Oleh : Halida Almanuaz
(Aktivis Dakwah Muslimah DeliSerdang)
Dilansir dari kompas – Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa hampir 10 juta penduduk Indonesia generasi Z berusia 15-24 tahun menganggur atau tanpa kegiatan (not in employment, education, and training/NEET). Bila dirinci lebih lanjut, anak muda yang paling banyak masuk dalam kategori NEET justru ada di daerah perkotaan yakni sebanyak 5,2 juta orang dan 4,6 juta di pedesaan. Fenomena maraknya pengangguran di kalangan Gen Z menjadi ancaman serius bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045.
Gen Z adalah mereka yang lahir pada 1997 hingga 2012. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah mengungkapkan banyak dari pengangguran berusia muda tersebut tercatat baru lulus SMA sederat dan perguruan tinggi. Mereka yang pengangguran itu kebanyakan adalah generasi Z ya. Mereka yang rentang usianya 18-24 tahun, yang selesai lulus SMA, SMK atau mereka lulus perguruan tinggi,” beber Ida dikutip dari Kompas TV, Jumat (24/5/2024). “Dan rata-rata mereka adalah posisinya kalau 18 tahun biasanya posisinya adalah mencari pekerjaan atau meneruskan kuliah,” kata Ida lagi.
Penyebab banyak Gen Z menganggur Menurut analisa Ida, faktor utamanya banyaknya angka pengangguran pada penduduk muda berusia 15-24 tahun ini adalah karena kurang singkronnya pendidikan dan permintaan tenaga kerja. “Ini tentu menjadi tantangan bagi kita semua karena ternyata kalau kita dalami data kita lulusan SMA/SMK, terutama SMK itu menyumbangkan pengangguran kita. Kenapa terjadi begini? Karena di antaranya adalah tidak terjadi link and match,” ujar politikus PKB.
Faktor lain yang menyebabkan tingginya angka pengangguran di Gen Z adalah turunnya lapangan pekerjaan di sektor formal. Hasil olahan Tim Jurnalisme Data Harian Kompas terhadap data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) bulan Februari tahun 2009, 2014, 2019, dan 2024 menunjukkan adanya tren penurunan penciptaan lapangan kerja di sektor formal.
Pekerja sektor formal yang dimaksud adalah mereka memiliki perjanjian kerja dengan perusahaan berbadan hukum. Selama periode 2009-2014, lapangan kerja yang tercipta di sektor formal menyerap sebanyak 15,6 juta orang. Jumlah ini menurun menjadi 8,5 juta orang pada periode 2014-2019, dan kembali merosot pada periode 2019-2024 menjadi 2 juta orang saja. “Hal ini menunjukkan bahwa peluang masuk pasar kerja formal di Indonesia kian sulit, termasuk oleh lulusan baru (fresh graduate),” demikian dikutip dari Kompas.id.
Sungguh menyedihkan, mayoritas penganggur di Indonesia ternyata adalah generasi muda. Mirisnya, mayoritas penganggur tersebut adalah penduduk usia 15—24 tahun atau biasa disebut generasi Z (Gen-Z). Dengan jumlah penganggur tersebut, tingkat pengangguran terbuka (TPT) per Agustus 2023 adalah sebesar 5,32%.
Berbahaya bagi Perekonomian
Tingginya jumlah pemuda yang menganggur merupakan hal yang berbahaya bagi perekonomian, bahkan bisa menjadi bom waktu secara demografi pada masa depan. Seharusnya para pemuda tersebut merupakan orang yang produktif sehingga bisa menanggung kalangan tua yang sudah tidak lagi produktif. Namun nyatanya, justru para pemuda banyak yang menganggur menjadi beban bagi perekonomian keluarga.
Tidak pelak, rakyat pun makin terpojok dan tercekik oleh kian mahalnya biaya hidup. Keamanan finansial dan pekerjaan terancam krisis akibat keserakahan, kapitalisme hanya mampu memberikan solusi tambal sulam, bukan solusi tuntas.
Islam mengatur sistem ketenagakerjaan. Bekerja merupakan salah satu aktivitas yang menjadi sebab kepemilikan harta bagi seseorang. Dan dalam Islam, terdapat konsep kontrak kerja yang melarang majikan membebani para pekerja melebihi kapasitasnya.
Ijarah dapat terjadi di antara dua pihak dalam suatu akad tertentu. Segala sesuatu yang disepakati dalam ijarah ini harus jelas, termasuk jenis pekerjaan dan nominal gaji yang diperoleh sehingga dapat meminimalkan rasa tidak ridho atau kezaliman.
Islam mengatur dalam pemberian harta oleh negara kepada rakyat, baik harta maupun tanah. Orang-orang kaya di dalam Islam diseru untuk ringan berbagi kepada sesamanya dalam bentuk zakat, sedekah, dan wakaf. Islam mewujudkan keberlangsungan sistem kehidupan yang bersifat mengurusi urusan umat. Jadi, andai benar gaji yang diperoleh seorang pekerja itu rendah, dirinya tidak akan khawatir dengan biaya hidup.
Karena semua biaya kebutuhan apapun ditanggung oleh negara, seperti dalam pendidikan, kesehatan, perumahan, administrasi, kebutuhan transportasi dan energi dan lainnya sehingga rakyat tidak akan stres memikirkan kehidupannya sehari-hari. Negara akan membuka lapangan pekerjaan selebar-lebarnya, sehingga tidak ada warga atau rakyat mengganggur.
Maka keamanan finansial, pekerjaan bukan lagi sesuatu yang patut dipusingkan dalam sistem Islam beda dengan sistem kapitalisme seperti saat ini.
Kapitalisme Ideologi buatan manusia inilah jelas tamak dan serakah. Mereka menggunakan segala cara untuk menjajah semua potensi ekonomi. Krisis dan kesenjangan ekonomi yang ada saat ini pun akibat keserakahan kapitalisme yang bahkan rela menghalalkan segala cara untuk meraih keuntungan.
Jelaslah, ideologi seperti ini tidak pantas untuk kita dipertahankan lagi sudah saatnya mari kita bersama untuk campakkan sistem kapitalisme sekulerisme ini ke tong sampah.
Dan mari kita bersama berjuang untuk memperjuangkan tegaknya khilafah yang merupakan janji Allah dan akan membawa keberkahan bagi hambaNya.
Wallahu ‘alam bissawab
No comments:
Post a Comment