Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

PEREMPUAN BERDAYA SECARA EKONOMI DI SEKTOR PARIWISATA, JAMINAN SEJAHTERA?

Friday, May 17, 2024 | Friday, May 17, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:46:44Z

Oleh: Zakia Salsabila

 

Dikutip dari Suara.com, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf) Angela Tanoesoedibjo saat menyampaikan pengantar di hadapan wakil sekira 40 negara partisipan dalam The 2nd UN Tourism Regional Conference on the Empowerment of Women in Tourism in Asia and The Pacific, mengenalkan tentang tokoh kesetaraan gender Tanah Air, Ibu Kartini. Serta menyatakan pentingnya peran kaum Hawa dalam bisnis pariwisata.

Director of the Regional Department for Asia and the Pacific UN Tourism, Harry Hwang menyatakan rasa sukacita karena Konferensi Pariwisata PBB Kedua digelar di Bali. Sebuah destinasi pariwisata dengan alam dan budaya yang terkenal.

“Berdasarkan agenda 2030 PBB untuk tujuan pembangunan berkelanjutan dan kode etik pariwisata global, kami memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa pariwisata memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan dan lelaki dalam berkontribusi terhadap pencapaian kelima, yaitu mencapai kesetaraan gender,” kata Harry Hwang.

Dunia sangat getol mendorong keterlibatan Perempuan dalam dunia pariwisata sebagai upaya untuk mewujudkan kesetaraan gender. Narasi kemandirian perempuan juga terus digaungkan dan diklaim bisa mengatasi segala permasalahan perempuan, termasuk muslimah. Benarkah demikian?

Faktanya kehidupan kaum perempuan masih belum beranjak dari keterpurukan. Kemiskinan, kekerasan, diskriminasi dan persoalan-persoalan lainnya yang diklaim sebagai persoalan perempuan justru masih lekat dengan kehidupan kaum perempuan bahkan umat Islam secara keseluruhan. Sejatinya Perempuan saat ini menjadi tumbal kegagalan Sistem ekonomi Kapitalisme dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat, sehingga harus melibatkan perempuan sebagai penggerak ekonomi. Sistem kapitalisme telah menjadikan Perempuan dihargai jika menghasilkan uang.

Dalam pandangan kapitalisme, masyarakat yang ideal adalah para ibu yang menjadi wanita karir dan menitipkan anak-anak mereka di tempat penitipan. Asisten rumah tangga pun mengambil peran keibuan dan pengelola rumah tangga. Alhasil, hancurlah masa depan generasi. Banyaknya pekerja perempuan di sektor pariwisata pun sebenarnya menunjukkan negara gagal dalam menyejahterakan perempuan. Sungguh miris, dalam sistem kapitalisme lagi-lagi perempuan yang jadi korban.

Negara pun juga diarahkan dunia untuk mengembangkan sektor non strategis termasuk pariwisata, sementara sektor strategis seperti penguasaan SDA dikuasai oleh negara penjajah. Padahal upaya tersebut justru merusak fitrah perempuan, dan akan membahayakan nasib anak-anaknya, baik karena ibu bekerja maupun dampak buruk pariwisata yang berpotensi menimbulkan perang budaya.

Sementara Islam memiliki Sistem ekonomi yang Tangguh yang akan menjamin kesejahteraan rakyat termasuk Perempuan dengan berbagai mekanismenya. Perempuan tidak akan dipaksa bekerja mencari nafkah sekalipun Islam tidak melarang perempuan bekerja. Bekerjanya perempuan adalah untuk mengamalkan ilmu demi kemaslahatan umat tanpa mengabaikan fitrahnya sebagai istri dan ibu dalam rumah tangga. Alhasil, jenis pekerjaannya pun diharuskan bisa menjaga kemuliaan dan kehormatan mereka, serta fitrahnya akan dijaga dan dijamin kesejahteraannya oleh negara. Perempuan mulia dalam islam tidak diukur dari jumlah materi yang dihasilkannya.

Terkait hal ini, sistem Islam (Khilafah) tidak akan memberi sedikit pun celah jenis pekerjaan yang mengeksploitasi perempuan, apalagi mengekspos tubuh mereka. Sebagaimana sabda Nabi saw., “Telah melarang kami dari pekerjaan seorang pelayan wanita, kecuali yang dikerjakan dengan kedua tangannya.” Beliau saw. bersabda, “Begini (ia kerjakan) dengan jari-jemarinya seperti membuat roti, memintal, atau menenun.” (HR Ahmad).

Sistem Kapitalisme sangat berbeda dengan sistem Islam (Khilafah). Islam tidak mengeksploitasi perempuan untuk mewujudkan kesejahteraan bagi mereka. Politik ekonomi Islam akan menjamin pemenuhan kebutuhan dasar bagi setiap individu dengan pemenuhan yang menyeluruh. Disyaratkan bahwa pemenuhan kebutuhan itu sampai pada tataran perempuan mendapatkan pemenuhan dalam makanan, auratnya tertutupi, dan tempat tinggalnya akan terjaga. Hanya dalam naungan Islam, bekerja bagi seorang perempuan betul-betul sekadar pilihan, bukan tuntutan keadaan.

Selama kaum perempuan maupun umat secara keseluruhan masih berpegang teguh pada Sistem Kapitalisme dan merasa bahwa ini adalah solusi terbaik, maka selama itu pula keterpurukan akan terus terjadi. Oleh karena itu penegakan Khilafah harus menjadi agenda umat Islam yang harus segera terwujud. Inilah satu-satunya cara agar kaum perempuan kembali pada fitrahnya, yakni menjadi ibu generasi peradaban gemilang. Kehidupan perempuan juga tidak akan terampas dengan berbagai isu kesetaraan gender, termasuk dalam partisipasi ekonomi, salah satunya melalui pariwisata. Tidakkah kita merindukan sistem ini?

Wallaahu’alam bi ash-shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update