Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Banjir Akibat Kapitalisasi, Bisakah diakhiri?

Sunday, January 21, 2024 | Sunday, January 21, 2024 WIB


Oleh; Riska umma Hamzah 


Akhir-akhir ini curah hujan di berbagai wilayah semakin meningkat, yg menyebabkan bencana alam termasuk didalamnya adalah banjir dan longsor yang melanda Musi Banyuasin, Muara Enim, pali,  Prabumulih dan yang terparah banjir yang melanda Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) yang merendam 20 ribu rumah warga sampai hari ini debit air terus meningkat. Ada 2 kecamatan yang masih tergenang air dengan ketinggian kurang lebih 2 meter. Dua kecamatan yang terendam banjir tersebut yakni Kecamatan Karangdapo, dan Kecamatan Rawas Ilir, detiksumbagsel,Sabtu (13/1/2024).


Jika kita kutip perkataan Prof. Dr. -Ing. Fahmi Amhar, banjir bukan sekedar fenomena alam.  Fenomena alamnya adalah hujan.  Tetapi hujan belaka tidak otomatis menyebabkan banjir.  Untuk menjadi banjir, debit air yang berasal dari hujan dan limpahan daerah hulu, harus lebih besar dari “kredit air”, yaitu air yang meresap, menguap atau dibuang.  Oleh sebab itu, agar tidak banjir, teknologi yang dapat dikembangkan adalah bagaimana mengendalikan peresapan dan pembuangan air.”


Selain karena ketetapan Allah SWT, terjadinya hujan bencana ini tidak lain karena ulah manusia. Manusia rakus yang mengumbar hawa nafsunya ingin memiliki lebih dan merasa menguasai alam jagad raya, Mengambil sepuas nafsunya. Allah SWT berfirman dalam Al Qur'an Surat Al Baqarah ayat 11 dan 12



"Dan apabila dikatakan kepada mereka, Janganlah berbuat kerusakan di bumi! Mereka menjawab, Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan." (TQS. Al-Baqarah 2: Ayat 11)



"Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari." (TQS. Al-Baqarah 2: Ayat 12)


Dari dua Ayat ini menegaskan bahwa kejadian bencana yang terjadi di negeri ini disebabkan oleh ulah tangan manusia. Berawal dari enggan untuk berhukum dengan hukum Allah SWT. Yakni Hukum mulia yang bersumber dari Al Qur'an, hidist, Ijma'sahabat, dan qiyas. Dan mereka lebih memilih hukum buatan sendiri.


Padahal mereka membuat aturan-aturan dan perundang-undangan hanyalah demi kepentingan para kapitalis yang senantiasa haus dunia. Dengan hukum tersebut, kaum Kapitalis leluasa untuk merampok sumber daya alam dan memeras keringat rakyat kecil.


Maka jelas di balik terjadinya bencana secara beruntun tidak lain ulah para Kapitalis dan penguasa boneka yang menjadi tangannya. Mereka telah membabi buta merusak bumi demi mendapatkan keuntungan yang melimpah. Mengubah hutan yang dipenuhi pepohonan menjadi perusahaan yang dibidang perkebunan. Merusak pegunungan dengan menggali demi mendapatkan sumber daya alam.


Dengan demikian, Alam yang di rusak menjadi tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Pepohonan yang seharusnya menyimpan dan mengolahnya menjadi uap, telah mereka tebang secara membabi buta. Akhirnya tanah tidak dapat menyimpan air dan terjadilah banjir dan tanah longsor.


Di sisi lain, Allah SWT memperingatkan atau bahkan murka. sebab manusia telah berbuat durhaka dengan menyandingkan hukum buatan sendiri dengan Hukum NYA. Dan dengan hukum tersebut hanyalah demi merusak alam dan mendzalimi yang lainnya.


Olehkarena itu, buang dan campakkan sistem demokrasi yang dijadikan alat oleh kaum Kapitalis untuk merusak alam dan tatanan kehidupan. Dan selanjutnya kembali kepada sistem Islam yang telah terbukti merawat alam dengan sebaik-baiknya. Memanfaatkan Sumbar daya alam untuk kesejahteraan umat manusia.


Dengan sistem Islam insya Allah kesejahteraan, ketentraman, kedamaian, keadilan dan segala kebaikan akan terwujud. Sebab sistem ini murni hanya menjalankan syariat Islam secara total.


Wallahua'lam bishowwab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update