Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kapitalisme Menggeser Peran Ulama

Monday, September 23, 2024 | Monday, September 23, 2024 WIB

Oleh Ummu Fauzi
Pegiat Literasi

Menjelang pilkada Kabupaten Bandung 2024 Pimpinan Pondok Pesantren Sirojul Muhtadin, Ustadz Aa Ahmad menghimbau kepada masyarakat untuk menjaga kondusifitas. Pilkada yang kondusif, adem, damai dan tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Beliau menambahkan pilihan boleh berbeda tapi tetap mengedepankan kerukunan, perbedaan itu indah asal dilakukan dengan baik. Menyampaikan pendapat boleh asal dengan cara yang santun, demo-demo sah asal dilakukan dengan cara yang bijak tidak anarkis, harus bisa menjaga marwah negara Indonesia dengan melakukan hal-hal terpuji sebagai mana pendahulu kita yang soleh. (visi.news, 30/8/2024).

Sementara Pemerintah Kabupaten Bandung mengajak masyarakat untuk mewaspadai dan melawan penyebaran berita bohong atau hoaks, agar tidak terjadi konflik yang berpotensi memecah belah masyarakat. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Bandung, Yosep Nugraha mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh berita yang tidak jelas asal usulnya. Masyarakat harus lebih bijak dalam bermedia sosial, harus dicermati apakah informasi itu benar atau tidak, jangan langsung menyebarluaskan informasi yang kurang akurat, mengingat ada Undang-undang ITE yang bisa menjerat kita. (detikjabar, 5/9/2024)

Imbauan dari pimpinan ponpes sejalan dengan ajakan pemkab Bandung kepada masyarakat untuk melawan hoak dan menjaga persatuan dan kesatuan jelang pilkada. Karena perhelatan atau pesta demokrasi yang diadakan 5 tahun sekali ini selain menelan biaya yang besar juga rentan dengan masalah dan persaingan. Banyaknya calon yang bertarung membuat pendukungnya akan melakukan berbagai cara agar jagoannya bisa lolos dalam pilkada. Mulai dari bagi-bagi sembako, bagi amplop dan penyelenggaraan hiburan dengan menampilkan artis untuk menarik masa dalam rangka kampanye. Untuk menarik simpati para ulama mereka pun berkunjung ke pondok-pondok pesantrennya.

Peran ulama dalam masyarakat sangatlah penting, keberadaannya tidak bisa diabaikan. Ulama adalah pewaris nabi kedudukan mereka bagi umat adalah ibarat lentera penerang kegelapan dan obat bagi kebodohan. Maka ketika ulama melakukan hal kebaikan dan keburukan, umat akan mengikutinya. Ketika ulama melakukan keburukan maka akan tersebarlah keburukan itu. Dan ketika kebaikan yang dilakukan, maka akan tersebar pula kebaikan hingga keberkahan akan meliputinya.

Dalam sistem demokrasi kapitalis sekarang ini, kezaliman serta kemaksiatan begitu nampak nyata di depan mata tanpa ada yang bisa mencegahnya. Di sinilah peran ulama sangat dibutuhkan. Mereka harusnya berada digarda terdepan dalam melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Sayangnya, ada sebagian ulama yang mengambil jalan berseberangan, mereka rela menjadi corong kebatilan untuk menjauhkan umat dari agamanya. Bahkan tidak sedikit yang rela jadi stempel bagi penguasa. Mereka berani memfatwakan yang halal jadi haram atau yang haram jadi halal dengan dalih kemaslahatan dan mudharat. Merekalah ulama jahat yang selalu ada dalam setiap zaman. Loyalitas mereka hanya pada kepentingan dunia bukan kebenaran.

Sistem demokrasi kapitalis menggeser peran ulama, tidak sedikit ulama yang hanya dijadikan juru imbau atau pemadam kebakaran amarah rakyat. Padahal seharusnya ulama menjadi kelompok terdepan dalam mengoreksi penguasa bukannya malah membenarkan apa menjadi kebijakan mereka yang tidak berpihak kepada rakyat apalagi kepada agama. Mereka serang ulama-ulama yang lurus dan ikhlas dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka jual aya-ayat Allah dengan harga murah demi harta dan kedudukan.

