Oleh: Rahmatul Aini
Berdasarkan data badan pusat statistik (BPS) jumlah pengangguran di indonesia mencapai hampir 7,2 juta pada februari 2024. Jumlahnya berkurang sekitar 790 ribu orang atau yang menyusut 9,89% dibanding februari 2023 (katadata) benarkah demikian? Jika memang data berbicara tapi tidak sesuai real lapangan mengapa ini seolah menjadi apresiasi?
Ada persolan besar yang menghinggapi negri kita tercinta ini, Indonesia adalah negeri yang tersubur dengan kekayaan alam tapi tak sedikitpun masyarakat bisa menikmati, membludaknya judi online, meningkatnya TKI dan TKW sedangkan sumber daya alam negeri di kuras habis oleh para asing dan aseng.
Persoalan ini dianggap hal biasa oleh para elit konglomerat dimana kendali kuasa mereka pegang bahkan lebih miris hati para penguasa membuka pintu gerbang bagi para investor asing mengeruk kekayaan negeri, jadi hal yang wajar apabila kita menjumpai data pengangguran rendah mengalami penurunan disebabkan kouta migran makin besar, profesi baru judi online diberikan keluasan asal bayar pajak ke negara bahkan indonesia pemecah rekor judi online nomer satu, lalu masyarakat sendiri tak diberi peluang mengais rizki dalam negeri.
Ada apa sebenarnya dengan data menipisnya pengangguran? Yang seolah di desaign untuk meluluh lantakan hati masyarakat, padahal kenyataan di lapangan tak demikian. Apakah para penguasa merasa sudah membantu rakyat dengan memberikan peluang pekerjaan menjadi budak di negeri orang? Apakah para penguasa sudah merasa berjasa dengan memberi kebebasan kepada mereka yang berjudi online dengan catatan harus bayar pajak ke negara? Sungguh ini sangat memiriskan, masyarakat sengaja dimiskinkan.
Lihatlah bagaimana kehidupan para petinggi negeri hari ini memamerkan kekayaan, rumah bak istana, mereka bisa sambil memandang proyek IKN dari atas balkon, kemanapun pergi ada bekingan dibelakang, padahal rakyat sendiri terlunta-lunta hidup dibawah kolong jembatan. Inilah salah satu gambaran bagaimana para penguasa dikayakan oleh rakyat mereka sendiri, begitu sejahtera nya mereka dengan hasil keringat rakyat padahal mereka hidup dengan berkelimpahan kekayaan dari hasil kerja keras rakyat, mau tau buktinya? Dengan PAJAK karena 80% pendapatan negara itu lewat pajak, masyarakat tambah menjerit dengan pungutan pajak, betapa kejinya para penguasa menguras keringat, tenaga, rakyat dengan pajak padahal kita hidup di tanah nenek moyang kita sendiri, tapi anehnya masyarakat dipaksa membayar ke negara, masyarakat mencoba mengais rizki lewat usaha UMKM tapi sayangnya pajak yang drastis puluhan juta melebihi pemasukan, lalu dengan enaknya para penguasa meminta pajak dengan menjual slogan atas nama demokrasi dari rakyat, oleh rakat, untuk rakyat, padahal slogan itu sudah basi karena fakta yang kita temukan yang kaya makin kaya, yang miskin maskin miskin.
Mereka para penguasa dengan bahagianya hidup dalam kemewahan, merenggut hak-hak rakyat tanpa sisa sedikitpun, tambang dikuasai, SDA dimiliki pribadi, tak cukup dengan itu mereka tetap serakah meminta uang rakyat lewat pajak. Padahal ada diantara masyarakat hidup aja susah, apalagi mau gaji pemerintah, makan sehari aja penuh perjuangan apalagi mau berkorban memberi para penguasa makan, dimana letak tanggung jawab mereka sebagai penguasa?
