Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

SHOLAWAT! CINTA NABI CINTA SYARI'AH

Thursday, November 07, 2024 | Thursday, November 07, 2024 WIB

Saat ini bacaan sholawat menjadi tren tersendiri hampir di semua kalangan, bahkan di sosial media bacaan tersebut banyak menginspirasi non muslim untuk mengikuti irama sholawat. Fenomena ini sebenarnya dari dari dulu sudah ada.Sebab menurut mereka, bacaan sholawat merupakan bukti cinta kepada rasul-Nya. Benarkah demikian?
Sholawat atau Shalawat adalah bentuk penghormatan untuk mendoakan. Membaca sholawat untuk Nabi, memiliki maksud mendoakan atau memohonkan berkah kepada Allah Swt. untuk Nabi dengan ucapan, pernyataan serta pengharapan, semoga dia sejahtera.Bersholawat ketika mendengar nama Nabi Muhammad SAW hukumnya adalah sunnah yang diutamakan. Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang paling kikir yaitu bila namaku disebut di dekatnya ia tidak mau mengucapkan sholawat kepadaku.Akan tetapi, fenomena gerakan sholawat hari ini pada faktanya masih seputar bacaan, belum sampai kepada pengaplikasian terhadap sikap, perbuatan, ketetapan dan persetujuan yang telah dicontohkan oleh nabi SAW. Umat muslim kebanyakan masih menjadikan sholawat sebatas rasa senang dan mengikuti tren semata bukan berangkat dari pemahaman yang mendasar mengapa sholawat itu diperintahkan oleh Allah SWT. Dan bahkan ada dalam firman-Nya;
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.(Qs.Al-ahzab;56)
Makna hakiki:cinta nabi SAW cinta syari’ah
Sejatinya, sholawat tidak hanya cukup pada ucapan belaka. Oleh karena, ketika para sahabat melantunkan pujian atas Rasulullah SAW, juga dibarengi dengan mengikuti seluruh syari’at beliau SAW mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Yang artinya sholawat tidak hanya sekedar dimaknai sebagai lafadz semata, akan tetapi harus menjadikan beliau SAW sebagai rujukan utama dalam berfikir dan beraktivitas. Allah SWT berfirman;
وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ
Artinya;”Apa yang diberikan(dibawa) oleh Rasul kepadamu, maka terimalah(ambillah). Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya”.(Qs.Al-hasyr;7)
Dari ayat di atas perlu dipahami bahwasanya cinta kepada Rasullulah SAW haruslah dengan mengikuti segala apa yang telah dibawa/dikerjakan/ditetapkan/di syari’atkan oleh beliau SAW. Tidak hanya mengikuti dalam aspek ibadah mahdhoh semata.Misalnya melaksanakan rukun islam,malan dengan tangan kanan,doa ketika mau makan,memuliakan tetangga,dsb.Tapi lebih dari itu,umat muslim seharusnya juga meneladani dalam seluruh aspek termasuk dalam hal memberikan pembinaan kepada sahabat terkait dengan penguatan aqidah,mengajarkan sholat, bersedekah,cara berbakti kepada orang tua,mendakwahkan Islam di tengah kaumnya,jihad fii sabilillah yakni memerangi kaum kafir yang memusuhi Islam,dll.Begitu juga cinta kepada nabi SAW memiliki konsekuensi untuk meninggalkan seluruh apa-apa yang dilarang oleh Allah dan rasul-Nya. Diantaranya adalah seruan untuk meninggalkan aktivitas riba, ghibah, merendahkan orang lain, korupsi, berzina, memakan harta orang lain dengan cara bathil seperti menipu, berdusta, dsb. Semua itu merupakan bukti cinta sejati yang seharusnya dilakukan oleh individu muslim kepada junjungannya yakni Rasulullah Muhammad SAW. Dan yang paling utama adalah berhukum kepada Allah SWT dengan ketaatan yang sempurna dan merupakan bukti cinta kepada beliau SAW.
Allah SWT berfirman;
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Artinya: Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(Qs.Ali-Imran;31)
Demikianlah, bahwasanya sholawat merupakan jalan untuk mengambil seluruh apa” yang menjadi syari’at atau aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Mencontoh seluruh apa yang dikerjakan, tidak mengambil sebagian dan mencampakkan sebagian yang lain dengan dalih asa manfaat atau bahkan menjadi orang pertama yang menentang hukumnya karena alasan tidak sesuai dengan kondisi zaman. Na’udzubillah

