntut ilmu dalam islam. Baik menuntut ilmu agama yang hukumnya fardhu ‘ain maupun ilmu umum yang hukumnya fardhu kifayah.

Hanya saja dalam islam, pemenuhan pendidikan bukan tanggung jawab individu semata melainkan ada peran negara yang cukup besar. Kebijakan di dalam Islam menerangkan bahwa negara wajib memenuhi kebutuhan manusia dalam kehidupannya per individu, baik laki-laki maupun perempuan pada tingkat pendidikan dasar dan menengah.

Dengan pandangan pendidikan adalah kebutuhan maka tak lepas dari sistem ekonomi yang diterapkan. Di sinilah penting pula untuk menjadikan aspek lainnya berdasarkan syariat islam. Islam akan memperhatikan dari sisi anggaran, media, tenaga kerja, riset, industri sampai pada tataran politik luar negeri. Negara dalam Islam itu benar-benar menyadari bahwa pendidikan adalah sebuah investasi masa depan.

Sehingga kita akan menemukan bahwa dengan syariat islam maka muncul pendidikan yang berkualitas dan bebas biaya. Kualitas pendidikannya dilihat dari penerapan kurikulum yang berdasarkan islam juga output generasi yang bertaqwa. Bebas biaya bisa didapatkan dengan pengelolaan sumber pemasukan negara dan pengelolaan harta yang termasuk kepemilikan umum seperti sumber daya alam yang Allah ciptakan. Karna berlimpahnya sumber daya alam seharusnya bisa mencukupi anggaran negara hingga tahap optimal. Itu semua bisa terealisasi secara menyeluruh.

Rasulullah saw. dalam hadis riwayat Muslim mengatakan seorang imam atau kepala negara adalah penggembala atau penanggung jawab dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas penggembalaan atau kepemimpinannya.

Jelasnya, meskipun negara adalah pihak yang paling bertanggung jawab dalam penyediaan dan penyelenggaraan pendidikan bagi seluruh warga negara, bukan berarti individu dilarang menyelenggarakan pendidikan secara mandiri. Setiap warga negara diperbolehkan mendirikan sekolah, madrasah, pesantren, atau lembaga-lembaga pendidikan. Bahkan, boleh menarik kompensasi atas jasa yang telah mereka berikan itu. Namun, kebanyakan memang berbentuk lembaga wakaf karena kecintaan pada ilmu. Masyaa Allah.

Betapa sempurnanya pengaturan islam mengenai pendidikan. Kita tidak menemukan kegagalan sistemik dalam sejarah peradaban islam. Melainkan kita hanya menemukan abad keemasan dengan kemajuan di bidang tsaqofah dan penguasaan sains dan teknologi. Lahirnya para ulama dan ilmuwan yang berkhidmat kepada umat. Mari kita kembali pada syariat islam kaffah, menegakkan khilafah rasyidah agar hidup lebih berkah. Aamiin. Wallahu a’lam bish shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update