Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sistem Kapitalis Gagal Menjaga Kesehatan Generasi

Tuesday, August 13, 2024 | Tuesday, August 13, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:39:56Z

Oleh Ummu Atika

Aktivis Muslimah

 

Baru-baru ini masyarakat dihebohkan dengan fenomena banyaknya anak cuci darah atau Hemodialisis di RSCM Jakarta. Tindakan Hemodialisis dilakukan pada penderita gagal ginjal. Menanggapi hal itu, ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dokter Piprim Basarah Yanuarso memastikan bahwa saat ini tidak ada lonjakan kasus gagal ginjal pada anak (CNN Indonesia, 26 juli 2024).

Anak-anak yang sedang menjalani terapi cuci darah di RSCM ada 60 orang dengan usia rata-rata 12 tahun. Pasien terapi cuci darah di RSCM banyak karena RSCM merupakan rumah sakit rujukan nasional. Pasiennya tidak hanya dari Jakarta, tapi dari luar Jakarta bahkan dari luar Pulau Jawa.

Ginjal adalah organ tubuh penting karena berperan menyaring darah dan membuang kelebihan air serta limbah dari tubuh. Kondisi dimana ginjal kehilangan kemampuannya untuk menyaring air dan limbah dari darah disebut gagal ginjal. Pasien dikategorikan gagal ginjal bila fungsi ginjal berdasarkan pemeriksaan laboratorium kurang dari 15 %.

Penyebab gagal ginjal antara lain adanya kelainan bawaan pada ginjal atau saluran kemih sejak lahir, atau adanya sindrom nefrotik yang memicu terjadinya gangguan ginjal. Namun Dokter Spesialis Anak RSCM, dr. Eka Laksmi Hidayati, SpA(K) menuturkan bahwa pola hidup atau kebiasaan tidak sehat mendominasi sebagai faktor penyebab gagal ginjal pada anak.

Kebiasaan tidak sehat yang menyebabkan gangguan pada ginjal antara lain:
1) Terlalu sering mengkonsumsi makanan olahan,
2) Kurang minum air putih dan banyak minum minuman manis, berwarna atau bersoda,
3) Duduk terlalu lama
4) Kurang istirahat/tidur
5) Mengkonsumsi obat atau suplemen berlebihan
6) mengkonsumsi gula atau garam berlebihan
7) merokok
8) mengkonsumsi alkohol.

Kebiasaan-kebiasaan di atas banyak dilakukan saat ini. Gaya hidup instan, serba cepat menjadi kebiasaan di masyarakat. Makanan cepat saji, dan minuman dalam kemasan lebih sering jadi pilihan daripada makanan hasil olahan rumah dengan alasan lebih praktis. Anak-anak jadi kurang suka makan sayuran. Padahal makanan cepat saji atau kemasan banyak mengandung bahan pengawet, gula dan garam.

Faktor pencetus terjadinya gagal ginjal yang lain adalah faktor kemiskinan dan kurangnya pengetahuan tentang makanan sehat. Dalam kondisi miskin, orang cenderung makan makanan yang asal mengenyangkan tidak peduli makanan itu merusak kesehatan tubuhnya karena banyak mengandung minyak dan tepung. Padahal kalau sudah turun fungsi organ tubuh, pengobatannya lebih mahal dari makanan itu.

Dilain pihak, trend makanan dan minuman manca negara menyerbu pasar Indonesia. Makanan Korea, Jepang yang terbuat dari tepung dengan rasa pedas, minuman manis dengan toping boba, teh manis dengan gula sakarin, minuman kemasan aneka warna dan rasa menjadi pilihan anak-anak dan remaja. Situasi trend ini dibidik para pengusaha sebagai ladang bisnis yang menguntungkan.

Seperti itulah bila kita berada di negara yang menerapkan sistem kapitalis sekuler. Konsumen menganut liberalisme dalam memilih makanan, yang penting suka dan punya uang. Produsen menganut kapitalisme dalam memproduksi makanan dan minuman. Selama menghasilkan keuntungan, dibuat sebanyak mungkin. Tidak peduli efek bagi kesehatan orang lain.

Negara dengan sistem kapitalis kurang berperan dalam penjagaan kesehatan masyarakat, karena berperan sebagai regulator, pembuat peraturan yang justru menguntungkan para pengusaha. Pemerintah hanya fokus pada pajak dan pendapatan untuk kas negara. Kesejahteraan hanya dilihat dari seberapa besar rakyat membelanjakan uangnya. Hanya materi yang jadi tujuan.

Penerapan sistem kapitalis dalam pengelolaan pangan khususnya makanan untuk anak-anak akan gagal menjaga kesehatan generasi. Bagaimana bisa jadi generasi emas bila sejak anak-anak sudah terkena diabetes, obesitas dan gagal ginjal.

Berlainan dengan sistem Islam dalam negara khilafah. Khalifah (Kepala negara) berperan sebagai raa’in atau pengurus kebutuhan rakyatnya dan sebagai junnah atau penjaga rakyatnya. Kemaslahatan dan kesejahteraan rakyat adalah tujuan utama.

Allah SWT memerintahkan agar manusia makan makanan yang halal dan tayib, sebagaimana tercantum dalam Qs Al Maidah: 88, yang artinya: ” Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya”.

Makan makanan dan minum adalah fitrah manusia yang harus dipenuhi. Jika tidak, akan menyebabkan kemudharatan bahkan kematian. Namun makanan yang dikonsumsi harus yang halal dan tayib (baik). Halal artinya yang Allah ijinkan untuk dikonsumsi dilihat dari zatnya, cara memperolehnya dan cara memproduksinya. Tayib artinya suci, tidak najis dan mendatangkan kebaikan bagi kesehatan.

Negara Khilafah sebagai raa’in dan junnah akan mengurus serta menyediakan kebutuhan makanan dan minuman yang halal dan tayib bagi rakyatnya.
Upaya yang dilakukan negara Khilafah antara lain:
1. Mewujudkan kesejahteraan rakyat dengan kemudahan dalam memperoleh pangan yang aman, murah dan sehat.
2. Mewajibkan industri agar hanya membuat makanan dan minuman halal dan tayib saja. Pengolahan harus bebas dari bahan-bahan yang membahayakan tubuh.
3. Memberikan edukasi secara menyeluruh melalui lembaga pendidikan dan kesehatan tentang makanan dan minuman yang halal dan tayib.
4. Melayani pemeriksaan dan pemulihan kesehatan secara gratis kepada seluruh rakyat.
5. Menindak secara tegas pada para pelaku kecurangan dalam penyediaan makanan dan minuman.

Demikianlah hanya dalam negara yang menerapkan sistem Islam kesehatan anak-anak dapat terjaga sehingga mereka dapat tumbuh menjadi generasi penerus yang membanggakan.

Wallahualam bissawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update