Oleh : Nina Iryani S.Pd
Dilansir dari id.im.wikipedia.org, cinta adalah suatu emosi dari afeksi yang kuat dan ketertarikan pribadi. Cinta juga dapat diartikan sebagai suatu perasaan dalam diri seseorang akibat faktor pembentuknya, identik dengan ketertarikan yang yang dimulai saat masa pubertas. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang.
Artinya jika cinta pada Allah, berarti cinta pada kekasih-Nya (Rasulullah SAW).
Jika mengaku cinta tentu harus dibuktikan dengan langkah nyata.
Sejatinya, kini umat Islam terutama di Indonesia dan dunia sangat banyak, namun bukti cinta mereka pada Allah dan kekasih-Nya belum sepenuhnya dibuktikan dengan langkah nyata.
Bagaimana tidak, harusnya jika cinta Allah dan Rasulullah, melaksanakan segala yang diperintahkan Allah, menjauhi larangan Allah, juga mengikuti teladan Rasulullah SAW. Amar makruf nahi mungkar. Berlomba-lomba dalam kebaikan.
Kenyataannya kini, jumlah orang Islam banyak, namun hukum-hukumnya tidak diterapkan dengan sempurna. Korupsi semakin merebak ke mana-mana, kasus suap merajalela, kesaksian palsu atas suatu masalah hukum masih ada, kenakalan remaja, bully, bunuh diri, riba, khamr, narkoba dan beragam kejahatan lainnya yang terus mewarnai negara ini akibat diterapkan sistem sekuler yang hancur menghancurkan.
Allah SWT berfirman:
“Sungguh, Allah telah memberi kaum mukmin karunia ketika Dia mengutus seorang Rasul (Muhammad) ditengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri. Ia membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka serta mengajari mereka al-kitab (Al-Qur’an) dan hikmah (As-sunah) meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”
(TQS. Ali-Imran ayat 164).
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak beriman salah seorang diantara kalian hingga ia menjadikan aku lebih dia cintai daripada orangtuanya, anaknya dan segenap manusia.”
(H.R Al-Bukhari).
Allah SWT berfirman:
“Katakanlah ‘jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian dan keluarga kalian, juga harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya dan tempat tinggal yang kalian sukai, adalah yang lebih kalian cintai daripada Allah dan rasul-Nya serta dari jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai mendatangkan keputusan (azab-Nya). Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang fasik.”
(TQS. At-taubah ayat 24).
Demikian seharusnya wujud cinta pada Allah dan kekasih-Nya:
1. Taat perintah dan menjauhi larangan Allah.
2. Meneladani Rasulullah SAW.
3. Menjadi anshorulloh dari pribadi, keluarga, masyarakat diwujudkan dengan diterapkan hukum-hukum Islam
oleh amirul mukminin.
4. Tinggalkan segala yang Allah haramkan.
Mari wujudkan cinta Allah dan Rasulullah SAW dengan menerapkan Islam kaffah dan meninggalkan sistem sekuler yang meresahkan.
Terus berjuang hingga puput usia untuk terwujudnya kehidupan seperti masa Rasulullah SAW.
Wallahu’alam bissawab.
No comments:
Post a Comment