 

 

SHOLAWAT! CINTA NABI CINTA SYARI’AH
Saat ini bacaan sholawat menjadi tren tersendiri hampir di semua kalangan, bahkan di sosial media bacaan tersebut banyak menginspirasi non muslim untuk mengikuti irama sholawat. Fenomena ini sebenarnya dari dari dulu sudah ada.Sebab menurut mereka, bacaan sholawat merupakan bukti cinta kepada rasul-Nya. Benarkah demikian?
Sholawat atau Shalawat adalah bentuk penghormatan untuk mendoakan. Membaca sholawat untuk Nabi, memiliki maksud mendoakan atau memohonkan berkah kepada Allah Swt. untuk Nabi dengan ucapan, pernyataan serta pengharapan, semoga dia sejahtera.Bersholawat ketika mendengar nama Nabi Muhammad SAW hukumnya adalah sunnah yang diutamakan. Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang paling kikir yaitu bila namaku disebut di dekatnya ia tidak mau mengucapkan sholawat kepadaku.Akan tetapi, fenomena gerakan sholawat hari ini pada faktanya masih seputar bacaan, belum sampai kepada pengaplikasian terhadap sikap, perbuatan, ketetapan dan persetujuan yang telah dicontohkan oleh nabi SAW. Umat muslim kebanyakan masih menjadikan sholawat sebatas rasa senang dan mengikuti tren semata bukan berangkat dari pemahaman yang mendasar mengapa sholawat itu diperintahkan oleh Allah SWT. Dan bahkan ada dalam firman-Nya;
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.(Qs.Al-ahzab;56)
Makna hakiki:cinta nabi SAW cinta syari’ah
Sejatinya, sholawat tidak hanya cukup pada ucapan belaka. Oleh karena, ketika para sahabat melantunkan pujian atas Rasulullah SAW, juga dibarengi dengan mengikuti seluruh syari’at beliau SAW mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Yang artinya sholawat tidak hanya sekedar dimaknai sebagai lafadz semata, akan tetapi harus menjadikan beliau SAW sebagai rujukan utama dalam berfikir dan beraktivitas. Allah SWT berfirman;
وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ
Artinya;”Apa yang diberikan(dibawa) oleh Rasul kepadamu, maka terimalah(ambillah). Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya”.(Qs.Al-hasyr;7)
Dari ayat di atas perlu dipahami bahwasanya cinta kepada Rasullulah SAW haruslah dengan mengikuti segala apa yang telah dibawa/dikerjakan/ditetapkan/di syari’atkan oleh beliau SAW. Tidak hanya mengikuti dalam aspek ibadah mahdhoh semata.Misalnya melaksanakan rukun islam,malan dengan tangan kanan,doa ketika mau makan,memuliakan tetangga,dsb.Tapi lebih dari itu,umat muslim seharusnya juga meneladani dalam seluruh aspek termasuk dalam hal memberikan pembinaan kepada sahabat terkait dengan penguatan aqidah,mengajarkan sholat, bersedekah,cara berbakti kepada orang tua,mendakwahkan Islam di tengah kaumnya,jihad fii sabilillah yakni memerangi kaum kafir yang memusuhi Islam,dll.Begitu juga cinta kepada nabi SAW memiliki konsekuensi untuk meninggalkan seluruh apa-apa yang dilarang oleh Allah dan rasul-Nya. Diantaranya adalah seruan untuk meninggalkan aktivitas riba, ghibah, merendahkan orang lain, korupsi, berzina, memakan harta orang lain dengan cara bathil seperti menipu, berdusta, dsb. Semua itu merupakan bukti cinta sejati yang seharusnya dilakukan oleh individu muslim kepada junjungannya yakni Rasulullah Muhammad SAW. Dan yang paling utama adalah berhukum kepada Allah SWT dengan ketaatan yang sempurna dan merupakan bukti cinta kepada beliau SAW.
Allah SWT berfirman;
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Artinya: Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(Qs.Ali-Imran;31)
Demikianlah, bahwasanya sholawat merupakan jalan untuk mengambil seluruh apa” yang menjadi syari’at atau aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Mencontoh seluruh apa yang dikerjakan, tidak mengambil sebagian dan mencampakkan sebagian yang lain dengan dalih asa manfaat atau bahkan menjadi orang pertama yang menentang hukumnya karena alasan tidak sesuai dengan kondisi zaman. Na’udzubillah

 

 

