Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bahaya Konsumtif Makin Menjauhkan Umat dari Identitas Asal

Friday, July 19, 2024 | Friday, July 19, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:41:58Z

 

Oleh Nazwa

Pelajar

Sepertiga dari makanan yang diproduksi untuk makanan manusia di dunia dibuang sebagai sampah atau sekitar 1,3 milyar ton per tahun. Sedangkan 795 juta manusia di dunia kelaparan. Saat ini di seluruh dunia ada sekitar 21.000 orang meninggal setiap hari karena kelaparan (UNICEF 2011) dan banyak manusia yang setiap malam tidur dengan kondisi lapar.

Banyaknya sisa makanan yang berkahir dibuang, juga sisa makanan yang diakibatkan dari penyajian yang berlebihan dari jumlah masyarakat disebut juga left over, dan sisa makanan akibat kesalahan perencanaan baik yang masih layak dikonsumsi atau sudah tidak layak termasuk makanan kadaluarsa, kesalahan produk dan produk gagal, semua itu masuk dalam  food waste.

Hal ini sedang menjadi problem di dunia yang menimbulkan masalah lain yang saling berkaitan. Food waste sendiri berkaitan dengan komsumerisme atau budaya konsumtif yang lahir dari pemikiran kapitalisme sekulerisme yang membuat masyarakat menjadikan materi sebagai tolok ukur kebahagiaan.

Kapitalis sekulerisme ini makin memalingkan umat Islam dari identitas aslinya. Dengan kata lain sudah tidak memikirkan baik buruk yang mereka ambil sesuai syariah Islam dan membuat umat makin jauh dari kata Iman. Bisa kita lihat sendiri bahwa maraknya food waste merupakan cerminan dari kegagalan negara dalam mengatur sistem ekonomi, di mana kesenjangan ekonomi semakin terlihat antara si kaya dan si miskin.

Padahal dalam Islam, semua sudah diatur secara terperinci termasuk urusan masyarakat yang seharusnya sudah menjadi tanggung jawab negara. Negara seharusnya mengatur dengan baik keuangan dalam negeri juga sumber daya alam sehingga tidak akan terjadinya kesenjangan ekonomi. Dengan kata lain tidak akan membiarkan sumber daya dihak milik oleh swasta apalagi Asing dan Aseng.

Terkait food waste, Islam sendiri sudah mengajarkan dalam syariatnya bahwa tidak boleh melakukan sesuatu yang berlebihan atau biasa disebut mubazir.

Hal di atas menunjukan bahwa umat sudah saatnya mempunyai khalifah. Yakni  pemimpin yang bisa memimpin umat dengan baik dan menggunakan syariat Islam yang sesuai ajaran Nabi. Agar umat kembali sadar bahwa identitas aslinya adalah seorang hamba. Senantiasa patuh dengan perintah dan larangan yang telah Allah tetapkan.

Wallahu’alam bissawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update