Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Makan Siang Gratis, Benarkah menjadi Investasi SDM untuk Lepas dari Middle Income Trap?

Sunday, April 14, 2024 | Sunday, April 14, 2024 WIB


Oleh Ummi Nissa

Pegiat Literasi



Program makan siang gratis yang diusung kubu Prabowo-Gibran dalam pilpres beberapa waktu lalu menjadi program andalan yang cukup menarik perhatian publik. Bahkan dikutip dari nasionalkompas.com, 7 April 2024, Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar sekaligus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, mengaitkan program makan siang gratis sebagai investasi SDM yang sangat penting agar menjadi sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Menurutnya, hal ini  dapat membawa Indonesia lepas dari middle income trap. Benarkah demikian?


Istilah middle income trap (perangkap pendapatan menengah) mengacu pada situasi di mana suatu negara telah mencapai tingkat ekonomi menengah, tetapi sulit untuk terus tumbuh dan naik ke level yang lebih tinggi yakni menjadi negara maju. Ini terjadi karena negara tersebut mengalami berbagai kendala seperti kurangnya inovasi, rendahnya produktivitas, kesenjangan sosial-ekonomi, dan masalah lingkungan.


Negara-negara yang jatuh ke dalam perangkap ini cenderung mengandalkan sektor manufaktur dengan upah murah sebagai sumber pertumbuhan ekonomi utama mereka. Namun, seiring waktu, biaya tenaga kerja meningkat dan persaingan global semakin ketat sehingga membuat sulit bagi negara-negara tersebut untuk tetap kompetitif.


Indonesia termasuk salah satu negara yang ada dalam kondisi tersebut. Untuk itu, upaya yang dilakukan oleh pemerintahan adalah mendorong inovasi teknologi dan peningkatan kualitas SDM agar dapat bersaing di pasar global.


Namun demikian, meningkatkan kualitas SDM sejatinya tidak hanya dari konsumsi makanan saja. Namun dipengaruhi oleh banyak hal, di antaranya sistem pendidikan, kesehatan secara fisik juga mental,  dan lain-lain.


Faktanya hari ini, untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas sangatlah mahal. Banyak anak yang putus sekolah yang akhirnya tidak memiliki pengetahuan dan skill yang handal untuk dapat bersaing secara kompetitif di dunia usaha. Di samping itu, pendidikan saat ini lebih menitikberatkan pada pencapaian materi (ilmu pengetahuan yang bersifat duniawi), minim dari pendidikan agama. Sehingga melahirkan generasi-generasi yang bermental rapuh.


Semetara di sisi lain, posisi Indonesia di Middle income  trap bukan semata karena kualitas SDM yang  rendah. Ada banyak faktor lain yang juga berperan, termasuk sistem ekonomi yang digunakan. Sistem ekonomi kapitalisme liberal saat ini melahirkan ketidakadilan secara ekonomi. Kesejahteraan hidup hanya dinikmati oleh pemilik modal. 


Terbukti jika ada individu yang memiliki skill dan pengetahuan yang unggul tapi jika tidak didukung dengan modal besar, kesempatan untuk membuka usaha sangat sulit, pada akhirnya kesejahteraan hanyalah angan-angan. Bukti lain Indonesia sulit keluar dari posisi middle income trap, karena secara global negara negara besar seperti USA, Cina, Inggris, Jerman, dan lain-lain, merekalah yang pada hakikatnya sebagai pemilik modal. Meski Indonesia memiliki SDA yang melimpah, tetapi saat tidak didukung dengan modal dan kemampuan untuk mengelola, maka rakyat tidak dapat merasakan kesejahteraan. Oleh karena itu, hampir semua kekayaan alam dikuasai dan dikelola oleh pihak swasta dan asing.


Selain itu, realisasi program makan siang gratis ini sejatinya masih menjadi pertanyaan, mengingat besarnya peluang  korupsi atas  program negara hari ini. Sebab program tersebut akan melibatkan banyak pihak saat  menyalurkan dana dari pusat sampai ke rakyat yang berhak sangat memungkinkan rentan dengan korupsi. Hingga hal ini justru  akan makin menjauhkan terwujudnya target untuk meningkatkan kualitas SDM. 


Dengan demikian, sumber masalahnya hari ini terkait dengan rendahnya kualitas SDM, bukan hanya hanya tataran teknis, tetapi lebih kepada sebuah sistem kehidupan yang diterapkan saat ini.


Penerapan sistem kehidupan kapitalisme  sekularisme hari ini telah memisahkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehingga melahirkan prinsip kebebasan, baik dalam berekonomi, pendidikan maupun, politik.


Program makan gratis sejatinya hanyalah solusi parsial untuk meningkatkan kualitas SDM. Padahal, akar penyebabnya bersifat sistemik. Oleh karenanya yang diperlukan juga solusi yang bersifat sistemik. Perlu perubahan sistem secara menyeluruh untuk menghasilkan kualitas SDM yang unggul sekaligus keluar dari kondisi middle income trap menjadi negara maju. Solusi sistemik tersebut hanyalah sistem Islam saja, mengapa? Karena Islam adalah agama yang sempurna dan memiliki solusi terhadap setiap permasalahan manusia. 


Dalam aturan Islam,  negara wajib menjamin terpenuhinya semua kebutuhan pokok rakyat seperti sandang, pangan, dan papan, termasuk pendidikan. Negara wajib menyelengarakan pendidikan secara murah dan terjangkau oleh rakyat supaya anak- anak dapat mengenyam pendidikan formal, dan hingga terwujud generasi berkualitas. 


Untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan, maka negara memiliki beragam mekanisme untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan tersebut, bisa direalaisasikan secara langsung dan tidak langsung. Dengan terpenuhinya kebutuhan pokok ini, maka rakyat akan mendapatkan kesejahteraan dan kehidupan yang layak.


Selain itu, negara juga wajib menjalankan   seluruh aturan secara menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan, termasuk sistem ekonomi, politik, dan lain-lain. 


Dengan penerapan sistem pendidikan dan sistem ekonomi Islam, akan menjamin terwujudnya generasi berkualitas dan juga berkepribadian mulia.


Masa dulu, Islam memiliki generasi yang kuat fisik dan mentalnya serta berkepribadian mulia. Mereka memiliki ilmu pengetahuan yang mumpuni dan kemampuan yang handal dalam seluruh aspek kehidupan, disertai dengan landasan keimanan yang kuat terhadap Rabb-Nya hingga terwujud peradaban gemilang.


Profil generasi Islam yang kuat baik secara fisik maupun mental disertai kepribadiaan yang mulia akan mudah terwujud dengan diterapkannya sistem Islam dalam seluruh aspek kehidupan.


Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update