SHOLAWAT! CINTA NABI CINTA SYARI’AH

Saat ini bacaan sholawat menjadi tren tersendiri hampir di semua kalangan, bahkan di sosial media bacaan tersebut banyak menginspirasi non muslim untuk mengikuti irama sholawat. Fenomena ini sebenarnya dari dari dulu sudah ada.Sebab menurut mereka, bacaan sholawat merupakan bukti cinta kepada rasul-Nya. Benarkah demikian?
Sholawat atau Shalawat adalah bentuk penghormatan untuk mendoakan. Membaca sholawat untuk Nabi, memiliki maksud mendoakan atau memohonkan berkah kepada Allah Swt. untuk Nabi dengan ucapan, pernyataan serta pengharapan, semoga dia sejahtera.Bersholawat ketika mendengar nama Nabi Muhammad SAW hukumnya adalah sunnah yang diutamakan. Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang paling kikir yaitu bila namaku disebut di dekatnya ia tidak mau mengucapkan sholawat kepadaku.Akan tetapi, fenomena gerakan sholawat hari ini pada faktanya masih seputar bacaan, belum sampai kepada pengaplikasian terhadap sikap, perbuatan, ketetapan dan persetujuan yang telah dicontohkan oleh nabi SAW. Umat muslim kebanyakan masih menjadikan sholawat sebatas rasa senang dan mengikuti tren semata bukan berangkat dari pemahaman yang mendasar mengapa sholawat itu diperintahkan oleh Allah SWT.

Dan bahkan ada dalam firman-Nya;

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.(Qs.Al-ahzab;56)

Makna hakiki:cinta nabi SAW cinta syari’ah

Sejatinya, sholawat tidak hanya cukup pada ucapan belaka. Oleh karena, ketika para sahabat melantunkan pujian atas Rasulullah SAW, juga dibarengi dengan mengikuti seluruh syari’at beliau SAW mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Yang artinya sholawat tidak hanya sekedar dimaknai sebagai lafadz semata, akan tetapi harus menjadikan beliau SAW sebagai rujukan utama dalam berfikir dan beraktivitas.

Allah SWT berfirman;

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

Artinya;”Apa yang diberikan(dibawa) oleh Rasul kepadamu, maka terimalah(ambillah). Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya”.(Qs.Al-hasyr;7)

Dari ayat di atas perlu dipahami bahwasanya cinta kepada Rasullulah SAW haruslah dengan mengikuti segala apa yang telah dibawa/dikerjakan/ditetapkan/di syari’atkan oleh beliau SAW. Tidak hanya mengikuti dalam aspek ibadah mahdhoh semata.Misalnya melaksanakan rukun islam,malan dengan tangan kanan,doa ketika mau makan,memuliakan tetangga,dsb.Tapi lebih dari itu,umat muslim seharusnya juga meneladani dalam seluruh aspek termasuk dalam hal memberikan pembinaan kepada sahabat terkait dengan penguatan aqidah,mengajarkan sholat, bersedekah,cara berbakti kepada orang tua,mendakwahkan Islam di tengah kaumnya,jihad fii sabilillah yakni memerangi kaum kafir yang memusuhi Islam,dll.Begitu juga cinta kepada nabi SAW memiliki konsekuensi untuk meninggalkan seluruh apa-apa yang dilarang oleh Allah dan rasul-Nya. Diantaranya adalah seruan untuk meninggalkan aktivitas riba, ghibah, merendahkan orang lain, korupsi, berzina, memakan harta orang lain dengan cara bathil seperti menipu, berdusta, dsb. Semua itu merupakan bukti cinta sejati yang seharusnya dilakukan oleh individu muslim kepada junjungannya yakni Rasulullah Muhammad SAW. Dan yang paling utama adalah berhukum kepada Allah SWT dengan ketaatan yang sempurna dan merupakan bukti cinta kepada beliau SAW.

Allah SWT berfirman;

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya: Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(Qs.Ali-Imran;31)

Kesimpulan

Demikianlah, bahwasanya sholawat merupakan jalan untuk mengambil seluruh apa” yang menjadi syari’at atau aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Mencontoh seluruh apa yang dikerjakan, tidak mengambil sebagian dan mencampakkan sebagian yang lain dengan dalih asa manfaat atau bahkan menjadi orang pertama yang menentang hukumnya karena alasan tidak sesuai dengan kondisi zaman. Na’udzubillah

WaAllahu’alam bi Ashowwab.

Penulis; Miratul Hasanah (Pemerhati masalah kebijakan publik)

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update