Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ilusi Harganas Wujudkan Keluarga Berkualitas Menuju Indonesia Emas

Thursday, July 11, 2024 | Thursday, July 11, 2024 WIB

Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty

(Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

 

Hari Keluarga Nasional (Harganas) diperingati setiap tanggal 29 Juni, dan pada tahun 2024, peringatan ini memasuki tahun ke-31. Harganas merupakan momen penting untuk mengingatkan kita akan peran keluarga dalam menciptakan generasi emas. (liputan6.com, 29-06-2024).

Selaras dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy dikutip dari laman resmi Kemenko PMK (30-6-2024) mengatakan, keluarga merupakan penentu dan kunci dari kemajuan suatu negara. Maka dari itu, pemerintah saat ini tengah bekerja keras untuk menyiapkan keluarga Indonesia yang berkualitas dan memiliki daya saing. Hal tersebut dikatakannya saat menyampaikan pidato mewakili Presiden RI Joko Widodo pada puncak Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-31 Tahun 2024 dengan tema “Keluarga Berkualitas Menuju Indonesia Emas”, yang diselenggarakan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di Lapangan Simpang Lima Semarang, pada Sabtu (29-06-2024).

Dalam penjelasannya, Menko Muhajir menyampaikan bahwa pembentukan keluarga berkualitas dimulai sejak prenatal (masa sebelum kehamilan), masa kehamilan, dan masa 1.000 hari pertama kehidupan manusia. Terkait ini intervensi utama adalah pada perempuan juga pada keluarga.

Siap Nikah Goes to Kampus, Seminar Pemberdayaan Masyarakat di Kampung Keluarga Berkualitas, Gerakan Kembali ke Meja Makan (sarapan bergizi keluarga), dan Kampanye Satu Jam Tanpa Gawai, digelar dalam pesta Harganas ini.

*Intervensi Berselimut Seremoni Sulit Wujudkan Generasi Mumpuni*

Dari penjelasan Menko PMK , intervensi pada perempuan diawali dari remaja putri, yakni dengan pemberian tablet tambah darah untuk memastikan mereka betul-betul sehat dan kelak setelah menikah siap hamil, bimbingan perkawinan bagi calon pengantin, pengecekan kesehatan sebelum menikah, pengecekan HB darah, cek lingkar lengan, serta memberikan intervensi gizi untuk ibu dan bayi, sampai 1.000 hari pertama kehidupan.

Untuk intervensi pada keluarga dalam rangka wujudkan keluarga berkualitas dihadirkan dengan menyiapkan fasilitas pemantauan kesehatan dan gizi ibu dan bayi yang terstandar di Posyandu dan Puskesmas mulai dari alat timbang terstandar, alat ukur antropometri, dan juga penyuluhan gizi dengan kader-kader yang terlatih. Ditekankan pula pada BKKBN agar terus mengawal keluarga Indonesia terkait upaya pemerintah dalam rangka percepatan penurunan stunting sesuai target Presiden Jokowi. Harapannya 2024 ini angka stunting bisa di bawah 20% sebagaimana ketentuan SDGs.

Dua intervensi ini seakan menjadi jalur mulus untuk wujudkan keluarga berkualitas. Padahal permasalahan keluarga di Indonesia tidaklah simple. Berbagai kasus dan krisis generasi yang bersumber dari keluarga sekadar fenomena gunung es. Kasus yang lebih tragis dan tidak terungkap mungkin jauh lebih marak.

Berbagai ketimpangan terjadi. Saat perempuan terpaksa atau tidak, bekerja (hukum bekerja bagi perempuan adalah mubah (boleh)), bahkan posisinya menjadi tulang punggung, peran domestiknya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga menjadi tidak ideal. Tanggung jawab mendidik dan menanamkan akidah kepada anak-anaknya terpangkas. Alih-alih bisa wujudkan generasi hebat, yang terjadi generasi kurang rawat. Sehingga intervensi terkait perempuan seperti yang dijelaskan Menko PMK sangat sulit direlasikan dengan terwujudnya generasi hebat.

Bagaimana pun juga remaja putri sebagai calon ibu, seharusnya paham cara menjadi istri dan ibu sebagai bagian visi keimanan dan ketakwaan agar mampu wujudkan lahirnya generasi mumpuni. Jika intervensi yang ada hanya bersifat seremoni yang jauh dari penanaman visi mulia sebagai seorang istri dan juga ibu. Dengan kondisi tersebut banyak kesulitan yang akan dihadapi sehingga bisa berdampak pada rendahnya mental health pada dirinya. Berbagai kasus ibu muda yang menganiaya, melecehkan, bahkan menghilangkan nyawa anaknya sendiri, ditambah lagi fenomena mom shaming, di mana tingkat stres ibu meningkat karena berbagai komentar negatif akan dirinya ataupun caranya mengasuh anak yang mayoritas datangnya dari anggota keluarganya sendiri, kian ramai terjadi.

*Sekulerisme dan Hancurnya Keluarga Ideal*

Sejatinya keluarga adalah tempat pertama bagi anak-anak maupun tiap anggota keluarga untuk mengenal Rabbnya. Namun nyatanya sistem di negeri ini tak merelakan Allah didekatkan dengan makhluk-Nya.

Sekulerisme sebagai asas yang melekat dalam sistem demokrasi negeri ini telah menyebabkan sakitnya pemikiran di tengah keluarga. Walhasil sekalipun Indonesia berpenduduk mayoritas muslim, negaranya enggan menggunakan Islam sebagai satu-satunya solusi tuntas atas permasalahan kehidupan. Inilah akar masalah sesungguhnya mengapa berbagai krisis keluarga yang terjadi.