Mengenai model ulama su’ (buruk) ini Allah befirman: “Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?” (QS. Asy-Su’ara {26}:197)
Dalam Al-Qur’an ada beberapa ciri yang menunjukan bahwa ulama Bani Israil pada galibnya adalah ulama su’ (buruk), yang tidak patut diteladani. Ulama sepeeti ini mencapuradukan antara yang haq dan yang batil, suka menyalahi janji, tidak takut kepada Allah dan masih banyak ciri-ciri yang lain yang ada dalam Al-Qur’an.

Ulama su’ atau jahat lahir dari sistem kapitalis yang berasal dari peradaban barat yang membenci Islam. Keberadaannya bagaikan srigala berbulu domba, bukan untuk menjaga umat tetapi untuk membinasakan. Mereka ada untuk memecah belah umat dan menghancurkan Islam. Mereka berada dalam linkaran kekuasaan yang zalim. Merekalah pendukung Islam moderat yang di aruskan musuh-musuh Islam untuk menjauhkan umat dari ajarannya. Tetapi juga ulama yang lurus dan ikhlas yang selalu mengkritik penguasa zalim. Mereka yang jauh dari lingkaran kekuasaan, mereka yang selalu berjuang demi tegaknya syariat Islam.

Berbeda sekali dengan peran ulama ketika Islam diterapkan. Ulama adalah pewaris para nabi yang menjadikan Islam urusan hidup dan mati. Para ulama adalah rujukan para penguasa dalam mengelola negara. Para penguasa sangat memeperhatikan dan memuliakannya. Para pemimpin negara sering duduk berlama-lama dengan para ulama untuk mendengarkan nasehat, mengambil ilmu dari mereka dan bermusyawarah dalam berbagai urusan negara. Para ulama dalam daulah Islam memiliki pemahaman yang dalam tentang ruh syariat dan kaidah-kaidahnya. Mereka bahkan tidak takut berhadapan dengan penjara ketika berbeda dengan penguasa.

Al-Qur’an dan As-Sunnah dua sumber utama yang menjadi pegangan para ulama. Al-Quran adalah sumber pertama yang yang mencakup seluruh hukum-hukum syariat yang berhubungan dengan kehidupan manusia. Al-Qur’an telah menjelaskan segala hal yang dibutuhkan manusia termasuk dalam pengelolaan negara. Dalam As-sunah para ulama mengetahui bentuk-bentuk penerapan hukum-hukum Islam yang tercermin dari kepemimpinan Rasulullah saw. di Madinah. Dalam daulah Islam, para ulama mempunyai kemampuan yang besar dalam mengajak umat di bawah bendera jihad di jalan Allah. Para ulama ini tidak memberikan toleransi kepada para penguasa untuk melanggar hukum-hukum Allah.

Sungguh kita merindukan ulama sejati, ulama yang menjadi pewaris para nabi. Ulama yang visi hidupnya hanya kebahagiaan dan keselamatan akherat. Ulama yang fokus mencari ridho Ilahi tanpa di bebani dengan balas budi,. Ulama yang menjadi penjaga risalah yang selalu berada di garda terdepan dalam penegakan syariah Allah di bumi ini. Mereka siap berkorban nyawa demi mempertahankan kebenaran.

Banyaknya nya ilmu membuat ulama su’ sombong dan rela dijadikan penguasa zalim sebagai legitimasi kebijakan. Mereka tidak takut mengotak-ngatik Al-Qur’an demi cuan. Terhadap ulama seperti ini kita diminta untuk menjauhinya. Rasulullah saw bersabda:
“kebinasaan bagi umatku (datang) dari ulama su’u, mereka menjadikan ilmu sebagai barang dagangan yang mereka jual kepada para penguasa, masa mereka untuk mendapatkan keuntungan untuk mereka sendiri. Allah tidak akan memberikan keuntungan dalam perniagaan mereka itu”. (HR. Al-Hakim)

Wallahu ‘alam bisshawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update