Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Perempuan Korban PMI Ilegal

Wednesday, June 19, 2024 | Wednesday, June 19, 2024 WIB

By : Nur Inayah

Sungguh sangat memprihatinkan sekali, pasalnya dua warga Cileunyi, Kabupaten Bandung terkatung-katung di negeri orang setelah menjadi korban penipuan penyalur Pekerja Migran Indonesia (PMI) ilegal. Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan Cileunyi, Yudistira, mengatakan bahwa dua warga Cileunyi tersebut bernama Lilis Ule dan Rosita warga Desa Cileunyi Wetan. “Keduanya saat ini terkatung-katung di Dubai dan Irak,” ucap Yudistira ketika dihubungi, Selasa 4 Juni 2024.

Menurut Yudistira, kedua orang tersebut pada mulanya ditawari oleh seseorang yang mengaku dari perusahaan penyalur PMI. Baik Lilis maupun Rosita mendaftar sebagai ART dengan penempatan masing- masing di Abu Dhabi. Kedua PMI tersebut menginginkan pulang ke kampung, namun terbentur masalah administrasi dan ongkos untuk bisa kembali ke tanah air.

Fakta tersebut hanya segelintir permasalahan yang sudah sangat sering terjadi menimpa para pekerja migran ini, mulai dari gaji yang tidak dibayar, PMI gagal berangkat, pekerjaaan tidak sesuai perjanjian kerja, tindak kekerasan dari majikan, depresi , dan masih banyak lagi hal memprihatinkan yang sering menimpa para pekerja migran ini. Dan yang membuat lebih memprihatinkannya lagi adalah bahwa di antara mereka banyaknya dari kalangan wanita yang pergi meninggalkan negeri untuk menjadi pekerja migran dengan membawa harapan dapat meraih kehidupan yang lebih baik.

Dilihat dari banyaknya masalah yang sering menimpa pekerja migran ini, tidak membuat peminat untuk bekerja di luar negeri ini mengurungkan niat untuk bekerja atau pun berkurang jumlah peminat setiap tahunnya, malahan semakin meningkat. Sulitnya mendapatkan pekerjaan dan minimnya lapangan kerja di negeri sendiri, menuntut para pencari kerja ini untuk bekerja di luar negeri guna memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya, inilah salah satu akibat yang ditimbulkan saat negara menerapkan sistem kapitalis-sekuler. Kurangnya lapangan pekerjaan bagi rakyat, menunjukkan kurang adanya peranan negara secara serius untuk meriayah rakyatnya, rakyat terpaksa harus bersusah payah agar bisa memenuhi kebutuhannya. Mirisnya saat seharusnya seorang laki-laki yang menjadi tulang punggung keluarga, namun saat ini begitu sulitnya laki-laki untuk mendapatkan pekerjaan, sementara lapangan pekerjaan begitu lebar untuk para wanita. Akhirnya tidak sedikit para wanita, bahkan ibu rumah tangga rela meninggalkan buah hatinya agar bisa bekerja demi memenuhi kebutuhan yang semakin hari semakin mencekik, termasuk menjadi pekerja migran ke luar negeri.

Tentunya bukan semata-mata keinginannya , tetapi kenyataan hidup yang menuntut mereka untuk menanggung beban hidup oleh rakyat sendiri. Padahal pekerja migran ini sering dikatakan sebagai pahlawan devisa, tetapi tidak ada jaminan keamanan dari negara bagi mereka, saat bekerja di negeri orang.

Penerapan sistem ekonomi kapitalis ini, membuat negara memberikan kebebasan bagi para kapitalis yakni pemilik modal, untuk mengelola sumber daya alam (SDA), sehingga menyulitkan para pekerja lokal untuk bekerja di sana, dengan aturan dan syarat yang ditentukan. Yang tentunya aturan dan kebijakan yang digunakan dipastikan tidak akan berpihak kepada rakyat, melainkan keuntungan yang hanya bisa diperoleh oleh para kapitalis (lokal, asing atau sseng) tersebut. Apalagi dengan UU Omni buslaw Cipta Tenaga Kerja, yang poin-poinnya banyak merugikan pekerja.

Berbeda halnya apabila Islam yang digunakan untuk mengatur rakyatnya, tentunya negara akan memastikan pengurusan rakyatnya, dalam segala macam aspek kehidupan ,mulai segi pendidikan, kesehatan, ekonomi dan tentunya memastikan menyediakan lapangan kerja , bahkan memberikan modal untuk para laki-laki atau kepala keluarga agar bisa bekerja, tanpa harus membuat rakyatnya untuk bersusah payah menjadi pekerja migran agar bisa memenuhi kebutuhannya, terlebih seorang wanita atau ibu yang seharusnya menjadi Al-Ummu Madrasah Al-Ula(ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya) yang tentunya peranan seorang wanita apalagi ibu akan sangat diperhatikan pemerintah guna mencentak generasi peradaban emas, dan seorang wanita begitu di mualiakan dalam islam. Hal ini hanya bisa dirasakan dan diraih ketika syariat Islam bisa diterapkan secara kaffah.

WaILahu a’Lam bish shawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update