Belum lagi dengan persoalan mahalnya biaya pendidikan, akhirnya anak-anak tidak mampu terserap oleh dunia industri karena kurangnya keterampilan, bahkan lebih parahnya walaupun berpendidikan tetap tak mampu masuk di dunia pekerjaan karena banyaknya pesaing dan output pendidikan yang tidak berkualitas, al hasil generasi banyak yang bekerja tak mengenal lagi rambu halal haram semua di lakukan (judi online, riba, menjadi wanita malam, penipuan, sewa pacar, open BO) adalah sekelumit contoh dari mereka yang mencari rizki dengan cara yang diharamkan Allah,
Ada lagi problem banyaknya generasi yang bekerja mengandalkan otot bukan otak, bertahun-tahun menjadi buruh sawit, buruh kayu, buruh tani, buruh bangunan yang tentunya nilai cuan tak sebanding seperti orang yang kerja pakai otak yang berjaz, berdasi, ruangan ber ac, tempat kantor yang aman dan nyaman. Bisa kita lihat tentu kehidupan mereka jauh berbeda. Semua disebabkan karena tuntutan ekonomi, masyarakat di tuntut harus mau dengan segala pekerjaan yang mereka jalankan jika tidak mau, siap-siap tidak bisa makan, bahkan sekarang untuk bekerja lewat cara yang haram saja masih sulit, gaji besar tapi biaya kehidupan tetap mahal, masuk sekolah, kesehatan, makanan semuanya butuh cuan. makanya masyarakat hari ini tanpa sadar mereka dimiskinkan masal oleh penguasa. Rakyat terhipnotis dengan janji manis, para penguasa tinggal memberi remehan rengginang, rakyat mengira bahwa uang yang mereka dapatkan dari bentuk tanggung jawab pemerintah memenuhi hak mereka, padahal bukan. Uang itu adalah uang mereka dari pajak yang sudah dikeluarkan itupun belum semuanya diberikan, buktinya masyarakat banyak yang belum mendapatkan bantuan dari yang terbantukan, ibarat pepatah seribu satu, berapa banyak rakyat mengeluhkan kelaparan, tidak disorot oleh bantuan, harga semua barang makin mencekik rakyat.
Memang sistem demokrasi bukan membentuk para penguasa fokus pada persoalan memberantas kemiskinan, kesehatan, kesenjangan sosial, pendidikan, fokus mereka ialah mempertahan eksistensi agar bisa mengeruk semua kekayaan negeri, jika sudah tak menjabat masih ada orang dalam memperalat anak, mantu, ipar tetap tumpuannya kepada kesejahteraan pribadi dan keluarga. Masalah rakyat nomor sekian, tinggal mengulang ritme yang sama dengan menebar janji, sogok dengan susu plus makan siang gratis.
Tentu hal ini berbeda dengan kacamata sistem islam, dimana para penguasa yang terdiri dari (kholifah, muawin tafwidh, wali, amil) mereka bukanlah abdi negara yang diupah, penguasa adalah pelaksana hukum syara’ atau orang yang melaksanakan hukum islam dengan demikian mereka tidak berhak menerima upah atas pelaksanaan tugas-tugasnya. Meskipun demikian mereka tetap mendapatkan santunan sebatas keperluan hidupnya karena mereka tidak sempat melakukan urusan-urusan pribadi mereka sendiri. Merekapun bertanggung jawab untuk mensejahterakan kehidupan setiap rakyatnya, mereka akan mengupayakan lapangan pekerjaan untuk menopang kehidupan rakyat, tak hanya itu para generasi akan di cetak lewat kurikulum islam mumpuni dari segi tsaqofah islam, ilmu pengetahuan sains dan teknologi, mereka ditekunkan lewat bidang keahlian masing-masing, sehingga kemampuan mereka diasah dan mampu terampil dalam dunia industri. Mereka akan menjadi para pekerja yang hanif, jujur, sholih, bertakwa, beradab. Menjadi dokter yang bisa bahasa arob, polisi yang hafidz Quran, pilot yang bisa tafsir hadits. Semuanya indah ketika al quran menjadi undang-undang, menjadi pijakan dalam setiap sistem kehidupan.
Hari ini kita jumpai pemimpin yang serakah, tidak adil, tidak jujur, masyarakat yang kian hari menjerit, terbelenggu dalam kemiskinan dan kebodohan, terperosok dalam lembah perzinahan dan riba, semuanya diakibatkan pada tumpuan hidup yang tidak mencontohkan Rasulullah saw sebagai teladan, keliru menjalankan road met hidup.
Sudah seharusnya kita kembali kepada islam yang kaffah, menjadikan setiap isi Al Quran dalam peraturan berkehidupan, islam bukan hanya sebatas bacaan, pelajaran, kisah, tapi lebih dari itu esensinya adalah sebagai dustur undang-undang. tidakkah kita berfikir kehidupan yang sempit dan kemelaratan yang menimpa ummat hari ini disebabkan jauhnya penerapan Al Quran dalam kehidupan?
Telah tampak kerusakan didarat dan dilaut disebabkan perbuatan tangan menusia, Allah mengendaki agar mereka merasakan sebagian akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar. (TQS As Syuara’: 49)
Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, hukum siapakah yang lebih baik dari pada hukum Allah bagi orang-orang yang meyakini agamanya. (TQS Al Maidah:50)
Wallahualam.
No comments:
Post a Comment