Sekularisme yang ditopang oleh negara bersistem demokrasi-kapitalisme dalam mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara, telah mencerabut format keluarga ideal dengan menyesatkan dan membuat sakit pemikiran setiap keluarga muslim di negeri yang mayoritas muslim ini. Kapitalisme yang menjunjung tinggi kebebasan, merenggut visi mulia keluarga sebagai fondasi dasar sebuah negara.

Berbagai kebijakan yang berasaskan demokrasi kapitalis telah banyak mengeliminir fungsi kepemimpinan seorang ayah, melepas bebas perempuan dari ikatan aturan Islam, juga menghancurkan makna dan realisasi birrul walidain. Kesemuanya sungguh telah menghancurleburkan tatanan keluarga. Akhirnya keluarga ideal hanya sebatas angan.

*Islam Wujudkan Keluarga Ideal Bukan Hanya Seremonial*

Allah Ta’ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim : 6).

Ayat ini, menyertai umat Islam agar selalu berada pada koridor aturan-Nya. Sehingga penjagaan keluarga akan senantiasa ada.

Haruskah penjagaan itu ada? Tentu. Harus ada karena keluarga merupakan institusi terkecil dalam masyarakat. Generasi pun ada diawali dengan adanya keluarga. Jika keluarga yang dibangun sampai pada sakinah mawadah dan rahmah sesuai aturan Allah Ta’ala maka bangunan keluarga ideal yang mampu menghasilkan generasi unggul, kuat, tangguh bahkan mampu membangun peradaban mulia tentu terwujud.

Sungguh saat hampir 14 abad tegaknya sistem Islam di muka bumi, sosok-sosok agung , seperti Abdullah bin Abbas ra., Abdullah bin Umar ra., Abdullah bin Amru ra., Abdullah bin Zubair ra., Imam Syafi’i, hingga generasi Shalahuddin al-Ayyubi dan Muhammad al-Fatih, terlahir di dalamnya.
Perwujudan ketangguhan generasi tersebut adalah karena adanya realisasi perintah Allah Ta’ala dalam ayat di atas terkait sistem kehidupannya. Khilafah selaku negara yang menerapkan aturan Allah secara kafah terwujud secara paripurna pada masa itu.

Dalam sistem Islam, khilafah mewujudkan individu-individu yang bertakwa dan senantiasa terikat dengan hukum syarak. Insannya tumbuh menjadi orang-orang yang siap membangun keluarga dan peradaban. Tak ketinggalan Khilafah pun menjamin penuh keberlangsungan kontrol sosial masyarakat yang siap menjadi inkubator dakwah Islam. Peran penuh negara untuk menopang ketahanan keluarga sangat dominan keberadaannya.

Dalam sistem Islam keluarga ideal diwujudkan dengan beberapa faktor pendukung yang direalisasikan bukan diseremonialkan dalam panggung sandiwara. Faktor pendidikan, ekonomi, sosial-budaya, dan sanksi diperhatikan agar dapat menyokong ketahanan keluarga.

Dalam sistem Islam, pendidikan yang menghasilkan generasi berkepribadian Islam yang siap mengemban dakwah, diwujudkan baik dalam keluarga secara informal, juga dalam pendidikan formal dan nonformal di masyarakat. Kebobrokan demokrasi yang landasannya sekularisme dan pilarnya kebebasan, sehingga kering dari amar makruf nahi mungkar, dihasilkan karena mandulnya sistem pendidikan. HAM dan budaya serba boleh menjadi ide yang mendominasi pemikiran umat.

Jika dalam demokrasi relasi ekonomi antara penguasa dan rakyat tidak ubahnya majikan dengan pekerja, juga bagaikan penjual dan pembeli yang terjadi akibat sistem yang liberal. Tidak demikian dalam Islam. Dalam sistem Islam konsep pengelolaan ekonomi adalah mengurus dan menjamin distribusi harta merata secara individu per individu, sehingga tidak ada jenjang yang panjang antara rakyat dan penguasa, antara si miskin dan si kaya.

Dalam sosial-budaya pun Islam mengaturnya dengan baik. Jika individu dalam demokrasi manusia adalah obyek eksploitasi oleh sistem yang menghamba pada modal, dalam Islam, pemberdayaan individu berpijak pada posisi seorang hamba di hadapan hukum syarak, tanpa mengabaikan dakwah sebagai poros hidupnya. Manusia dimanusiakan di dalamnya.

Demikian pula dalam hal sistem sanksi. Sistem buatan manusia dalam demokrasi tidak pernah bersifat mencegah dan menjerakan serta tidak ada aspek transendental (ukhrawi) sehingga mudah sekali dikompromisasi, bahkan bisa diperjualbelikan. Sedangkan dalam sistem Islam, sanksi ditegakkan menurut syariat sehingga otomatis mampu mencegah dan menjerakan.

Sebagai makhluk ciptaan Allah, sudah selayaknya kita meyakini bahwa hanya aturan Allah saja yang tepat untuk mengatur hidup kita. Dengan Khilafah, aspek fungsi negara sebagai pengayom dan penyelenggara aturan kehidupan akan terwujud. Hal ini karena dalam Khilafah, pemerintah adalah pihak pelaksana syariat Allah.

Jika Harganas dalam sistem demokrasi saat ini hanyalah ilusi yang dihadirkan secara seremoni untuk wujudkan generasi emas, maka solusi tuntas memang hanya dengan mengganti sistem demokrasi kapitalisme menjadi sistem Islam. Pelaksanaan syariat Islam memiliki keterkaitan dan keterpaduan untuk selesaikan masalah terkait urusan hidup manusia. Jika penyelesaian hanya sebatas seremoni saja, harapan dan cita-cita tinggi untuk wujudkan Indonesia emas hanya isapan jempol belaka.

Wallaahu a’laam bisshawaab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update