Oleh : Andira Permata Sari
Maraknya masalah yang terjadi saat ini hingga genosida Gaza melupakan akan saudara kita yang di rohingya masih Membutuhkan jaminan keamanan, kenyamanan dan harta mereka. Sungguh naas mereka tertindas sudah berpuluh-puluh tahun namun tidak ada yang mampu menyelesaikan masalah ini.
Batuan yang sampai sekarang di berikan hanya sebagai tumpangan hidup sementara, dengan memberikan lahan kosong untuk dihuni, namun nyawa mereka masih terancam. Baru-baru ini masyarakat rohingya terdampar lagi di deli serdang sumatra utara yang dulu pernah juga terdampar di aceh namun di tolak oleh masyarakat aceh yang menganggap rohingya tidak bersyukur telah diselematkan dan menjuluki mereka israel kedua, sungguh dzalim masyarakat aceh telah menfitnah saudara semuslimnya sama dengan israel.
Dilihat dari sejarahnya muslim Rohingya mulai mengalami diskriminasi. Undang-Undang Kewarganegaraan 1982 tidak mengakui keberadaan etnis tersebut. Warga Rohingya dianggap sebagai kaum ilegal di Myanmar. Mereka tidak berhak mendapatkan pelayanan apa pun, termasuk perlindungan dari Pemerintah Junta Militer Myanmar.
Sejak itu etnis Rohingya sudah beberapa kali mengalami operasi militer pemusnahan etnis atau genosida. Menurut catatan Médecins Sans Frontières, aksi keji ini dimulai dengan Operasi Raja Naga yang dilakukan oleh Myanmar pada 1977–1978. Operasi tersebut menyebabkan 200.000 warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh.
(muslimah new).
“Nasionalisme Telah Membelengu Kaum Muslim”
Menganggap genosida terhadap Rohingya adalah urusan mereka sendiri dan tidak ada kaitannya dengan kita, padahal kita sesama muslim itu ibaratkan satu tubuh yang apabila satu bagian sakit maka yang lain juga ikut merasakanya
Tinggal di negaranya tidak mungkin karena akan mengalami genosida, sedangkan meninggalkan Myanmar juga sangat berisiko. Mereka kerap ditolak ketika meminta pertolongan pada negara lain. Ketika ada negara yang mau menerima, sifatnya sekadar menampung sementara. Mereka tidak mendapatkan pendidikan, layanan kesehatan, dan hak asasi lainnya.
dunia masih terdiam melihat kejahatan Myanmar. Dukungan dunia terhadap tidak banyak memengaruhi nasib Rohingya yang masih berada dalam ketakpastian. Bahkan, sebagian negara menolak kehadiran pengungsi Rohingya di tanahnya.
Penampungan juga bukanlah solusi fundamental untuk Rohingya. Berbekal belas kasih dan kemanusiaan negara-negara ASEAN juga tidak akan cukup mampu menuntaskan persoalan Rohingya.
Banyaknya kaum muslim yang menjadi pengungsi adalah akibat tidak adanya junnah, yaitu perisai yang melindungi umat Islam. Junnah tersebut adalah Khilafah. Semenjak keruntuhan Khilafah seratus tahun silam, umat Islam tercerai-berai bagaikan anak ayam kehilangan induknya.
“Khilafah Solusi Tuntas atas Rohingya”
Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Ia tidak menzalimi dan tidak membiarkan saudaranya itu untuk disakiti. Siapa saja yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Siapa saja yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, Allah akan menghilangkan satu kesusahan bagi dirinya dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Siapa saja yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat,” (HR Bukhari).
Ada dua penyebab utama yang harus dituntaskan kaum muslim dalam persoalan pengungsi Rohingya dan yang lainnya. Pertama, menghapus sekat-sekat nasionalisme yang membelenggu kaum muslim untuk memberikan pertolongan kepada sesama muslim lainnya. Paham nasionalisme juga menjadi pemicu munculnya xenofobia, kebencian terhadap orang asing/bangsa lain. Akibatnya, muncul provokasi untuk mengusir kedatangan para pengungsi dari negara lain. Padahal nasionalisme adalah salah satu jenis ‘ashabiyah (fanatisme kelompok) yang telah diharamkan oleh Nabi saw.,
وَمَنْ قُتِلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِيَّةٍ يَغْضَبُ لِلْعَصَبِيَّةِ، وَيَنْصُرُ لِلْعَصَبِيَّةِ، وَيَدْعُوْ لِلْعَصَبِيَّةِ فَقِتْلَتُهُ جَاهِلِيَّةٌ
“Siapa saja yang terbunuh di bawah panji buta—ia marah karena ‘ashabiyah, menolong karena ‘ashabiyah dan menyerukan ‘ashabiyah—maka ia mati jahiliah.” (HR Baihaqi).
Kedua, menciptakan pelindung sejati bagi umat secara internasional. Sudah terbukti PBB dan berbagai badan yang ada di dalamnya gagal mencegah perang dan genosida serta menjamin rasa aman bagi kaum muslim. Badan dunia itu malah sering menjadi perpanjangan tangan negara-negara Barat untuk menancapkan dominasi mereka di berbagai dunia, termasuk di negeri Palestina.
Khilafah akan membebaskan wilayah Rakhine dari penjajahan Junta Militer Myanmar dan mengantarkan muslim Rohingya kembali ke rumah merek. Selanjutnya Rakhine akan menjadi wilayah Daulah Khilafah bersama wilayah muslim di sekitarnya, seperti Bangladesh, dan mendapatkan pengurusan dan perlindungan keamanan dari Khilafah.
No comments:
Post a Comment